Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Laki-laki Butuh Dianggap Benar dan Dapat Dipercaya (Edisi XXI)

Rambu Pernikahan: Laki-laki Butuh Dianggap Benar dan Dapat Dipercaya (Edisi XXI)

234
0
Ilustrasi: www.powerofpositivity.com

Menarik untuk meneliti apa yang sebetulnya dibutuhkan laki-laki (suami) maupun perempuan (isteri). Berbagai temuan dapat membuat kita mengangguk-angguk dan tertawa, tepatnya menertawakan diri sendiri. Namun faedah yang lebih besar, tentunya, supaya laki-laki dan perempuan, suami dan isteri dapat lebih saling memahami.

Laki-laki adalah makhluk aneh. Lepas dari apakah dirinya cerdas, setengah cerdas, atau tidak cerdas, mereka butuh dianggap cerdas dan dapat diandalkan dalam sebanyak mungkin hal. Mereka haus banget untuk diberi pengakuan: “Ya, Kamu benar, Honey”. Ego laki-laki mudah terluka oleh kondisi-kondisi yang menempatkan diri mereka dalam kebingungan, ketidaktahuan, ketakberdayaan, teristimewa di hadapan perempuan (cq. Isterinya). Laki-laki mau menjadi pahlawan dan figur serba tahu dan benar, kendati mereka sadar bahwa mereka tidak tahu segalanya atau selalu benar. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan laki-laki adalah “pendengar” yang buruk. Setiap kali perempuan bermaksud sharing keluh-kesah melulu dengan intensi didengarkan, laki-laki dengan sigap siaga menawarkan aneka solusi yang tak dibutuhkan.

Laki-laki butuh (tak sekedar ingin) dianggap figur yang tak membutuhkan pertolongan. Sekalipun mereka, nyatanya, dalam kehidupan rumah tangga membutuhkan pertolongan orang lain, laki-laki (suami) akan mengkondisikan bahwa pertolongan pihak lain bukan untuk dirinya, melainkan untuk isteri atau anak-anaknya.

Suatu sore Lex dan Lana melancong di suatu tempat. Ada rona kebingungan di wajah mereka, sepertinya mereka tidak menempuh arah jalan yang tepat. Setelah sekian menit mobil mereka hanya berputar di jalan yang sama, Lana angkat suara, “Sebaiknya kita tanya orang setempat, di mana arah jalannya.” Lex menjawab, “Akh, saya sudah pernah ke sana, hanya perlu sekian menit untuk mengingat-ingat”. Mobil pun kembali melaju. Namun jalan yang dituju semakin tidak familiar. “Aduh Paa, tanya orang ajalah, ntar kita tersesat”, sela Lana. “Saya bilang tak perlu. Jangan merepotkan orang lain untuk hal sepele seperti ini”, seru Lex dengan ketus. Kembali mobil melaju. Kali ini hampir pasti mereka tersesat. Lana pun tanpa ragu untuk meneruskan desakannya, “Udahlah, apa sih susahnya bertanya. Kalo Papa malu, biar saya yang turun bertan….” “Diam Kau! Kalo saya perlu bertanya, saya akan tanya. Saya tak suka didikte untuk melakukan apa yang harus saya lakukan!”, jawab Lex dengan mimik frustrasi. Suasana menjadi kaku, semangat melancong pun layu, mobil pun serasa enggan bergerak lebih jauh….

Seandainya saja Lana lebih memahami kebutuhan seorang Lex, dia akan berkata, “Waduh, saya paling tak pandai dalam soal arah jalan. Saya takut kita tersesat, Paa. Apa yang harus kita perbuat?” Saya yakin skenario akan menjadi lain. Lex dengan gaya seorang hero akan berkata, “Oh, itu perkara kecil, jangan kuatir,… Saya akan turun dan bertanya pada penduduk sekitar, tenang aja kau, Honey!” Sang Hero tanpa malu akan turun bertanya dan menganggap tindakannya bukan untuk dirinya, melainkan untuk isterinya. Ini singkapan kecil tentang apa yang dibutuhkan laki-laki.

Semoga bermanfaat…