Home Renungan Harian Verbum Domini, quod coniungit – Sabda Allah yang mempersatukan

Verbum Domini, quod coniungit – Sabda Allah yang mempersatukan

265
0
Alkitab
Ilustrasi: http://paroki-sragen.or.id

Selasa, 25 September 2018
Pekan Biasa XXV
¤ Am. 21:1-6,10-13
¤ Mzm.119:1,27,30,34,35,44
¤ Luk. 8:19-21
“Verbum Domini, quod coniungit”
– Sabda Allah yang mempersatukan –
Inilah salah satu daya yang membantu kita mewujudkan persaudaraan sejati dalam Kristus. Untuk mewujudkan persaudaraan sejati dalam Kristus dibutuhkan perubahan dari hidup lama yang penuh kecongkakan dan kesombongan, menjadi hidup baru yang penuh kerendahan dan ketulusan hati mewujudkan persaudaraan sejati.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan bagaimana memperluas jangkauan keluargaNya yakni persaudaraan sejati yang mempersatukan, yang menjadi IbuNya dan saudara-saudaraNya.
Adapun dua sikap dasar yang dibutuhkan dalam mewujudkan persaudaraan sejati, yang mempersatukan ini, antara lain:

1. Mendengarkan
Yesus bersabda dengan sabda kasihNya: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya.” Kita perlu mendengarkan sabda Allah.
Jika kita kesulitan untuk mendengarkan sabda Allah, mohonlah Roh Kudus untuk membuka mata, hati dan telinga kita, serta menutupnya dari segala hal yang mengganggu. Mohonlah juga hati yang bersih, karena hati yang bersih adalah tempat perjumpaan kita dengan Dia, Sang Sabda yang sangat mengasihi kita. Dengan demikian, pelan tapi pasti, Sabda Allah yang penuh kuasa itu akan mengubah hidup kita. Semakin tekun kita mendengarkan sabda Allah, semakin kita mengalami kasih Allah sendiri, dan mengasihi-Nya sebagai Bapa dan mengasihi sesama sebagai saudara. Artinya sabda Allah tidak diperuntukkan bagi orang tertentu saja tetapi bagi semua orang. Dengan demikian sabda Allah itu membantu kita untuk bertumbuh dalam mewujudkan persaudaraan sejati.
Di sinilah kita diajak bersikap rendah hati, seperti Maria yang pertama-tama, banyak mendengarkan dan merenungkan sabda Allah agar kita memahami, mengerti dan mentaati kehendak-Nya untuk menjadi misionaris yang membawa sabda Allah kepada sesama yang lain sebagai saudara.

2. Melaksanakan
Kita tidak hanya mendengarkan sabda Allah, tetapi diharapkan juga melaksanakan dan menjadi pelaksana sabda Allah. Bila kita dengan tekun melaksanakan sabda Allah, kita bisa menjadi saudara-saudara Yesus.
Di sinilah kita diajak dengan sepenuh hati mendengarkan dan melaksanakan secara seimbang antara teori dan praktek, yang kita rayakan, juga kita wujud nyatakan dalam hidup keseharian, tidak hanya omong tapi benar-benar dihidupi dan dihayati, tidak hanya menjadi “pendengar sabdaNya” tapi terlebih menjadi “pelaksana sabdaNya.” Sikap kerendahan dan ketulusan hati mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah inilah yang memampukan kita memiliki daya mempersatukan yang luar biasa. Sebab Allah tidak menghendaki orang yang bermata congkak dan berhati sombong.
Saudaraku, apakah kita merasakan kuasa sabda Allah di dalam hidup dan membuat kita bertumbuh karena sabda-Nya? Apakah sabda Allah juga mendorong kita untuk memperhatikan orang-orang kecil dan tak berdaya? Apakah sabda Allah membuat kita merasa semakin hari semakin menjadi saudara dan saudari Yesus? Dalam Yesus kita bersaudara.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga untuk bersyukur karena sabda-Nya sungguh-sungguh menghidupkan dan mempersatukan. Amin.