Home Artikel Pesan Kebudayaan Ende & Jawa untuk Indonesia

Pesan Kebudayaan Ende & Jawa untuk Indonesia

421
0

Refleksi Kebudayaan:
Oleh Anthony Tonggo*

SORE ini saya (asal Ende-Flores-NTT) berkostum ala kerabat raja Keraton Surakarta (Solo). Ini bukan seremoni pengukuhan gelar “Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Toningrat” untuk saya, tapi ini menyangkut tugas saya sebagai ngemong tamu sebuah pernikahan anak sahabat saya asal Solo di Jogja.

Mengapa saya harus berkostum Jawa Solo? Kenapa saya tidak pakai ‘zuka-zesu-sanai Ende sebagai karya luhur leluhurku?
****

Pesan Ende = Jawa

SAYA beristrikan orang Jawa dan menetap di Jogja. Ada kesamaan pesan filosofi antara Ende dan Jawa.

Ketika seorang anak hendak keluar dari rumah dan pergi meninggalkan keluarga dan kampungnya, pesan filosofi Ende yang selalu terucap dari tetua adalah: “Maso kopo rongo, me dheko rongo; maso kopo kamba, ua dheko kamba!”

Pesan leluhur ini menunjukkan bahwa di mana pun kita berada maka kita harus menerima dan menghargai kebudayaan di lokasi tersebut. Saya harus menerima budaya Jawa tanpa harus melepaskan ke-Ende-an saya.

Pesan Ende ini pun bermakna yang sama persis dengan pesan filosofi Jawa: “Wonten ndeso, wonten corone”. Atau yang sudah populernya: “Di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung”. Pesan leluhur Jawa ini pun sama dengan pesan leluhur Ende.

Namun ke-Ende-an harus (dan pasti) tetap melekat-erat dalam saya. Bagaimana Ende-Jawa bisa terpendam dalam saya?
****

Aku Orang Ende yang Hidup di Jawa

BERBAGAI perilaku, gaya pikir, gaya hidup saya pun masih tetap mudah ditanda bahwa saya adalah orang Ende yang hidup di Jawa.

Keceplas-ceplosan, ekspresif, dan terbuka adalah tetaplah milik budaya Endeku. Orang Jawa pada mulanya kaget, namun lambat-laun mereka terima sebagai sebuah kekhasan yang bagus buat refleksi budaya Jawa yang penuh basa-basi dan introfert. Lama-lama, ada juga orang Jawa yang ikut karakter orang Ende: jadi terbuka dan ekspresif.

Bahkan ketika dalam pertemuan masyarakat kampung/desa tempat saya tinggal yang penuh dengan kaum santri NU (yang akrab dengan sarung), saya pun datang dengan sarung Endeku (zuka/ragi).

Hari ini, semua panitia berpakaian Jawa-Solo seperti saya. Jalannya selangkah kira-kira berpindah 5 cm, saya tetap 25 cm sambil kainnya ditarik ke atas.

Ketika terima tamu, yang lainnya cuma saling menjulur ujung jari tangan yang dikatup dua mirip buah coklat tua, saya menggenggam-erat sambil menggoyang-goyangkan tangan tamu.

Ketika orang Jawa cuma senyum menarik bibir dengan gigi tetap bersembunyi, namun saya dengan suara agak keras menyambut tamu sambil tertawa lebar.

Namun tugas saya tetap menyukseskan pesta ini. Anggota panitia lainnya pun tetap bisa menjalani tugas mereka. Pernikahan ini tetap sukses lancar dengan kombinasi budaya Ende dan Jawa.

Begitulah pula, kata antropolog Emile Durkheim, wahyu adalah inti beragama kita. Sisanya adalah cuma budaya di setiap daerah/suku/bangsa agama itu berada. Jadi, kita ini harus Islam Nusantara, Kristiani Nusantara, Hindu-Budha Nusantara, dll. Inti setiap agama (wahyu) sudah ada di Pancasila. Makanya Pancasila itu harga mati. Yang menolak Pancasila sekaligus kewahyuannya pun dipertanyakan.

