Home Artikel Batas Kesabaran Suami-Istri – Sejenak di Beranda

Batas Kesabaran Suami-Istri – Sejenak di Beranda

137
0
Suami-Isteri Bahagia
Ilustrasi: Google

Tahun lalu Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik “Amoris Laetitia” (Sukacita Cinta). Dalam ensiklik ini Paus mengundang keluarga-keluarga untuk menghadirkan kembali kesaksian akan sukacita cinta kepada dunia. Beliau mengatakan bahwa keluarga bukanlah tempat pelarian atau pengungsian dari dunia, melainkan justru bergerak keluar dari rumah mereka dalam semangat solidaritas dengan orang lain. Pendeknya keluarga diharapkan menjadi biji sesawi atau ragi yang kecil, tumbuh dan bergerak perlahan keluar, hingga akhirnya menjadi pohon tempat bersarang burung-burung atau membuat khamir seluruh adonan.

Apakah Suami dan Isteri sudah menjadi biji sesawi atau ragi yang baik dalam keluarganya?
Mari kita sedikit BERREFLEKSI bersama!

Seorang istri adalah cerminan diri suami, sebaliknya suami adalah cerminan diri istri. Raut wajah, perasaan, perilaku bahkan penampilan fisik pasangan menunjukkan siapa dan seperti apa pasangannya.

Ia bisa menjadi ‘malaikat’, ia juga bisa menjadi ‘setan’. Sebab baik-buruknya pasangan sangat banyak ditentukan oleh pasangannya. Maka kalau menginginkan pasangan menjadi malaikat, perlakukan dia sebagai malaikat. Jangan salahkan pasangan sebagai setan, jika kamu sendiri telah menjadi setan baginya.

Pasangan itu seperti tanaman di kebun. Jika diberi benih yang baik, dirawat, dipelihara, dipupuk, diairi maka ia akan tumbuh subur dan berbuah baik pula. Sebaliknya jika diberi benih yang buruk, diabaikan, dibiarkan, dan tidak diberi air atau pupuk, maka ia akan layu, kering bahkan mati sebelum waktunya.

Pengalaman banyak bicara! Cinta seorang istri bertumbuh karena kasih sayang suami. Sakit hati istri muncul karena pengkhianatan suami. Kebahagiaan istri muncul karena kehangatan suami. Kebencian istri muncul karena kebohongan suami. Kecantikan istri muncul karena dimanjakan suami. Kemalasan istri timbul karena ketidak-pedulian suami.

Jangan menjadikan pasanganmu hanya sebagai tempat sampah karena kamu akan menuai bau kotoran.

Ada pasangan memang berusaha untuk sabar dan setia, ketika yang satu sudah menjadi ‘setan’. Tapi sampai kapan?

Menurut penelitian tidak resmi, batas kesabaran itu akan tiba ketika ia menemukan sosok yang bisa memberi rasa nyaman, cinta, kehangatan dan kebahagiaan yang tidak ia dapatkan dari pasangan.

Namanya juga penelitian tidak resmi: bisa ngawur, bisa juga benar. Dan status ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai refleksi.

“Allah Bapa sumber cinta, anugerahkanlah cinta sejati kepada umat-Mu, terutama kepada keluarga-keluarga supaya dapat mengalami sukacita dalam mencintai satu sama lain. Amin.”