Home Tulisan Lepas Edomekoisme: Cara Menikmati Uang Dengan Tidur

Edomekoisme: Cara Menikmati Uang Dengan Tidur

527
0

Oleh: Anthony Tonggo*

KETIKA menjadi mahasiswa dulu, saya dan beberapa teman dari Flores mendirikan dan tergabung dalam kelompok Yanuspa. Kegiatan kami di situ adalah membaca, diskusi, dan menulis di media massa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di antaranya adalah Even Edomeko (Even), Tolentino Kenko Nicholas (Tonce), Timo Teweng (Timo), dan lainnya. Setiap kami memiliki keunikannya sendiri-sendiri.

Mungkin tidak banyak mahasiswa dan sarjana yang menekuni suatu ilmu yang menjalani hidupnya sesuai dengan ilmunya, misalnya kuliah di ilmu hukum tapi sering melanggar aturan, kuliah ekonomi tapi miskin, kuliah di teknik mesin tapi tidak tahu servis motor, kuliah ilmu pertanian tapi tidak punya kebun yang berhasil, kuliah ilmu bahasa tapi tidak bisa menulis dengan bagus, dll. Ini tidak berlaku bagi Even.

Even memiliki cara hidup yang menjiwai ilmu atau bidang yang dia tekuni. Sebagai mahasiswa filsafat, alumni seminari yang juga berbakat seni ini (termasuk sastra), Even memiliki banyak sekali cara hidup yang dapat menjadi rujukan banyak orang. Dia sering melahirkan cara pandang baru yang bisa menghentakan orang banyak yang sudah mapan dengan kebiasaannya.

Ajaran apa yang diperkenalkan Even untuk masyarakat umum itu?
****

Kalau Dapat Honor, Tidur!

DI ANTARA semua kami di era itu, Even adalah salah satu penulis yang memiliki banyak penggemarnya. Even digemari pembaca karena wawasannya luas, logika berpikirnya tajam, dan cara penyampaiannya indah.

Dengan modal itu, Even sebenarnya berpeluang besar untuk laris di media massa. Namun peluang itu tidak dimanfaatkannya. Even malah nongol di media massa sekitar sebulan sekali. Kenapa begitu?

Kalau sudah dapat honor dari koran atau majalah, maka Even pasti tidur berjam-jam. Kadang dia bangun cuma untuk minum kopi, isap rokok, dan membaca. Setelah itu dia tidur lagi.

Kalau Even sudah tidak ada uang, dia baru menulis lagi. Setelah tulisannya dimuat media massa dan dapat honor, Even kembali tidur, ngopi, merokok, dan membaca.

Suatu waktu kami bertanya ke Even: “Kenapa kamu tidak rajin menulis biar uangnya dapat terus?”

Even menjawab: “Itu cara saya menikmati uang! Tidur, kopi, rokok, dan membaca.”

Kami: “Kalau menulis sambil merokok, minum kopi, dan membaca kan bisa, to?”

Even: “Itu mengurangi kenikmatan dalam menggunakan uang honor atau gaji saya! Satu-satunya cara menikmati uang adalah dengan tidak sibuk mencari uang berikutnya. Dan satu-satunya kenikmatan dalam mencari uang adalah ketika uang sudah tidak ada lagi di saya.”

Logiskah itu?
****

Uang yang Mengguncangkan Peradaban

DUNIA terkejut dengan munculnya uang sebagai alat tukar dan indikator kekayaan.

Mulai dari jatuh cinta karena uang, permusuhan karena harta uang tidak dibagi adil, cerai suami-istri karena tidak punya uang, ayah-ibu dibunuh anak karena tidak segera memberi uang buat anak yang mau beli Hp, jual diri jadi WTS karena ingin uang, koruptor karena ingin punya uang, perampok membunuh orang kaya karena ingin merampas uang, pura-pura mendukung calon pejabat untuk cari uang, pura-pura jadi pejabat supaya bisa curi uang rakyat.

Ada juga karena punya uang lalu orang bisa beli makan-minum apa saja dan kapan saja hingga merusakkan kesehatannya, sehingga harus sakit, cacat, dan mati muda. Orang pun bisa memilih menjadi pembunuh bayaran hanya untuk dapat uang.