Selamat Menjadi Indonesia Kita…! (***)

Refleksi Kebudayaan:
Pesan Kebudayaan Ende & Jawa untuk Indonesia

Oleh Anthony Tonggo*

SORE ini saya (asal Ende) berkostum ala kerabat raja Keraton Surakarta (Solo). Ini bukan seremoni pengukuhan gelar “Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Toningrat” untuk saya, tapi ini menyangkut tugas saya sebagai ngemong tamu sebuah pernikahan anak sahabat saya asal Solo di Jogja.

Mengapa saya harus berkostum Jawa Solo? Kenapa saya tidak pakai ‘zuka-zesu-sanai Ende sebagai karya luhur leluhurku?
****

Pesan Ende = Jawa

SAYA beristrikan orang Jawa dan menetap di Jogja. Ada kesamaan pesan filosofi antara Ende dan Jawa.

Ketika seorang anak hendak keluar dari rumah dan pergi meninggalkan keluarga dan kampungnya, pesan filosofi Ende yang selalu terucap dari tetua adalah: “Maso kopo rongo, me dheko rongo; maso kopo kamba, ua dheko kamba!”

Pesan leluhur ini menunjukkan bahwa di mana pun kita berada maka kita harus menerima dan menghargai kebudayaan di lokasi tersebut. Saya harus menerima budaya Jawa tanpa harus melepaskan ke-Ende-an saya.

Pesan Ende ini pun bermakna yang sama persis dengan pesan filosofi Jawa: “Wonten ndeso, wonten corone”. Atau yang sudah populernya: “Di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung”. Pesan leluhur Jawa ini pun sama dengan pesan leluhur Ende.

Namun ke-Ende-an harus (dan pasti) tetap melekat-erat dalam saya. Bagaimana Ende-Jawa bisa terpendam dalam saya?
****

Aku Orang Ende yang Hidup di Jawa

BERBAGAI perilaku, gaya pikir, gaya hidup saya pun masih tetap mudah ditanda bahwa saya adalah orang Ende yang hidup di Jawa.

Keceplas-ceplosan, ekspresif, dan terbuka adalah tetaplah milik budaya Endeku. Orang Jawa pada mulanya kaget, namun lambat-laun mereka terima sebagai sebuah kekhasan yang bagus buat refleksi budaya Jawa yang penuh basa-basi dan introfert. Lama-lama, ada juga orang Jawa yang ikut karakter orang Ende: jadi terbuka dan ekspresif.

Bahkan ketika dalam pertemuan masyarakat kampung/desa tempat saya tinggal yang penuh dengan kaum santri NU (yang akrab dengan sarung), saya pun datang dengan sarung Endeku (zuka/ragi).

Hari ini, semua panitia berpakaian Jawa-Solo seperti saya. Jalannya selangkah kira-kira berpindah 5 cm, saya tetap 25 cm sambil kainnya ditarik ke atas.

Ketika terima tamu, yang lainnya cuma saling menjulur ujung jari tangan yang dikatup dua mirip buah coklat tua, saya menggenggam-erat sambil menggoyang-goyangkan tangan tamu.

Ketika orang Jawa cuma senyum menarik bibir dengan gigi tetap bersembunyi, namun saya dengan suara agak keras menyambut tamu sambil tertawa lebar.

Namun tugas saya tetap menyukseskan pesta ini. Anggota panitia lainnya pun tetap bisa menjalani tugas mereka. Pernikahan ini tetap sukses lancar dengan kombinasi budaya Ende dan Jawa.

Begitulah pula, kata antropolog Emile Durkheim, wahyu adalah inti beragama kita. Sisanya adalah cuma budaya di setiap daerah/suku/bangsa agama itu berada. Jadi, kita ini harus Islam Nusantara, Kristiani Nusantara, Hindu-Budha Nusantara, dll. Inti setiap agama (wahyu) sudah ada di Pancasila. Makanya Pancasila itu harga mati. Yang menolak Pancasila sekaligus kewahyuannya pun dipertanyakan.

Selamat Menjadi Indonesia Kita…! (***)