Home Renungan Harian Paenitemini et Credite – Bertobat dan Percaya

Paenitemini et Credite – Bertobat dan Percaya

262
0
Korazim
Kota Tua Korazim. Photo: http://www.attractions-in-israel.com

Jumat, 05 Oktober 2018
Jumat Pertama
Pekan Biasa XXVI
¤ Ayb. 38:1,12-21 – 39:36-38
¤ Mzm. 139:1-3,7-8,9-10,13-14ab
¤ Luk. 10:13-16

“Paenitemini et Credite”
~ Bertobat dan Percaya ~
Bertobat dan percaya dapat dipahami sebagai “dua sisi dari koin yang sama”. Tidak mungkin beriman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat tanpa terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan. Jadi bertobat dalam kaitannya dengan keselamatan berarti perubahan pola pikir dan mendekatkan hidupnya dengan Yesus Kristus dan membuahkan perubahan pola sikap dan tingkah laku.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengecam (‘celakalah’) umat di kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum yang semua kota itu berbatasan dengan .danau Galilea, di mana sebagian besar pekerjaan besar Yesus dilakukan, artinya mereka adalah orang-orang yang menikmati banyak rahmat istimewa karena mujizat Ilahi telah terjadi di tengah mereka.
Dengan segala mujizat ini, mereka sebenarnya dinaikkan sampai ke langit, dimuliakan, dihormati dan ditempatkan di jalan yang menuju kebahagiaan. Namun mereka tidak percaya artinya mereka menolak dan menyangsikan kasih dan keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus dan tidak mau bertobat.

Adapun sikap yang membuat mereka ‘tidak mau bertobat’ dan ‘tidak percaya’ antara lain karena:

1. Kesombongan
Kesombongan dan keangkuhan hati ini tidak akan memberikan kebahagiaan dan hidup berkeutamaan. Karena mereka hidup hanya mengandalkan kekuatan dan prinsip hidup diri sendiri sehingga tidak hidup mengandalkan dan bergantung kepada Tuhan.
Di sinilah kita diajak untuk belajar rendah hati dihadapan Allah bahwa sesungguhnya kita sangat bergantung dan membutuhkan rahmatNya.

2. Ketidak-pedulian
Ketidak-pedulian akan hal-hal rohani berarti tidak mau hidup secara rohani melainkan melulu hidup secara duniawi.
Di sinilah kita belajar bahwa hidup duniawi akan menyeret kita menjalani hidup menurut ukuran dan prinsip kebenaran dunia; yang bertolak belakang dengan prinsip kebenaran Allah. Hidup duniawi berorientasi pada hal-hal dunia yang sarat dengan pengejaran kenikmatan dunia yang berlumuran hawa nafsu kedagingan.

Saudaraku, marilah kita renungkan hal ini dengan rendah hati:
Apa yang kita baca, renungkanlah!
Apa yang kita renungkan, hidupilah!
Apa yang kita hidupi, wartakanlah!
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senatiasa menyertai kita sekeluarga yang bertobat dan percaya. Amin.