Home Nasehat Pernikahan Rambu Perkawinan: SETIAMU adalah CINCIN ABADIMU (Edisi XXVIII)

Rambu Perkawinan: SETIAMU adalah CINCIN ABADIMU (Edisi XXVIII)

38
0
Ilustrasi: http://www.alcmmall.com

Ketika hendak mengenakan kasula, tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara seorang perempuan yang saat itu sedang menggendong anak mereka. Selamat pagi Pater, sapanya lembut. Selamat pagi juga, jawabku sambil membalikan badanku untuk melihat siapa yang sedang menyapaku. Ternyata suara itu adalah suara mempelai yang bersama suaminya hendak menemui saya. Dalam hati, mungkin mereka mau menanyakan rangkaian upacara pemberkatan walaupun sudah ada gladi bersih sehari sebelumnya yang dirangkai dengan pengakuan dosa.
Bagaimana bu, pak? tanyaku. Hemmmm…cukup lama mereka terdiam dan saling memandang di antara mereka. Sambil tertunduk “malu” sang istri mencoba untuk menjawab pertanyaanku. Begini Pater….namun tidak melanjutkan suaranya membahasakan pesannya. Tak kuduga, buliran air mata sang istri dan suami menetes membasahi paras mereka. Akupun jadi bingung. Jangan-jangan batal atau ada persoalan ni, ungkapku dalam hati.
Kucoba menenangkan mereka. Katakan saja, apa yang menjadi keperluan kalian. Tidak usah takut ataupun malu, sapaku. Selang beberapa detik, dengan menghela nafas panjang sang istri memandangku sambil berkata; PATER, KAMI BELUM PUNYA CINCIN, APAKAH KAMI BISA MENIKAH. Saya tersentak kaget, bukan karena marah tapi karena pertanyaan itu sendiri.
Saya kemudian menjawab dalam rasa sedih dan haru, tidak masalah kok. Kalian tetap bisa menikah. Kalau sudah ada uang dan bisa membeli cincin, bawalah kepada saya, saya berkati kemudian bisa kalian kenakan. Paling penting adalah KESETIAAN kalian berdua dan tanggungjawab kalian untuk masa depan anak-anak kalian. Soal cincin itu hanya simbol. Tapi CINCIN ABADI KALIAN BERDUA adalah KESETIAAN KALIAN BERDUA.
Mendengar penjeleasanku, mereka akhirnya bisa tenang dan Perayaan Ekaristi Sakramen Perkawinan pun bisa kami laksanakan dengan khidmat dan lancar.

itulah sepenggal kisah ketika menikahkan sepasang suami isteri sederhana, dari keluarga petani yang menggantungkan ekonomi mereka pada sebidang tanah milik pemerintah untuk menanam sayur.

‘Kenakanlah cincin ini pada jari manis suami/istrimu sebagai lambang cinta dan kesetiaanmu kepadanya.’
Salah satu ritual dalam upacara pernikahan adalah pemasangan cincin perkawinan di jari manis. Cincin perkawinan bukan sekadar aksesoris atau pelengkap belaka tetapi punya makna dan pesan penting bagi perkawinan.
Tradisi mengenakan cincin perkawinan berasal dari tradisi kuno orang Mesir. Mereka yakin bahwa sebuah lingkaran yang tak berujung menandakan ikatan abadi yang tak terputus oleh dua insan. Cincin yang melingkar di jari adalah lambang kesetiaan dan pengikat perjanjian suci yang telah diucapkan.
Orang Romawi meyakini bahwa jari manis memiliki saraf atau pembuluh darah yang menghubungkannya langsung ke jantung. Bila seseorang menaruh cincin di jari manis, itu berarti hatinya sudah terisi dengan cinta. Cincin menjadi lambang ikatan cinta abadi yang saling mengisi satu sama lain.
Mengenakan cincin di jari manis adalah simbol cinta dan kesetiaan terhadap perjanjian kekal yang sudah diikrarkan. Mereka bukan lagi dua melainkan satu karena hati mereka sudah terhubung dan terisi satu sama lain dengan cinta.
Tak peduli terbuat dari apa atau berapa harganya, cincin perkawinan itu mahal, semahal cinta dan kesetiaanmu kepada pasangan.
Maka, jangan gadaikan…

Semoga bermanfaat…