Home Berita Peserta Lintas Agama Hadiri Seminar Forum Kerukunan Umat Beragama Di Ngada

Peserta Lintas Agama Hadiri Seminar Forum Kerukunan Umat Beragama Di Ngada

473
0

Focus Indonesia News – Forum Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Ngada kembali mengangkat tema “Media Sosial Untuk Perdamaian dan Kerukunan” dalam seminar yang berlangsung di Aula Yayasan Persekolahan Umat Katolik atau YASUKDA, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (29/10/2018).

Seminar ini dihadiri utusan berbagai unsur, di antaranya dari unsur tokoh Agama, Pemerintah, Masyarakat, Tokoh Pemuda, utusan TNI dan POLRI, utusan Guru-Guru dari setiap sekolah, utusan Pelajar tingkat SLTA, Tokoh Wanita, Pimpinan Ormas serta para Wartawan media cetak dan media elektronik.

Pantauan wartawan media ini di Kota Bajawa (29/10/2018), seyogyanya acara dibuka bersama Ketua FKUB, Romo Yosef Daslan Moang Kabu, Pr yang juga sebagai Vikep Bajawa, namun berhalangan sehingga dibuka oleh pejabat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada, Yohanes Ase.

Beberapa Narasumber yang hadir dalam kesempatan ini di antaranya RD. Silverius Betu yang bertugas di Yasukda Ngada, Pdt. Mercury Sine, Ustad Hasan, Pak Agung Artanaya sebagai Ketua PHDI Kabupaten Ngada, RP. Alfonsius Duka, SVD yang bertugas di Ledalero – Maumere dengan Pastor Remigius Todang, OCD yang merupakan utusan dari Paroki St. Yosef Bajawa sebagai moderator dalam seminar ini.

Dikutip media, Romo Silverius Betu, menegaskan tema seminar berazaskan ajaran kitab suci dan ajaran Tuhan Yesus tentang perdamaian “Jadilah Aku Pembawa Damai”. Hakekat media sosial, kata dia, seharusnya membawa hal komunikasi yang positif atas dasar kasih, seperti yang diajarkan Kristus sendiri. Intinya media sosial dijalankan dengan jujur, tanggungjawab dan penuh kasih. Perdamaian dan kerukunan harus menjadi tindakan nyata.

Sementara itu Pdt. Mercury Sine, mengaskan hal mendasar adalah mulai dari pribadi masing-masing untuk bisa menunjukkan sikap toleransi dan kerukunan baru bisa terjadi dalam kehidupan sosial. Terkadang hanya karena ego kerukunan dan perdamaian menjadi rusak. Media Sosial seharusnya menjadi wadah untuk menjalin hubungan yang sehat dan baik dengan sesama. Medsos harus mampu menginformasikan hal-hal yang positif bukannya menjadi sesuatu yang memprovokasi antar sesama. Medsos harus menjadi wadah perdamaian dan kerukunan.

Pada kesempatan yang sama, Ustad Hasan menyampaikan bahwa Medsos terkadang membohongi manusia dan sesamanya. Banyak berita hoax yang cenderung dilakukan oleh sekelompok orang yang selalu mengunggah hal-hal yang bersifat provokatif serta mengganggu kehidupan sosial beragama. Ada Mitos yang belum tahu kebenarannya bisa menyebabkan salah arah dan salah paham. Dalam kesempatan yang sama Ustad mengajak persatuan dan kesatuan serta toleransi dijadikan sebagai dasar dalam menjaga kerukunan umat beragama, khususnya di wilayah Kabupaten Ngada.

Lebih lanjut, Agung Artanaya dalam paparannya menyebutkan, menurut ajaran Agama Hindu, mengajak pencermatan yang jeli dan cerdas dalam melihat dan menyimpulkan sesuatu yang terpublikasi agar mampu menilai dampak positif dan negatifnya. Medsos, tambah dia, harus mampu mempererat hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya serta manusia dengan lingkungannya (Tri Premana). Sebaiknya sebelum ber-Medsos kita harus berpikir, bertindak dan berbicara yang positif.

Berikutnya, terhadap perkembangan media sosial, Pater Alfons dalam penjelasannya menguraikan sejumlah hal terkait sistem dan mekanisme media berbasis internet dan potensi provokatif untuk kejahatan.

Pembuat akun akan berupaya membuat situs-situs ilegal untuk menyebarkan berita bohong dan menyebarkan ujaran kebencian.

Ditambahkan, ada hal-hal terkait karakter media sosial antara lain virtual (maya), tak terhingga, anonimitas, berjejaring, ideologi, obsesi, krisis otoritas, politik identitas, kecanduan.

Dan dari kesemua hal ini siapapun bisa bersuara, mengkritik, menghujat, memfitnah dan hal negatif lainnya. Intinya ini era medsos, maka tujuan medsos sebaiknya untuk saling membangun tali persaudaraan dan kerukunan. (Ichad/ Red/).