Home Artikel Duka Nggela: Duka Budaya dan Duka Manusia Global

Duka Nggela: Duka Budaya dan Duka Manusia Global

140
0

Oleh: Anthony Tonggo

SETELAH dua kampung adat di NTT terbakar sebelumnya (Ngada dan Sumba), Senin, 29 Oktober 2018 gilliran kampung adat Nggela (Ende) yang terbakar.

Terbakarnya tiga kampung adat ini nilainya berbeda jauh dengan kebakaran pasar, mall, perkantoran, dll. yang biasa terjadi di Jawa. Terbakarnya gedung di Jawa adalah terbakarnya ekonomi, tapi terbakarnya tiga kampung adat di NTT adalah terbakarnya budaya. Terbakarnya arsitektur budaya, terbakarnya filosofi, dan terbakarnya akar bathin manusia.

Kebakaran Budaya

ARSITEKTUR sebuah rumah (dari zaman mana pun) selalu dibuat untuk tujuan kenyamanan penghuninya. Untuk sebuah kenyamanan, maka arsitektur harus menghadapi sejumlah hal.

Dalam rumah ada simbol sejarah nenek-moyang, tentang makna hidup, tentang potensi alam yang dimiliki, tentang tantangan manusia yang harus dihadapi, dll.

Keseluruhan arsitektur rumah menggambarkan tentang peradaban manusia. Kampung adat Nggela, Gurusina, dan Sumba adalah bukti peradaban di era itu.

Dalam rumah itu, orang merajut hidup. Bersama orang tercinta, bersama sanak saudara, bersama tamu. Semua itu telah menghias perjalanan hidup manusia.

Di rumah itu pula orang merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatannya. Membangun masa depan. Beranak-pinak.

Di rumah itulah orang menjalani ritual hidupnya. Mulai dari membuka hutan hingga panen. Mulai dari kelahiran hingga perkawinan dan kematian.

Semua itu menjadi kisah yang mengikatkan bathin seseorang di rumah dan kampung itu.

Jadi, kebakaran kampung adat adalah terbakarnya kebudayaan. Terbakarnya sejarah, terbakarnya filosofi, dan terbakarnya bathin buat sang pemilik kampung itu.

Duka Manusia Global

DUNIA semakin disempitkan oleh teknologi transportasi dan informasi. Manusia semakin dinamis untuk “merantau” ke berbagai pojok bumi yang dia kehendaki. Manusia global adalah manusia perantau. Romo Mangunwijaya menyebutnya dalam novel yang sangat terkenal di era 80-an dengan nama “Burung-Burung Rantau”.

Burung rantau itu akan mencari makan ke berbagai dahan-ranting-pohon-lembah-gunung, tapi di malam hari dia lelah maka dia akan kembali ke sarangnya. Dalam sarang itulah burung akan tenang, menikmati hidupnya, dan mengumpulkan kembali semangat untuk besok pagi harus terbang lagi.

Dalam globalisasi, mamusia mengalami kesepian (meski di tengah keramaian). Orang menjadi cemas; meski kaya, jabatan tinggi, sekolah tinggi, dll. Makanya banyak orang kota besar hidupnya stres, bunuh diri, nekat, dll.

Kampung dan rumah adat adalah sarang bagi semua orang dari situ yang berziarah hidupnya ke mana-mana. Rumah/kampung adat adalah tempat “surga” bagi manusia global. Jika sudah tiba di rumah/kampung adat, maka orang seperti pulang ke pangkuan sang bunda. Seperti bunda menggendongnya, seperti bunda yang tersenyum padanya, seperti bunda yang meninabobokannya agar tidur lelap, dan seperti bunda yang besok pagi siap melepaskan dia untuk pergi merantau lagi.

Jadi, rumah/kampung adat itu seperti sebuah pohon yang mengikatkan kerbau pakai tali. Kerbaunya boleh cari makan ke mana pun arahnya, tapi hidungnya tetap diikat ke pohon itu. Bayangkan kalau kerbaunya tidak diikat di pohon itu, maka kerbau akan liar ke mana saja, bisa liar, bisa mati ditangkap orang, bisa kesepian tanpa kawanannya, bisa juga bunuh diri ke jurang.

Jadi, duka Nggela adalah duka budaya dan duka manusia global. Oleh karena itu, membangun kembali rumah/kampumg adat adalah kewajiban semua pihak. Termasuk kampung-kampung lain yang belum membangun rumah/kampung adatnya.

Mulai hari ini, semua pihak, khususnya kita orang Ende, mari kita membantu dengan apa pun yang kita miliki untuk saudara-saudara kita di Nggela. Entah berupa uang, pakaian, tenda, bahan bangunan darurat misalnya membangun kamar WC/mandi darurat, lampu, selimut, senter, alat masak, bahan makanan seperti beras-ubi-sayur-dll. Ini saatnya kita wujudkan iman kita. Perlu juga segera buka dapur umum di Nggela. Air mata Nggela adalah air mata kita semua!

Kepada masyarakat adat Nggela, turut berduka! Semoga kita semua didukung dan diberkati leluhur untuk bisa melewati masa-masa sulit ini hingga kembali bangkit.! (*Penulis : Jogja, Anthony Tonggo, 29/10/2018).