Kita pun bisa bermusuhan dengan teman atau saudara yang mencuri uang kita ataupun yang tidak segera membayar utangnya ke kita.

Kehebohan uang pun bisa melahirkan perang dunia kedua, yaitu dimana semboyan infasi era itu adalah 3G (gold, god, dan glory) dan bahkan berlanjut ke perang dingin.

Jadi, uang adalah subyek yang paling menghebohkan dunia hingga kini dan ke depan.

Apa yang diajarkan Even adalah cara tepat untuk menikmati uang, yaitu berhentilah mencari uang ketika uang masih ada dan mencarilah uang ketika uang sudah tidak ada di tangan.

Pertanyaannya: Siapa Even sekarang?
****

PNS adalah Filsuf

SETELAH pulang ke Maumere, Even memilih menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Kami semua heran dan tidak yakin kalau Even bisa bertahan lama jadi PNS.

Ketidakyakinan kami karena kami tahu bahwa Even adalah seorang yang tidak suka kemapanan. Dia senang perubahan. Dia kritis dan piawai dalam mengritik negara. Orde Baru adalah obyek cacian kami di mimbar pergerakan mapun dalam tulisan di era itu.

Dugaan kami meleset. Karir Even ternyata melesat di biokrasi Pemda Sikka. Siapa pun bupatinya, penyusun pidatonya adalah Even. Dia sudah melangkah hingga menjadi Kabag dan Kepala Dinas.

Apakah seorang Even menikmatinya sebagai birokrat/PNS?

Even bekerja sebagai PNS sepertinya lebih dari jumlah jam kerja yang ditentukan pemerintah. Selama saya di Maumere berkali-kali, Even sibuk menjalani tugas ke-PNS-annya dari pagi bisa sampai pagi lagi. Saya melihat Even bekerja lebih dari 8 jam sehari untuk negara. Dia kelihatannya menjadi seorang pekerja keras dan rajin sekali. Meski sudah dapat gaji, tapi dia tidak cuma tidur, ngopi, merokok, dan nembaca lagi.

Meski menjadi pejabat bertahun-tahun, ternyata hidup Even jauh dari citra seorang pejabat. Meski dia dan istrinya sama-sama PNS dengan sarjana, namun Even dan keluarganya sangat sederhana. Nasib ekonomi Even nyaris tidak beda dari masa dia mahasiswa.

Kami bertanya: “Jadi pejabat sudah bertahun-tahun kok tetap miskin? Banyak orang jabatan rendah saja bisa kaya!”

Jawab Even: “Saya juga heran, bagaimana mungkin ada PNS dan pejabat bisa kaya?”

Jadi, yang membuat Even bisa betah jadi PNS adalah karena setelah terima gaji, uang gajinya langsung habis untuk bayar utang, lalu langsung kerja lagi supaya sebulan lagi dapat uang lagi. Jadi, Even kerja terus karena uangnya habis terus.

Saya membayangkan Even jadi pengusaha tambang, pasti bulan ini dia dapat uang Rp. 5 miliar, maka 30 tahun ke depan Even cuma tidur-ngopi-merokok-membaca.

Jadi, PNS itu profesi yang cocok buat filsuf. Kalau ada PNS yang mengeluh karena uang gajinya terlalu sedikit, pasti itu bukan filsuf. Mungkin PNS supaya tidak kecewa dengan besarnya gaji, berarti saatnyalah untuk belajar filsafat seperti Even. Kalau masih juga tidak memahami cara berpikir filsafat, berarti salah kamar jadi PNS, sehingga sebaiknya segera tinggalkan profesi itu dan cari profesi lainnya. Siapa tahu cocok jadi pengusaha, bankir, petani, pelaut, atau lainnya.

Untuk sang filsuf yang jadi birokrat (Even Edomeko): Selamat Ulang Tahunmu hari ini…! Teruslah beride dari balik kursimu saat ini…! (***)

*Anthony Tonggo, Sahabat yang kakak Even Edomeko, Yogyakarta.