Home Artikel Edisi I: Analisa Pilpres 2019

Edisi I: Analisa Pilpres 2019

281
0

Oleh: Anthony Tonggo*

Jika Hari Ini Coblos: Prabowo atau Jokowi yang Unggul?

GENDERANG perang pilpres 2019 sudah mulai. Dengan metode yang sama seperti yang saya gunakan untuk menganalisa pilkada DKI 2016, maka kali ini pun saya pakai buat menganalisa pilpres 2019, dimana dengan modal persepsi publik akan menentukan kemenangan sang calon.

Jika pada pilkada DKI 2016 saya membagi menjadi tiga seri waktu (awal/pra, tengah/midle, dan post), maka ini pun sama: awal/Oktober, tengah/Januari 2019, dan akhir/April 2019). Pembagian seri waktu ini dengan menempatkan dinamika politik sebagai faktor yang mempengaruhi persepsi publik.

Kalau pada pilkada DKI 2016 di tahap awal saya menempatkan Ahok-Djarot menang mutlak, tahap tengah posisi Ahok-Djarot masih aman, sedangkan beberapa hari sebelum hari-H pencoblosan daya menempatkan Ahok’Djarot akan kalah, maka bagaimana dengan pertarungan pilpres 2019? Jokowi ataukah Prabowo yang menang dalam tiga tahap itu? Inilah yang akan dijawab dalam esei ini yang dimulai dengan tahap awal.
****

Persepsi Publik: Bandul yang Miring

CALON mana yang akan dipilih publik adalah bergantung pada persepsi publik atas seorang calon. Persepsi adalah pendapat atau imej.

Semua imej positip maupun negatip akan diramu publik untuk kemudian diberi imej kumulatifnya. Di imej kumulatif itulah yang menentukan pilihan seseorang.

Jika mendengar atau membaca nama “Jokowi”, maka persepsi publik langsung tertuju ke beberapa imej. Imej positipnya adalah Jokowi adalah seorang pekerja keras, seorang pecinta rakyat, seorang pembangun infrastruktur yang spektakuler, seorang anti-KKN, seorang yang cerdas dalam mengelola kemelut, seorang yang rendah hati, seorang pendiam yang bicara seperlunya, seorang yang tidak ambisius dalam keluasaan, seorang yang miskin dan sederhana seperti orang Indonesia kebanyakan.

Imej negatip yang berkembang buat Jokowi adalah pro asing dan aseng, anak PKI, dan pembengkak utang negara.

Jika diakumulasikan, maka jumlah imej positip untuk Jokowi lebih banyak daripada imej negatipnya. Bahkan jumlahnya sangat tidak sebanding.

Setiap elemen masyarakat memiliki titik rujuk yang berbeda-beda, meski ada yang sama. Ini berarti persepsi publik untuk Jokowi sangat positip dengan area jangkauan massanya meluas ke berbagai segmen masyarakat.

Ketika mendengar atau membaca nama “Prabowo”, maka imej positipnya adalah seorang mantan tentara yang gagah, seorang tukang iklan diri di media (terutama sebelum 2015), seorang yang dipecat dari militer karena melanggar disiplin kemiliteran, seorang yang dari kubu hoax, oposan tukang kritik pemerintah, seorang lebih sibuk omonh daripada bekerja nyata buay rakyat, dan terakhir adalah seorang yang mudah dibohongi Ratna Sarumpaet.

Dari daftar itu memperlihatkan bahwa imej positip untuk Prabowo sangat sedikit. Atau kalau bicara bolume suara, maka bunyinya sangat kecil.

Jumlah imej negatip untuk Prabowo jauh lebih banyak ketimbang yang positip.

Untuk itu, persepsi publik untuk Prabowo tidak sebagus Jokowi. Jadi, jika hari ini ada pencoblosan, maka Jokowi adalah pemenangnya. Jumlah suara yang diraih Jokowi bisa nyaris mengulang lagi kesuksesan beliau di pilkada Solo pada periode kedua, yaitu nyaris minimal 80-an persen.

Melihat bandul yang miring ini, rasanya sudah sulit sekali bagi Prabowo untuk mengejarnya hingga April 2019 nanti.

Namun, politik itu dinamis. Semua serba tidak pasti. Segalanya bisa berubah, baik karena faktor internal Oranowo maupun faktor external Jokowi.

Hari ini (Rabu, 17/10/2018) adalah HUT Prabowo. Saya ingin mengirim kado solusi buat Prabowo: Bagaimana dia harus lakukan di sisa waktu yang sempit ini?
****

Perbaikan Imej

DALAM sisa waktu yang sempit ini, Prabowo sudah kesulitan untuk menaikkan imej positipnya. Ini lantaran kalau Prabowo mau bikin aksi nyata yang langsung dirasakan masyarakat, maka publik akan mudah menebak arah Prabowo: ada udang di balik batu, mau pilpres dulu baru tiba-tiba cinta rakyat. Rakyat akan bertanya: “Selama ini kamu ke mana aja?” Jika ini tetap dilakukan Prabowo, maka madyarakat memberlakukan sikap: ambil “uang”-nya, jangan pilih orangnya. Ini dilema bagi Prabowo.

Sisi yang masih bisa dilakukan Prabowo intuk memperbaiki imejnya adalah mengurangi imej negatipnya. Caranya adalah berhenti melakukan kesalahan. Bagaimana caranya?

Pertama, Stop iklan diri, tapi ganti ke iklan visi-missi-dan program menuju Indonesia yang adil dan makmur.

Kedua, Berhenti menyerang Jokowi. Dalam politik aniaya, keberpihakan publik pasti semakin mengalir untuk pihak yang dianiaya. Jika selama ini Jokowi jadi bulan-bulanan kubu Prabowo, sementara Jokowi diam saja, maka itu membuat simpati publik semakin besar untuk Jokowi. Jadi, maksud hati menurunkan Jokowi, apa daya Jokowi semakin naik. Jadi, jangan lagi bikin bumerang!

Ketiga, Tidak hanya Ratna Sarumpaet, masih banyak orang-otang di kubu Prabowo yang harus diganti oleh Prabowo. Sejumlah nama yang menyerang dengan kasar terhadap Jokowi, yang suka nyinyir Jokowi, dan yang membawa missi khilafah harus dicopot dan diganti dengan yang lebih sopan, intelek, dan nasionalis.

Prabowo jangan tergiur dengan kehadiran massa radikalis itu, tapi rebutlah massa nasionalis dan intelek yang kini di pihak Jokowi. Selama pejuang khilafah ada di kibi Prabowo, maka sama saja dengan melawan pendukung Pancasila yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Selamat Ulang Tahun, Pak Prabowo! Semoga sukses menjadi politisi yang berwibawa di mata publik! Tuhan memberkatimu! Amin…! (***)

* Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.