Home Artikel Hari Santri Bagi Bangsa dan Refleksi Resolusi Jihad NU Tanggal 22 Oktober...

Hari Santri Bagi Bangsa dan Refleksi Resolusi Jihad NU Tanggal 22 Oktober 2018

86
0

Oleh: M. Zainal Fanani, ST, M.Si, M.HI, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang-NTT

Peringatan ini sebagai realisasi dari Kepres Nomor 22 Tahun 2015 tanggal 22 Oktober 2015, dimana Bapak Presiden menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri Nasional, sebelumnya telah diadakan musyawarah yang diikuti ke-13 Ormas Islam di Hotel Salak Bogor pada tanggal 22 April 2015.

Peringatan tersebut mempunyai dua hal yang sangat bermakna, yaitu Santri dan 22 Oktober.

Menurut KBBI bahwa definisi santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang tekun beribadah dan orang yang shaleh. Sedangkan menurut Kiai Said Aqil Siraj maupun Gus Mus, santri adalah orang yang beragama Islam, yang berakhlak santri, tawadlu’ kepada Allah SWT dan hormat kepada ulama/kiai.

Jadi santri itu tidak hanya siapa yang alumni pesantrn saja, walau secara harfian santri itu akar katanya berasal dari kata pesantren.

Sedangkan 22 Oktober adalah titik pijak Hari Pahlawan 10 November. Tidak akan pernah ada pertempuran 4 hari di Surabaya yang akhirnya terjadi peristiwa 10 November 1945 jika tidak diawali pidato jihad oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman. Bahwa kiprah santri dalam pembelaan terhadap negeri tak diragukan lagi.

Perang kemerdekaan dari penjajahan Prtugis, Belanda, Jepang, Inggris dan Sekutu, ulama dan santri tampil di medan laga. Sudah semestinya jika santri (plus ulama) dijuluki pemilik sah negeri ini.

Peringatan Hari Santri 22 Oktober itu mensiratkan hubungan yang tak terpisahkan antara keislaman dan kebangsaan. Santri sebagai pengejawantahan keislaman dan 22 November sebagai kebangsaan, dimana peristiwa penyelamatan bangsa dan negara dari rongrongan penjajah, dengan ditandai Resolusi Jihad.

Penetapan Hari Santri pada tanggal tersebut, 22 Oktober bukan sembarangan tapi mempunyai sejarah yang besar dalam menetapi rel perjalanan bangsa. Artinya santri itu inheren dengan tanah air. Yang dinamakan santri haruslah berjiwa nasionalisme.

Jika ada santri namun tidak cinta tanah air, anti nasionalisme maka kesantriannya perlu dipertanyakan. Santri harus cinta negeri, cinta Indonesia dan bertekad bahwa NKRI harga mati, Pansasila dan UUD sebagai dasar negara yang bersendikan Bhineka Tunggal Ika.

Untuk itu sebagai santri pergerakan yang aktif sebagai aktivis pada organisasi kemahasiswaan PMII khususnya, dan secara umum organisasi kemahasiswaan lainnya maka teruslah belajar sesuai kompetensi ilmu masing-masing, peduli dengan masalah kebangsaan dan keumatan serta pererat hubungan persaudaraan antar sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah).

Ingat bahwa sesama santri dilarang saling mendahului, saling konflik sehingga santri memang nyata-nyata bisa bermanfaat bagi negeri. Di tanganmulah, wahai santri, negeri ini dititipkan.*)