Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Perempuan Merasa, Laki-laki Berpikir (Edisi XX)

Rambu Pernikahan: Perempuan Merasa, Laki-laki Berpikir (Edisi XX)

263
0
Ilustrasi: midcurrentchurch.org

Laki-laki dan perempuan memang berbeda. Pembedaan itu tidak dimaksudkan untuk menambah jarak di antara keduanya, melainkan supaya masing-masing pihak menyadari dan memaklumi berbagai implikasi yang muncul akibat perbedaan itu. Perempuan cenderung merasa, sedangkan laki-laki cenderung berpikir. Jika perempuan mengutarakan masalah, biasanya yang dikehendakinya adalah supaya pendengar memahami perasaannya. Sementara laki-laki yang mendengar beberan masalah, spontan berpikir dan berupaya memecahkannya. Ini yang membuat dua makhluk ini kerap tidak klop.

Lana pulang ke rumah sambil ngomel-ngomel menumpahkan kejengkelannya. “Dasar sopir taxi tak becus. Sengaja bawa penumpang berputar-putar untuk menguras dompet orang.”
“Mungkin alamat yang kamu katakan kurang jelas..”, sela Lex sambil melirik sebentar ke Lana, lalu fokus kembali ke surat kabarnya.
“Udah jelas koq. Saya tanya, tahu Tebet-Menteng Dalam? Dan sopir itu menjawab “Yak!” Tapi dia tidak langsung bawa saya ke Menteng Dalam, melainkan putar-putar tak tentu arah. Sudah jelas dia tidak jujur.”
Menanggapi keluhan isterinya, Lex menjawab tanpa melepaskan bacaannya, “Jangan menghakimi dulu. Emang kamu kasih tau Jalan apa, Gang apa kepada si sopir?”
“Tentu saja. Saya bilang dengan jelas bahwa di samping Gang ada Rumah Makan Mbok Berek. Apa lagi yang kurang jelas?”
“Haha, apa yang jelas? Sopir mana yang bisa ngerti dengan petunjuk seperti itu? Hahahah..”, Lex menjawab sambil geleng-geleng kepala.
“Ok, ok,.. saya yang salah, puas? Puass?”, Lana semakin tak senang.
“Kasihan sekali sopir itu. Dia pasti sengsara harus melayani penumpang yang memberikan petunjuk berputar-putar seperti itu,” sambung Lex seolah belum juga puas mengomentari tingkah isterinya.
“Ok, saya bilang ok. Saya yang salah. Sopir itu yang benar. Dan kau, suami yang idiot! Sumpah, besok-besok saya tak akan cerita apa pun lagi kepadamu!” seru Lana marah dengan tensi melebihi ketika dia menginjak keset kaki di rumah.

Bukannya mendapatkan teman yang mengerti kekesalannya dan ikut mengomel bersamanya, Lana malah harus menghadapi seorang analis problem solving yang justru dengan logis memperlihatkan kesalahannya. Padahal Lana hanya ingin menumpahkan rasa frustrasinya, tak peduli apa pun faktanya. Bukannya menaruh simpati, Lex dengan analisis rasionalnya memperlihatkan akar masalah dan menganggap Lana overacting terhadap masalah sepele itu. Lex pikir, dengan membeberkan akar masalahnya, tensi kekesalan Lana akan reda dan berhenti mengomel. Inilah kesalahan banyak laki-laki. Perasaan perempuan tidak akan terpengaruh secara langsung oleh analisis rasional dan logika. Dia lagi jengkel. Titik. Dan dia ingin Anda berada di pihaknya. Untuk banyak pria, hal ini aneh.

Ketika perempuan menceritakan masalah, mereka memang bukan terutama meminta solusi. Yang mereka butuhkan adalah sepasang telinga yang mendengar dan mata yang menaruh perhatian. Jika mereka menghendaki laki-laki pendengar bersuara, yang mereka butuhkan adalah penghiburan dan rasa aman. Perempuan bukannya tidak mampu menilai akar masalah yang dihadapinya. Tapi saat itu, bagi kebanyakan pribadi bertipe perasa, soal akar masalah bukanlah kepedulian yang utama. Acap kali laki-laki tidak sadar bahwa ketika perempuan perasa menumpahkan kekesalannya, mereka tidak membagikan informasi untuk ditelaah dan dibedah oleh logika, melainkan memberikan “diri” mereka untuk diterima, dipahami, dan agar si pendengar turut berbela rasa.

“Waduh, saya bisa merasakan apa yang kau rasakan”. Mungkin kalimat ini akan mengalahkan puluhan petuah saleh.

Semoga bermanfaat….

Oleh: Mans Watun, Cssr