Home Berita Menjadi Berkat bagi Dunia

Menjadi Berkat bagi Dunia

527
0
25 Tahun Imamat Pastor Kus Aliandu
Perarakan menuju lokasi Ekaristi 25 Tahun Imamat Pastor Kus Aliandu

Anselmus D. Atasoge
Komunitas Studi Kreatif Lintas Iman Flores

Tepat pukul 09.00 Wita, diiringi tarian ‘muro ae’, tarian khas Flores Timur, rombongan para imam konselebran memasuki tenda sukacita bersama yubilaris perak imamat, Pastor Fransiskus Aliandu, Pr, di Taman Felix Fernandez, Kota Larantuka, Jumad/12/10/2018.

Turut hadir dalam perayaan syukur ini Bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon, ST, Ketua DPRD Flores Timur Yosef Sani Betan dan sejumlah kepada SKPD Kabupaten Flores Timur beserta ribuan umat Katolik Paroki Katedral Larantuka dan puluhan kaum kerabat Muslim sekota Larantuka.

Dalam kata pembukaan ekaristi, Pastor Kus Aliandu mengingatkan kepada segenap umat yang hadir bahwasanya perayaan ini merupakan sebuah ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah imamat yang telah diterima dan dijalankannya selama dua puluh lima tahun.

Pastor Kus ditahbiskan menjadi imam pada 29 September 1993 di Gereja Paroki Katedral Larantuka oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD. Pada momen ini, Pastor Kus yang kini berkarya di Keuskupan Padang, Sumatera Barat juga mengajak segenap umat untuk mensyukuri anugerah ‘imamat umum’ yang diterimakan kepada segenap umat Katolik. Syukur atas anugerah imamat ini menjadi sebuah sukacita tersendiri tersebab, sang Yubilaris telah memandang tugas dan karya perutusannya sebagai berkat bagi manusia dan dunia.

Pastor Fransiskus Xaverius Hurint memperdalam refleksi imamat Pastor Kus ini dalam kotbahnya. “Dengan rahmat sakramen imamat ini, seorang imam diperanakkan Tuhan secara baru, dipilih dan disucikan, dikonsekrirkan untuk menjadi alat di tangan Tuhan, sebagai penyalur berkat dan rahmat bagi sesama,” tegas Pastor Fransiskus Hurint.

Ikhtiar menjadi penyalur berkat dan rahmat itu bersumber dan senantiasa berkiblat pada Kristus yang telah memanggil dan mengutus pada imamNya. Hal itu mencapai kepenuhannya ketika sang imam senantiasa mengindentifikasikan dirinya dengan Kristus. “Dua puluh lima tahun lalu, bahkan sejak mulai masuk seminari, Yubilaris mulai belajar mengindentifikasikan diri dengan Kristus. Dan masih sampai saat ini, proses pengidentifikasian diri itu sudah dan akan terus terjadi,” kata Pastor Hurint yang pernah bersama Pastor Kus berkarya di Keuskupan Padang selama 5 tahun.

Pastor Kus memilih moto imamatnya dari penggalan kata-kata dalam Surat kepada Orang Ibrani, “Anakku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Di mata Pastor Hurint, moto ini menjadi cita-cita, obsesi, motivasi, idealisme dan orientasi dalam melaksanakan karya pelayanan, sembari menyelaraskan hidup pribadi dan mengidentifikasikan diri dengan Kristus, Sang Imam Agung.

“Moto ini yang menggerakkan Romo Kus untuk hidup sebagai imam Tuhan, menjalankan tugas imamat dengan sepenuh hati, dengan segenap pikiran, dengan segenap perasaan dan dengan segenap tenaga dan kekuatan sampai garis akhir, apapun taruhannya,” tegas Pastor Hurint. Di hadapan para imam, biarawan-biarawati dan para frater, Paus Yohanes Paulus II yang kini telah digelari ‘Santo’ ketika mengunjungi Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, 11 Oktober 1989, mengatakan: “Sebagai imam Anda akan mengalami secara intensif paradoks misteri paskah: Anda akan diidentifikasi seperti Kristus yang mengalahkan maut dengan kematian; Anda harus mengatakan dengan kata-kata dan teladan hidup bahwa untuk memperoleh nyawa, seseorang harus kehilangan nyawanya sendiri.”

Kata-kata Santo Yohanes Paulus ini kiranya menggerakan hati para imam yang menerima anugerah imamat khusus dan para orang beriman Katolik yang menerima anugerah imamat umum untuk senantiasa hadir dan menjadikan dirinya seperti Kristus: menjadi berkat dan tanda keselamatan bagi manusia dan dunia.