Home Suara Redaksi Kebakaran Beruntun Kampung Adat Di NTT Atau NTT Dalam Lingkaran Api Kejahatan

Kebakaran Beruntun Kampung Adat Di NTT Atau NTT Dalam Lingkaran Api Kejahatan

799
0

Suara Redaksi

Satu Waspada Kecil. Sebuah Tulisan Singkat. Bukan Opini dan Jurnal. Tiga kebakaran hebat sudah menghiasi sejarah Provinsi Nusa Tenggara Timur di saat NTT menapak era baru. Catatan itu di antaranya, Kampung Adat di Ngada ludes terbakar, berikutnya Sumba dan pada Senin, 29 Oktober 2018 tiba gilliran Kampung Adat Nggela di Kabupaten Ende Pulau Flores. Terbakar. Atau Dibakar? Hanya Tuhan yang tau.

Tidak dapat disimpulkan namun dapat ditegaskan, NTT harus melakukan perjalanan pencarian secara tajam dan bersih.

Minimal terjawab “Kebakaran sebagai Musibah, biarlah murni musibah. Siapa yang bisa menghentikan musibah? Tidak ada. Hanya Tuhan.”

Sebaliknya yang tidak diinginkan adalah Kebakaran sebagai kejahatan manusia dan atau skenario kepentingan yang jahat menyaksikan tangisan musibah.

Jika Iya, maka terkutuklah.

Setuju tidak setuju, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur, Yoseph Nae Soi adalah paketan pemimpin yang tengah berjuang menjadikan Pariwisata sebagai roh, model dan mesin gerak Nusa Tenggara Timur.

Mencengangkan juga bahwa rentang waktu kebakaran justeru ketika Kedua Pemimpin ini tengah sibuk merintis gerakan konstruktif dan cerdas, gencar promo Pariwisata dan Budaya NTT.

Hal yang tidak boleh terjadi adalah niat luhur Pemimpin NTT dikadoi kejahatan super modern. Operasi kejahatan yang tidak bertanggungjawab mewarnai semuanya dengan drama ingusan, bumi-hangus titik-titik penting dunia pariwisata budaya yang sungguh bernilai sejarah, bernilai sangat tinggi, lalu hanya mau menyisahkan yang tersisa.

Kejahatan diuntungkan.

Pertama, jika lemah advokasi secara utuh, maka gencar pariwisata begitu telak dieksploitasi habis-habisan. Ujung permainan adalah anggaran perbaikan, proyek pekerjaan yang mumpung didukung energi paket pemimpin. Ironis. Semoga tidak demikian wajah iman kita dalam peta realita kontemporer. Jika demikian, maka hanya ada satu kata yakni: terkutuk.

Niat luhur Pemimpin dan Rakyat NTT harus anti diperalat oleh topeng jahat melalui dagelan seni konyol berbaju kejahatan, yang harusnya tidak pernah boleh ada dan tidak boleh terjadi pada peradaban manusia di dunia, hamba Tuhan.

Kedua, jika iya, maka paketan kejahatan lainnya adalah sedang terjadi ledakan tertawaan besar dialamatkan kepada NTT Era Baru sebab telah usai dan sukses bumi hangus. Berikutnya NTT ditantang bagaimana menata ulang mulai dari Titik Nol.

Tulisan pendek ini tidak bermaksud menuduh, sebab tidak ada yang disangka.

Namun jelas untuk mendukung keluhuran NTT Era Baru, sekaligus menitip aspirasi, waspada NTT.

Nusa Tenggara Timur jangan mudah disuguhi kesimpulan prematur. Agar musibah adalah musibah dan kejahatan tetaplah kejahatan.

NTT hari ini seolah dituntut membedah akurat untuk menyebut musibah. NTT saat ini juga didesak oleh alam, untuk tidak sekedar menulis “Pray For”.

Melainkan mengidentifikasi total, memeriksa seluruh fakta dan ataupun dibalik fakta sebagai unsur-unsur do’a, untuk menulis Pray For…..

Sesungguhnya, jauh sebelum ini semua, naluri alamiah warga untuk mitigasi bencana kebakaran kampung budaya, patutlah diacungi jempol.

Naluri itu lahir dan berjalan alamiah dari tradisi dan kesakralan leluhur, sangat kokoh dalam tempo sejarah yang sangat panjang. Hasilnya pun deretan kampung adat terlestari dan jiwa-jiwa ter-selamatkan – asset warga dan peradaban terpelihara.

Kini nyaris bisa dikata, seolah bumi ini tengah berputar menemui paket musibah.

Tiga Kampung Adat dengan nilai budaya sangat tinggi dan dikenal hingga dunia internasional, seketika ludes, hangus, terbakar.

Apabila musibah, ya itulah musibah. Marilah kita merenung. Kita sepakat atas semua ini Tuhan tak sekalipun berkedip.

Namun apabila tidak, celaka dan NTT waspada.

Kebakaran Beruntun Kampung Adat Di NTT atau NTT Dalam Lingkaran Api Kejahatan.

NTT bisa. Kita Bisa. Kita Bangkit. Ngada, Ende, Sumba Bergerak. Bangkit.!!!