Home Serba-serbi Sejenak di Beranda: Kagumi Aku, Banggalah Jubahku

Sejenak di Beranda: Kagumi Aku, Banggalah Jubahku

69
0
Ilustrasi

Kenapa cantiknya gadis itu kok mau menjadi suster? Demikianlah suara umat khususnya pemuda sesaat setelah misa hari Minggu, yang kaget dan terpesona dengan kecantikan paras elok seorang suster yang kebetulan sedang belibur di kampung halamannya.

Apakah ia masuk suster karena putus cinta? Rugi banget itu suster. Apakah suster takut tak mendapatkan pendamping? Percayalah suster, banyak yang pasti memperbutkanmu. Mendengar ragam komentar dari insan Adam, suster hanya tersenyum seraya menjawab singkat; terimakasih.

Parasnya tak dipoles make up, dalam selubung kerudung berwarna putih dan sehelai jubah putih membalut raganya membuat suster yang barus saja mengikhrarkan kaul pertamanya itu semakin anggun dan cantik. Senyum ramah dan suara lembutnya yang menyapa para orang tua, anak-anak hingga orang dewasa termasuk kaum muda (pria), membuatnya aura wajahnya semakin elok menawan di hati insan Adam yang mengaguminya.

Tak berhenti mengangumi kecantikan sang suster, ketua OMK atas permintaan teman-teman OMK, memberanikan diri meminta ijin kepada pastor paroki dan juga sang suster agar bersedia menjawab rasa penasaran mereka dengan mensharingkan panggilan terutama alasannya menjadi seorang suster.

Pastor parokipun menyetujui permintaan itu walau alasan dibalik permintaan itu Beliau tidak tahu. Sang Susterpun bersedia, paling tidak ini promosi gratis tarekat kami, ujar suster penuh canda kepada ketua OMK. Sabtu malam menjadi waktu pertemuan dan sharing para OMK dengan sang suster.

Malam itu menjadi malam terbukanya tabir penasaran ketika suster memberikan jawaban atas tanya dan gundah kaum pria yang juga adalah OMK. Suster mensharingkan bahwa sebagai seorang gadis normal tentu dan sangat normal memiliki rasa perasaan jatuh cinta. Namun bukan karena putus cinta dengan sang pacar melabuhkannya pada jalan hidup menjadi seorang suster.

Waktu SMA, saya sempat pacaran. Namun justru saya yang meminta putus dengan pacar saya. Karena selama pacaran dengan pacar saya hampir satu setengah tahun, saya justru merasakan cinta dan getaran yang luar biasa untuk menjadi seorang suster. Setiap kali bertemu dan berceritera dengan para suster yang kebetulan mengajar di sekolah kami, hati saya selalu bergetar dan berbung-bunga; “suatu saat saya harus mengenakan jubah itu sebagai seorang suster”.

Bahkan rasa untuk mencintai cowok saya, perlahan namun pasti mulai luntur dan tak ada gairah ketika setiap kali kami bertemu. Setiap kali bertemu saya berusaha membuatnya senang dan bahagia, walau aku menderita karena telah menipunya dan menipu perasaan hatiku yang bergejolak.

Bukan karena ada cowok lain yang kucintai. Tidak!! Lantaran getaran rasa untuk menjadi seorang suster sangat kuat. Bahkan ketika niat ini kubicarakan dengan kedua orang tuaku, awalnya sang ayah sangat menentang. Karena sebagai anak sulung saya diharapkan bisa bekerja sebagai seorang PNS, membantu pendidikan adik-adik saya. Namun niat yang kokoh kuat dan demi kebaikan serta kebahagiaan masa depan hidup saya, ayah pun luluh mengijinkan saya menjadi seorang suster.

Demikian juga dengan cowok saya waktu itu. Awal mendengar niat dan kata putus dari saya, ia sangat menentang dan menolak diputus. Iapun akhirnya luluh ketika mendengar ungkapanku demikin; “bukankah mencintai itu untuk saling membahagiakan satu sama lain?”. Bagaimana kebahagiaan itu ada, kalau aku sendiri tidak merasakan kebahagiaan.

Bahkan harus berpura-pura bahagia di depanmu. Harus aku membohongimu dan juga perasaanku atas naman cinta kita yang justru mendera dan membuatku menderita atas getaran cinta menjadi seorang suster yang demikian kuat dalam bathinku. Kata-kata saya ini yang kemudian menyadarkan cowok saya. Sehingga iapun dengan senang hati dan bahagia mendukungku menjadi seorang suster.

Mendengarkan sharing dan penjelasan singkat mengapa ia menjadi suster, anggota OMK yang nota bene adalah kaum pria mengangguk-angguk sambil tersenyum pertanda mengerti. Suster kemudian melanjutkan; “tidak hanya kalian, banyak juga pemuda dan mahasiswa tempat saya kuliah mengagumiku. Bahkan beberapa yang berani mengungkapkan perasaannya kepada saya.

Namun jawaban saya hanya satu dan ini juga menjadi jawaban untuk kalian semua yang mengagumi saya; “Terimakasih karena kalian telah mengagumi keindahan karya cipta sang Pencipta, Allah Yang Kuasa. Rasa kagum kalian pada diriku, membuat saya semakin percaya bahwa menjadi seorang suster adalah anugerah terindah dari Allah sendiri. Maka CUKUPLAH MENGAGUMI AKU, namun terpenting adalah CINTAI DAN BANGGALAH JUBAHKU, SEPERTI AKU MENCINTAI DAN MEMBANGGAKAN ANUGERAH PANGGILAN ALLAH INI sebagai seorang suster”.

Ada pelangi di matamu…
Teruslah berjalan saudariku..