Home Artikel Sikap Politik “Minus Malum” Demokrat, Lonceng Kematian Paslon Prabowo-Sandiaga

Sikap Politik “Minus Malum” Demokrat, Lonceng Kematian Paslon Prabowo-Sandiaga

235
0

Oleh: Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat Peradi.

Sikap Partai Demokrat membebaskan kader dan simpatisannya untuk bebas menentukan pilihan dalam Pilpres 2019 (boleh mendukung dan memilih Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin), merupakan pilihan sikap politik yang “minus malum” demi menyelamatkan posisi Partai Demokrat dari kegagalan mencapai Parliamentary Threshold 4% dari suara sah nasional sekaligus merupakan lonceng kematian bagi Pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sikap ini terkesan seolah-olah Partai Demokrat menempatkan hak pilih warga di atas segala kepentingan politik praktis Partai Demokrat, namun publik sangat paham bahwa sikap politik Partai Demokrat yang demikian adalah sikap oportunis, karena realitas mayoritas kader dan simpatisan bahkan struktural Partai Demokrat telah seara terbuka menyatakan dukungannya kepada Pasangan calon Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Partai Demokrat telah melihat betapa arus besar arah dukungan masyarakat dalam Pilpres 2019 adalah kepada Paslon Jokowi – Ma’ruf Amin, sehingga meskipun secara yuridis Partai Demokrat terikat dalam Perjanjian Koalisi Partai Politik Pengusung Pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden Prabowo – Sandiaga, namun Partai Demokrat harus realistis memberi restu atas dukungan kader-kadernya kepada Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin di tengah sikap ragu-ragu yang menjadi ciri khasnya selama ini.

Partai Demokrat seolah-olah sedang diajarkan bagaimana seharusnya bersikap konsisten, dan pelajaran itu diperoleh melalui pilihan sikap politik yang dipopulerkan oleh para kader, simpatisan dan struktural Partai Demokrat di tingkat bawah yang sejak awal secara konsisten dan terbuka mendukung Paslon Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Di tengah keragu-raguan yang tinggi antara berada dalam koalisi Partai Politik Pengusung Capres-Cawapres atau berada di luar koalisi guna memilih jalan sendiri, akhirnya dengan setengah hati dan “minus malum” Partai Demokrat harus memilih berkoalisi dengan Partai Gerindra, PAN dan PKS mengusung Paslon Prabowo-Sandiaga.

Namun demikian Partai Demokrat harus tetap realistis melihat realitas arus dukungan kader demokrat kepada Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin, yang tidak bisa dibendung, sehingga pada akhirnya Partai Demokrat harus menghormati pilihan politik para kader, simpatisan dan sebagian struktural Partai Demokrat di tingkat bawah yang sejak awal bersuara lantang mendukung Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin.

Realitas politik inilah yang membuat posisi Partai Demokrat menjadi gamang dan mendadak banting setir (kemudi), membangun tradisi politik baru dengan membebaskan arah dukungan politik para kader, simpatisan bahkan struktural Partai Demokrat yang sejak awal mendukung Pasangan Calon Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin.

Artinya meskipun Partai Demokrat tetap terikat pada Perjanjian Koalisi Partai Politik Pengusung Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga, namun dalam soal hak pilih warga, Partai Demokrat telah didaulat untuk tunduk pada kehendak arus bawah dengan membebaskan kader-kader bahkan sebagian struktur Partai Demokrat di beberapa Provinsi untuk boleh berbeda pilihan politik memilih Jokowi-Ma’ruf Amin, meski denga resiko hilangnya posisi tawar Partai Demokrat di mata Partai Koalisi Parobowo-Sandiaga. Inilah “lonceng kematian” bagi Paslon Capres-Cawapres Parabowo-Sandiaga. (TPDI)