Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Pernikahan adalah Seni Kompromi (Edisi XIX)

Rambu Pernikahan: Pernikahan adalah Seni Kompromi (Edisi XIX)

281
0
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

It’s all on your hand…It’s all on your hand…

Langit gelap-terang silih berganti. Cuaca cerah-mendung datang dan pergi. Angin sepoi-sepoi diganti badai. Gelombang tenang dan bergelora mewarnai samudera. Itulah gejala lumrah dan alamiah, juga bagi dua insan yang mengikat diri dalam pernikahan dan cinta. Dengan siapa pun Anda menikah, terlalu naïf jika Anda mengimpikan hal yang enak-enak saja.

Ketika “cuaca buruk” melanda hidup pernikahan, penting diingat-ingat untuk tidak panik. Terkadang ancaman badai dibutuhkan agar kedua insan menyadari pentingnya “saling berpegangan” dan menjaga agar bahtera pernikahan tidak kandas dan karam. Perlu keluwesan untuk tarik-ulur dan tenggang-menenggang harga diri, kepentingan, pendapat, keinginan, dan berbagai permasalahan interpersonal antara Anda dan pasangan.

Seorang wanita pernah berkata, “Perkawinan yang berhasil sebenarnya tidak pernah merupakan ‘memberi-menerima’ yang berbanding 50-50, melainkan 75-25. Kadangkala yang 75 datang dari saya, kadang-kadang dari suami saya”. Pernikahan adalah seni berkompromi dengan murah hati (cincay-cincay-lah, istilah popularnya).

Sayangnya, ucapan yang bagus bagi pasangan suami-isteri baru: “Selamat Menempuh Hidup Baru” kerap terlewati percuma dan tinggal jargon semata. Sebelum menikah, orang tidak terikat apa pun. Sesudah menikah, dua insan, sadar atau tidak, membangun suatu sistem. Sistem itu mempunyai tata-cara hidupnya sendiri, yang menyebabkan kedua insan bertindak menurut cara lain dari tata-cara sebelum mereka mengikat diri. Pasangan pernikahan betul-betul memasuki hidup baru. Hal ini terdengar amat biasa, namun kerap orang kurang menyadarinya.

Tentang seni kompromi dalam pernikahan, David Reuben berujar bagus sekali, “Pernikahan seumpama perjalanan laut yang jauh dalam sebuah perahu dayung kecil. Jika penumpang yang satu menggoyangkan perahu, penumpang yang lain harus menjaga kestabilannya. Kalau tidak, mereka akan karam bersama-sama.”

Semoga bermanfaat…

Oleh: Mans Watun, Cssr