Home Berita HUT ke-70 GPIB: Pemuda Gereja Harus Menjadi Provokator Damai

HUT ke-70 GPIB: Pemuda Gereja Harus Menjadi Provokator Damai

562
0

Focus Indonesia, Jakarta news – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 GPIB pada 31 Oktober 2018, Dewan GP GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat) dan Departemen GERMASA GPIB menilai penting untuk merayakan secara khusus dengan menjadikannya sebagai momentum refleksi keberadaan GPIB saat ini dan ke depan.

Berdasarkan Press Release yang diterima redaksi (27/10) diterangkan, bertepatan dengan itu, setiap tanggal 28 Oktober Bangsa Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum besar Bangsa untuk merenungkan kembali Nasionalisme Indonesia di tengah tantangan terkini dan yang akan datang.

Merefleksikan kedua momentum ini secara bersamaan merupakan suatu langkah penting bagi Pemuda-Pemudi GPIB melalui kegiatan study meeting dengan tema “Potensi dan Tantangan Pemuda Dalam Rangka Pembangunan Indonesia Berlandaskan Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika”.

Hadir sebagai Narasumber dalam agenda ini, Ketua Umum GMKI Periode 2018-2020, Korneles Galanjinjinay, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie dan Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antar Agama & Peradaban, Pdt. Jacky Manuputty.

“Pemuda Gereja terlalu banyak diam, menjadi silent majority daripada isu-isu dan masalah intoleransi. Pemuda Gereja perlu mengkonsolidasikan kekuatan untuk melawan isu-isu hoax dan masalah-masalah intoleransi. Pemuda Gereja harus menjadi Garam dan Terang Dunia lewat keaktifannya dalam proaktif berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua elemen kebangsaaan untuk menjaga Indonesia dari serangan radikalisme dan terorisme”, kata Korneles Galanjinjinay.

Sementara Grace Natalie mengungkapkan bahwa Pemuda Gereja tidak boleh alergi politik karena politik adalah jembatan menuju keadilan dan perdamaian.

“Saya terinspirasi dengan Ahok dan Jokowi untuk berjuang mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian melalui jalan politik”, ujar Grace .

Selanjutnya, Pdt. Jacky Manuputty selaku Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antar Agama & Peradaban mengungkapkan, Pemuda Gereja harus menjadi provokator damai. Bukan provokator hoax.

Ditambahkan, Pemuda Gereja harus mampu menggerakkan masyarakat untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan melalui instrument sosial media. Contoh salah satunya Gerakan Save, yang mampu mempengaruhi kebijakan dan kuasa politik-pemerintahan.

Dirahapkan bersama rangkaian kegiatan study meeting, tercipta penguatan persekutuan dan pergerakan pemuda GPIB melalui upaya mengidentifikasi potensi dan tantangan masing-masing serta melakukan analisas sosial peta situasi dan kondisi pemuda GPIB pada umumnya. (sumber Press Release / red)