Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan: Introvert versus Ekstrovert (Edisi XVIII)

Rambu Pernikahan: Introvert versus Ekstrovert (Edisi XVIII)

467
0

Lagi-lagi ini soal perbedaan tipe kepribadian. Orang yang bertipe dominan ekstrovert lebih tertarik pada hal-hal di luar dirinya. Mereka sangat gampang membaur dengan orang lain dan menyenangi keramaian. Ketika berkumpul bersama teman-teman, mereka merasa makin ramai, makin menyenangkan. Di mata orang yang mengenalnya, mereka dianggap sebagai orang yang terbuka, sangat sosial, dan gaul. Jika menghadapi masalah, orang ekstrovert tanpa ragu mencari bantuan dan mendiskusikannya dengan orang lain.

Sebaliknya, tipe introvert lebih menyukai dunia batin, menyendiri, merenung dan melamun. Dalam kehidupan sosial, mereka lebih memilih sekelompok kecil teman dekat ketimbang segerombolan besar teman namun tidak dekat. Jika ingin berkumpul, seorang introvert umumnya hanya mengundang teman yang betul-betul karib. Dalam kelompok, umumnya seorang introvert maunya menjadi pendengar saja. Jika ada informasi yang dibutuhkannya, alih-alih mendiskusikannya dengan orang lain, mereka lebih suka mencarinya lewat Oom Google sendirian.

Kedua tipe, ekstrovert maupun introvert, bukanlah pilihan. Setiap orang lahir dengan membawa kecenderungan lebih ke ekstrovert atau introvert. Kecenderungan itu menjelaskan juga bahwa tak seorang pun yang melulu ekstrovert atau introvert dalam segala aspek kehidupannya. Tipe yang satu tidak lebih baik atau lebih normal ketimbang yang lainnya. Penelitian membuktikan bahwa kedua tipe tersebar secara merata di seluruh masyarakat dunia. Apa pun tipe Anda, Anda berada dalam kategori normal dan rata-rata.

Linda adalah seorang bertipe ekstrovert. Dia suka dan pandai bergaul dengan banyak orang. Semakin banyak interaksi dan aktivitas dengan orang lain, dia semakin kelihatan energik. Sejak kecil Linda terkenal sebagai bintang persahabatan. Semua orang adalah teman dekatnya. Dia juga aktif berargumentasi di kelas. Lambert sebaliknya sangat pendiam dan terkesan pemalu. Bahkan dalam reuni keluarga, Lambert lebih suka menyendiri. Kalaupun dikehendaki untuk membaur, Lambert lebih memilih kelompok kecil yang dirasa lebih familiar. Lambert, tampak jelas, seorang introvert kelas berat.

Anehnya, dua insan ini jatuh cinta dan menikah. Jalan cerita mudah ditebak, setelah menikah, mereka menghadapi masalah dalam hal komunikasi. Setiap kali muncul masalah, Linda berinisiatif untuk segera mendiskusikannya bersama Lambert. Tapi Lambert butuh waktu lebih lama untuk memikirkan dahulu masalah itu sendirian. Lambert kerap merasa Linda terlalu memaksakan diri dan pendapatnya. Sebaliknya, Linda merasa Lambert suka membatasi keinginannya.

Hingga suatu ketika keduanya mengikuti Test Kepribadian Myers-Briggs dan menemukan bahwa perbedaan di antara mereka adalah melulu perbedaan tipe kepribadian. Sejak saat itu, mereka belajar untuk memahami satu sama lain dan berupaya agar perbedaan tipe mereka tidak menjadi berlawanan, melainkan saling melengkapi.

Linda mulai mengurangi acara kumpul ibu-ibu seperti dulu-dulu dan mulai melakukan hal yang disenangi Lambert, misalnya bercengkerama di toko buku. Lambert pun belajar untuk lebih terbuka dan bersosialisasi serta bertahap membiasakan diri bercakap-cakap dengan orang lain. Setiap kali pulang dari gereja, Lambert biasanya cepat-cepat pulang ke rumah. Sekarang karena melihat betapa antusiasnya Linda bercakap-cakap dengan orang di sekelilingnya, Lambert memilih untuk tinggal lebih lama.

Lama kelamaan mereka berhasil saling memahami. Jarak perbedaan semakin terjembatani. Sekalipun sesekali masih muncul masalah, mereka masing-masing tahu dan sadar bahwa masalah itu muncul sebagai implikasi dari perbedaan kepribadian, bukan akibat hal-hal eksternal rumah tangga mereka. Linda pun makin bijak memberi ruang dan waktu bagi Lambert untuk berpikir. Dia turut belajar dan menyadari betapa karakternya selama ini telah membuat dirinya mengambil banyak keputusan secara ceroboh. Dia menjadi respek dengan karakter Lambert yang hati-hati dan merenungkan aneka hal dengan matang. Lambert pun menjadi paham bahwa dia acap kali memikirkan suatu hal berlama lama dan panjang. Dia turut belajar untuk sesekali mengekspresikan diri secara bebas dan langsung. Mereka belajar dan menemukan bahwa perbedaan tidak harus menjadi berlawanan, melainkan bisa saling mengisi, saling melengkapi.

Semoga bermanfaat….

Oleh: Mans Watun, Cssr