Home Artikel Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah

Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah

69
0
Sumpah Orang Muda
Youtube

Minggu 28 Oktober 2018 bangsa Indonesia akan mengenang kembali petistiwa 90 tahun silam. Peristiwa pada 28 Oktober 1928 yang mengukir nasionalisme kaum muda untuk menggapai cita-cita Indonesia merdeka.

Nasionalisme Indonesia ditunjukkan oleh orang muda jauh sebelum Indonesia merdeka. Nasionalisme orang muda yang tentu saja bukan sebuah dagelan, angan-angan belaka, tetapi sungguh sebuah cita-cita yang mau diperjuangkan. Cita-cita Indonesia merdeka yang mau direbut dari tangan kaum penjajah.

Sumpah Jiwa dan Raga

Untuk menggapai cita-cita luhur Indonesia merdeka, kaum muda merapatkan barisan dan menyatukan semangat. Semangat itulah yang mereka tuangkan dalam sebuah sumpah.

Semangat kaum muda untuk mendirikan sebuah tanah air yang bebas dari penjajahan melahirkan sumpah “bertanah air satu” Indonesia. Semamgat untuk menghimpun diri dalam sebuah bangsa melahirkan sumpah “berbangsa satu” Indonesia. Dan semangat untuk menyatukan rasa dan cara bertutur yang dapat dimengerti oleh semua satu bangsa melahirkan sumpah “satu bahasa” Indonesia.

Tiga sumpah yang penuh makna nasionalisme, penuh napas heroik itu yang saat ini kita kenang sebagai Sumpah Pemuda. Betapa luhurnya jiwa raga para pemuda di masa itu. Mereka dengan caranya mengambil bagian untuk mencapai kemerdekaan dan mendirikan sebuah tanah air, sebuah bangsa dan satu bahasa Indonesia.

Sumpah Serapah Menjijikkan

Sungguh berbeda karakter orang muda di era 1928 dengan karakter sebagian orang muda masa kini. Ketika diskusi tentang beda karakter orang muda tempo dulu dan sekarang, banyak yang ngakak tertawa sambil berteriak, lain dulu lain sekarang. Dulu masih kuno, sekarang sudsh modern. Dulu yah dulu, sekarang yah sekarang. Jaman sudah berubah.

Mungkin benar, jaman sudah berubah. Lalu nasionalisme Indonesia yang bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu pun ikut tergerus. Yang kini lebih menonjol adalah tampilmya sebagian orang muda yang lebih membela kelompoknya, agamanya, sukunya, kampungnya. Bila perlu membunuh demi kelompoknya.

Fanatisme kelompok yang berlebih-lebihan telah melahirkan orang muda dengan katakter brutal, kejam, tak berperikemanusiaan. Lihat saja para suporter bola yang tak segan membunuh suporter lainnya demi fanatisme klub yang berlebihan. Ini cuma salah satu contoh dari sekian banyak peristiwa memilukan.

Mari menengok media sosial. Kita pun akan terperangah membaca komentar, status, statemen dan lai -lain bentuk ungkapan yang bernada sumpah serapah, menghina, memfitnah, menyebarkan berita bohong dan sebagainya. Sungguh menyedihkan. Jika orang muda di era 1928 bersumpah bertaban sir satu, berbangsa satu, berbahasa satu, maka sebagian orang muda saat ini bersumpah serapah, siap jadi pembela bagi agama, kelompok dan golongannya, bila perlu dengan membunuh sesama, anak satu bangsa, satu tanah air, yang bicara dalam bahasa yang sama dengannya, bahasa Indonesia. Dirgahayu Bulan Bahasa Indonesia. Mari kita menjadi seratus persen INDONESIA.

AGUST G THURU
Stasiun Jenar, 26 Oktober 2018