Home Berita TPDI Sebut Prabowo Provokasi Untuk Tidak Percaya Pemerintah

TPDI Sebut Prabowo Provokasi Untuk Tidak Percaya Pemerintah

603
0
Koordinator TPDI, Petrus Selestinus
Koordinator TPDI, Petrus Selestinus

“BUNUH DIRI: Prabowo Subianto Mencekoki Tim Kapanyenya dengan Informasi Fiksi, Memprovokasi TNI untuk Tidak Percaya pada Pemerintah”, tandas Koordinator TPDI, Petrus Selestinus.

Focus Indonesia News – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia, Petrus Selestinus melalui pesan keterangan persnya yang diterima redaksi (9/9/2018) mengeluarkan surat penyampaian pandangan dan kajian analisa TPDI terhadap kondisi wacana bangsa saat ini.

Bakal Calon Presiden RI 2019, Prabowo Subianto telah menggali kuburan untuk “bunuh diri” dengan membuat penilaian bahwa negara Indonesia “berada dalam kondisi terancam”, bahkan melemahnya nilai rupiah saat ini karena kekayaan alam Indonesia telah dikuasai oleh asing, ungkap TPDI.

Selestinus menguraikan, anehnya penilaian yang bersifat provokatif, menyesatkan dan tanpa didukung data dan fakta-fakta itu diekspose dalam sambutan Acara Ulang Tahun Djoko Santoso, yang digadang-gadang sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Sandiaga Uno, pada Sabtu tanggal 8 September 2018.

Koordinator TPDI mengungkapkan, oleh karena penilaian yang penuh fiksi, disampaikan dalam sambutan Acara Ulang Tahun Djoko Santoso, calon Ketua Tim Kampanye Nasional untuk Capres-Cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, maka dapat dipastikan bahwa Prabowo Subianto telah mencekoki Tim Kampanye Nasionalnya dengan informasi-informasi yang mengandung kebohongan, manipulatif bahkan bersifat provokatif karena secara terbuka mengajak masyarakat dan TNI agar tidak percaya kepada Pemerintah, sebagaimana nampak dalam Kata-kata yang diucapkan Prabowo Subianto dalam sambutannya itu.

Dikutip Redaksi dalam materi TPDI, Petrus Selestinus menerangkan, Prabowo dalam sambutannya itu menyatakan bahwa: “ekonomi Indonesia lemah karena kekayaan alam tidak di tangan kita tetapi di tangan orang asing, di tangan yang tidak setia kepada Pancasila dan NKRI, “tentara seolah percuma membela negara tetapi kekayaan alam dikuasai pihak asing”, percuma pula perjuangan kemerdekaan dilakukan, jika setelah merdeka justru dikuasai pihak asing. Jadi sebagai prajurit, untuk apa kita dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan untuk melihat negara kita dikuasai oleh bangsa lain”.

Kata-kata yang digunakan Prabowo Subianto dalam sambutannya itu, kata TPDI, jelas mengandung muatan yang manipulatif, provokatif dan tidak berdasarkan bukti-bukti alias fiksi, sehingga ini jelas sebagai langkah menggali kuburan untuk “bunuh diri” Prabowo Subianto sebagai Capres, karena membekali Tim Kampanyenya dengan hal-hal yang bersifat fiksi, hal yang berbeda bahkan bertentangan dengan fakta-fakta hukum dan fakta sosial yang diyakini oleh masyarakat dan anggota TNI terhadap Pemerintah. Mempengaruhi masyarakat dengan informasi yang bermuatan tipu muslihat dan kebohongan, apalagi digunakan sebagai modal kampanye, jelas merupakan tindakan “bunuh diri”, karena ternyata masyarakat dan TNI jauh lebih cerdas dan kritis dari seorang Prabowo Subianto dalam menilai slogan-slogan bombastis yang tidak didukung dengan bukti-bukti terutama tentang hal-hal strategis yang secara faktual berbeda dan bertentangan dengan apa yang dilihat dan dirasakan oleh masyarakat dan anggota TNI diseluruh Indonesia.

Ditambahkan, Prabowo Subianto, seharusnya mengekspose materi-materi yang kontennya tentang “Pendidikan Politik” yang jujur dan sehat bagi masyarakat, karena kita belum memasuki tahapan kampanye. Karena itu penilaian Prabowo Subianto yang tidak didukung dengan data yang obyektif dan bertentangan dengan fakta-fakta sosial yang ada, semakin memperjelas mana yang fiksi dan mana yang realitas, yang dirasakan dan dilihat oleh masyatakat bahkan oleh Lembaga Keuangan tingkat dunia sekalipun. Padahal Dewan Direktur IMF di Washington DC pada pertemuan tanggal 10 Januari 2018, bahkan memuji perekonomian Indonesia karena berada pada posisi yang baik dalam mengatasi berbagai tantangan, sehingga risiko sistemik dapat terkendali.

Capaian yang baik ini kata IMF, berkat perbaikan investasi infrastruktur oleh pemerintah dan peran investasi swasta yang berimplikasi pada cadangan devisa Indonesia mencapai rekor tertinggi dalam sejarah dan akan lebih baik lagi pada periode 2018 dstnya.

(Sumber: Keterangan Pers 9/9/2018/ PETRUS SELESTINUS, KOORDINATOR TPDI & ADVOKAT PERADI). /*Red/)