Home Artikel Sejenak di Pojok: GOING BEYOND BORDERS

Sejenak di Pojok: GOING BEYOND BORDERS

90
0
Yesus Kristus
Ilustrasi: http://mauliutus.org

Saya berusaha memakai lensa “penggerak perubahan sosial” untuk mencermati daya hidup dari 3 tuntutan YESUS hari ini, “Menyangkal diri, memikul Salib dan mengikuti Dia”.

YESUS sendiri adalah tokoh penggerak perubahan sosial, yang selain kontroversial, tetapi juga yang secara luar biasa dikukuhkan oleh sebagian besar penghuni planet ini sebagai Guru Paling Inspiratif. Salah satu diskursus paling menantang yang Dia kemukakan adalah ini: MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB dan MENGIKUTI DIA.

DIA sendiri adalah pelaku utama dari topik diskusi yang menantang ini.
Menyangkal diri dalam konteks ini bisa disebut juga sebagai sikap merdeka untuk melampaui batas-batas perasaan pribadi, melampaui batas-batas kebutuhan pribadi, melampaui batas-batas egoisme.
Contoh paling memorable adalah Peristiwa Salib. Bagaimana orang ini bisa bertahan sampai akhir dalam penderitaan yang sangat meningkat eskalasinya ini?
Banyak mistikus semisal Yohanes Dari Salib mengatakan bahwa Dia telah selesai dengan DiriNya sendiri, karena Dia mengambil langkah kenosis (mengosongkan DiriNya) – sejak menjadi manusia. Dia telah melampaui batas-batas diriNya, termasuk melampaui batas ketakutanNya.
Karena itu Dia dikenang sebagai kesatria agung. Karena itulah Dia memenangkan kehidupan.

Bukankah Sang Gautama juga mencapai pencerahan purna setelah berjuang mengatasi kefanaan dan kejahatan manusia?
Bukankah Nabi Muhammad SAW memimpin pasukannya dengan tanpa gentar untuk jihad melawan kelompok jahiliah karena sudah merdeka dari rasa takut akan kematian tubuh manusiawi?
——-
Menerjemahkan diskursus ini ke dalam praksis hidup sehari-hari memang gampang-gampang sulit.

Saya mau memakai term PROAKTIFITAS untuk mengatakan bahwa sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Thus, SALIB adalah TANGGUNG JAWAB.

Merujuk kepada kata RESPONSIBILITY (tanggung jawab) – “response-ability”- kemampuan untuk memilih response anda pribadi. Orang yang sangat proaktif menjangkau tanggung jawabnya tanpa kompromi dengan ketakutan dan keragu-raguan. Mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Perilaku mereka adalah produk dari pilihan sadar mereka, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari kondisi mereka yang banyak kali disetir oleh perasaan mengambang.

Orang yang reaktif seringkali dipengaruhi oleh lingkungan fisik mereka. Jika cuaca bagus, mereka happy. Jika cuaca jelek, maka semua kutukan dan makian bisa dibawa ke ruang kerja.
Orang-orang proaktif dapat mengatur cuaca mereka sendiri. Entah hari hujan atau cerah tidak ada bedanya bagi mereka. Mereka digerakkan oleh NILAI.

Mengutip Eleanor Roosevelt, “Tak seorang pun dapat menyakiti anda tanpa persetujuan anda”. Atau kata-kata Gandhi, “Mereka tidak dapat merenggut harga diri kita jika kita tidak memberikannya kepada mereka”.
———
Kita bisa saja tergugah oleh integritas orang-orang bersahaja. Dan itu baik untuk mulai belajar proaktif.
Tidak ada yang memiliki kesan yang lebih besar dan berlangsung lebih lama pada orang lain selain kesadaran bahwa seseorang telah mengatasi penderitaan, telah mengatasi keadaan, dan sedang mewujudkan serta mengekspresikan sebuah nilai yang mengilhami dan memuliakan martabat manusia.

Salam dan doaku…