Home Artikel Hati-Hati, Pengakuan Ratna Sarumpaet Bisa Menjadi Kebohongan Baru!

Hati-Hati, Pengakuan Ratna Sarumpaet Bisa Menjadi Kebohongan Baru!

1122
0

Oleh: Anthony Tonggo (Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta)

SETELAH Ratna mengaku sebagai pencipta hoax, semua orang pun percaya bahwa itu sudah tamat dramanya.

Menurut saya, drama itu bisa saja sudah tamat, tapi bisa juga belum tamat. Tamat atau tidaknya harus diukur dari motif awalnya

JIKA motifnya untuk melindungi dirinya takut dicap orang sebagai wanita tidak percaya diri dengan wajah aslinya, maka pengakuan Ratna itu bisa pertanda berakhirnya drama itu. Namun kalau motifnya politik, maka pengakuan Ratna belum mengakhiri drama itu. Justru pengakuan itu sebagai cara darurat (karena sudah terjepit) untuk mengamankan tujuan utama politik.

Ada indikasi bahwa pengakuan Ratna “sebagai pembohong” itu pun sebuah kebohongan.

Penjelasannya begini:

1. Pengakuan diri bersalah itu bukan karakter Ratna yang kita kenal selama ini. Ratna biasanya penyerang total ke pihak lain, tapi kalo ini Ratna menyerah total. Kali ini kelihatannya bukan Ratna.

2. Tidak ada pihak Prabowo-Sandi yang mengutuk Ratna. Mereka cuma menyesal, minta maaf, pecat Ratna.

Jika skenarionya menuju politik pilpres 2019 untuk Prabowo-Sandi, maka pengakuan Ratna itu bisa sebagai cara darurat untuk menghilangkan jejak skenario besar yang sesungguhnya sebagai desain besar sebuah tim.

Makanya, untuk mengungkapkan kasus itu hingga tuntas dan menjadi pembelajaran bagi semua orang agar tidak lagi menyebarkan hoax, maka kasus itu harus dibawa ke pengadilan. Pengadilanlah yang akan menjawab teka-teki itu.

Jika itu hoax motif ke-1, maka Ratna dan semua penyebar hoax harus dihukum sesuai perannya masing-masing. Namun apabila itu adalah drama politik yang motif ke-2 (demi pilpres), maka pelaku pencipta hoax-nya akan banyak, bukan hanya Ratna sendirian sebagai pencipta tunggal. Itu bisa sebagai sebuah konspirasi jahat.

Para penanggap berita itu yang sudah mendukung Ratna dianiaya pun perlu dibawa ke pengadilan juga, misalnya Benny K. Harman. Bisa jadi mereka adalah sebuah komplotan besar. Namun asas praduga tak bersalah tetap nomor satu.

JADI, sekali lagi, kasus itu harus dibawa ke hukum. Bukan untuk dendam mereka, tapi untuk menciutkan nyali pencipta dan penyebar hoax yang jumlahnya besar sekali.

Semakin dekat hari-H pilpres bisa saja akan terus bermunculan hoax konspirasi yang jauh lebih besar dan memakan korban lebih serius. Semoga! (*)

Penulis: Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.