Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Perempuan Butuh Memperhatikan dan Diperhatikan (Edisi XVII)

Rambu Pernikahan: Perempuan Butuh Memperhatikan dan Diperhatikan (Edisi XVII)

370
0
Ilustrasi: onsizzle.com

Lex pulang dari kerja dan masuk ke rumah. Lana bertanya, “Jalanan macet ya?” Dengan muka kesal, Lex membalas, “Macet apa? Jangan sinis. Emang kamu tidak tahu saya sibuk?” Mendengar suara petir Lex, Lana pun tak mau kalah, “Siapa yang suruh kamu sibuk? Siapa yang sinis? Sama sekali saya tidak bermaksud sinis…Saya hanya khawatir.” Entah apa yang ada dalam pikiran Lex. Suara Lana yang melemah di akhir kalimat tidak menyurutkan kegeramannya. “Khawatir katamu? Khawatir apaaa?” Lana sadar Lex salah paham lagi.
“Dasar. Tak pernah saya ketemu orang seperti kamu. Saya khawatirkan dirimu, malah dapat kuliah. Lain kali saya tak mau peduli lagi, mau hidup, mau mati, terserah!” “
Minggu lalu, saya nonton sepakbola bareng teman dan pulang agak larut. Kamu tidak senang kan?! Dan sekarang kamu perlakukan saya seperti anak kecil. Emang maunya kamu saya sudah ada di rumah sebelum jam 6 sore setiap hari??! Rasional dikit lah…” “
Kau anggap saya tak rasional?! Dengar ya, saya hanya menanyakan pertanyaan yang biasaaaaa”.
“Ya, kenapa tidak pake pertanyaan lain?? Kenapa tanya jalanan macetttt??”
Lana nyerah, duduk diam, dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, Lana menutup percakapan dengan suara lirih, “Betul, saya khawatir, khawatir sesuatu terjadi padamu di jalan. Tapi sudahlah, tak ada yang akan terjadi, semuanya kamu yang kendalikan”.

Kekacauan di atas terjadi dari ketidakpahaman akan kebutuhan emosional yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan butuh untuk menunjukkan perhatian dan kepedulian. Sementara laki-laki membutuhkan atmosfir di mana dirinya dipercayai. Mendapati Lex telat pulang, Lana secara naluriah merasa cemas dan butuh untuk mengeluarkan perhatian dan kepedulian. Oleh Lex, kepedulian itu dilihat sebagai tanda ketidakpercayaan. Lex pikir Lana curiga bahwa dirinya kumpul-kumpul dan minum-minum lagi seperti yang dulu-dulu pernah terjadi. Konflik Lex dan Lana adalah konflik laki-laki dan perempuan, suami dan isteri pada umumnya. Konflik itu muncul dari ketidakpahaman akan kebutuhan psikologis yang terkadang bertolak belakang. Perempuan bukan hanya butuh diperhatikan, melainkan terlebih, dia butuh MEMBERI PERHATIAN. Hal ini sekalipun pernah diketahui kaum laki-laki, namun tidak jarang dilupakan ketika ego untuk dipercaya terancam.

Seandainya saja Lex lebih paham kebutuhan seorang Lana, dan jawab seadanya kenapa dia telat, semuanya akan baik-baik saja. Kita putar waktu mundur kembali ke pertanyaan sambutan Lana.
“Macet? Gak koq. Tadi di kantor, waktu mau pulang, seorang teman lama menawarkan asuransi. Udah saya tolak dengan berbagai cara. Eh,.. dia gak patah arang. Setelah asuransi, dia tawarkan saya untuk menjadi anggota bisnis MLM. Ampunnn…. Lain kali, saya akan bilang agar dia menawarkan hal itu ke kamu aja supaya saya tidak telat pulang ke rumah.”
Lana kaget dan ngeri mendengar ‘agen MLM’, “Oh, plizz deh, jangan biarkan agen MLM itu mencari saya, Sayang”. Suasana menjadi enak. Hari yang melelahkan tersebut dapat dilewati dengan damai tenteram.

Seruput kopi…
Semoga bermanfaat….

Oleh: Mans Watun, Cssr