Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Sikap (attitude) Negatif Membunuh Hubungan (Edisi XVI)

Rambu Pernikahan: Sikap (attitude) Negatif Membunuh Hubungan (Edisi XVI)

407
0
Foto: pixabay.com

Banyak orang berpikir, kehancuran hubungan haruslah disebabkan oleh perilaku buruk luar biasa, misalnya perselingkuhan. Nyatanya, banyak pernikahan bubar kendati tidak disebabkan oleh kejadian luar biasa seperti itu. Yang lebih dasariah ialah, hubungan (relationship) antara dua insan itu digerogoti oleh sikap negatif yang terakumulasi dari hari ke hari. Akumulasi sikap negatif dapat menjadi puncak gunung es yang kelihatannya sepele, namun berdaya menghancurkan bahtera pernikahan. Frustrasi demi frustrasi membuat hubungan menjadi kebersamaan yang menyengsarakan.

Dua orang menatap keluar melalui jendela yang sama. Yang satu melihat indahnya langit biru dan merasa bergembira. Yang lain, melihat sumpeknya jalanan yang macet dan merasa tertekan. Apakah sikap dapat diubah atau dipilih (antara yang positif dan negatif)? Tentu saja Anda bisa memilih untuk bersikap bagaimana. Ketika elemen kognitif dan afektif sikap bisa dipengaruhi (misalnya oleh pencerahan dari pandangan seseorang), maka elemen perilaku dari sikap dapat diarahkan sesuai dengan keinginan Anda.

Simon tergesa-gesa hendak ke kantor, namun ia tak menemukan kunci mobilnya. Ia memburu isterinya dan bertanya, “Di mana kunci mobilku?” Lena, isterinya menjawab cuek, “Saya tidak menyetir mobil, mana kutahu di mana kuncinya? Kamu yang tidak hati-hati.” Simon jengkel dan menyambung, “Saya selalu taruh kunci di meja. Sekarang kunci itu tidak ada di sini. Pasti kamu memindahkannya!” Lena menjawab, “Akh, saya bukan satu-satunya orang yang memakai meja ini. Darimana kau tahu sayalah yang memindahkannya? Jika kamu teliti, bagaimana kunci itu bisa hilang?”
Simon dan Lena tidak membina komunikasi yang efektif, melainkan hanya saling kritik dan mengeluh satu sama lain. Sikap negatif ini menyebabkan batin mereka tidak terjalin intim.

Lambert dan Lidya tidak lebih baik. “Kunci mobilku kutaruh di meja, di mana kau pindahkan?” Lambert nembak langsung. Isterinya, Lidya, memperlihatkan muka cemas dan bersalah seraya berkata, “O Maaf, akan saya cari sekarang.” Lambert masih tak puas, “Kamu selalu membuat saya telat ke kantor.” “Ya, itu salahku, saya kurang hati-hati,” jawab isterinya. Lambert masih teruskan bomnya, “Lain kali tolong jangan sentuh barangku.”
Wanita meminta maaf kerap untuk menetralkan suasana. Tapi pria langsung menafsirkannya sebagai pengakuan akan kesalahan. Sikap negatif Lambert, meskipun diakomodasi oleh kelemahlembutan isterinya untuk mencegah konflik terbuka, namun tetap tidak kondusif untuk membangun hubungan yang menenteramkan kedua pihak.

Coba simak skenario lain ini, kejadian serupa yang terjadi pada Leon dan Linda. “Aduh, saya tergesa-gesa nih, kamu lihat di mana kunci mobilku?” tanya Leon pada isterinya. “O, saya bantu cari,” jawab isterinya datar. “Saya rasa, saya taruh di sini,” sela Leon. “Coba pikir-pikir dulu, mungkin kamu taruh di tempat lain?” sambung Linda. “Aha, ya, benar, tadi malam waktu pulang kantor saya kebelet masuk ke toilet,” seru Leon.
Kedua insan ini sama-sama menerapkan sikap positif dalam mengatasi masalah. Melalui sikap ini, tidak hanya masalah terselesaikan, namun yang lebih penting ialah, hubungan mereka diperkaya.

Semoga bermanfaat….

Oleh: Mans Watun, Cssr