Home Makalah Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistik Pada Murid SD

Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistik Pada Murid SD

181
0
Maria Maxensia Due,S.Pd.SD
Maria Maxensia Due,S.Pd.SD

Oleh : Maria Maxensia Due, S. Pd. SD

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis haturkan kehadirat Allah yang Mahakuasa atas berkat dan kuasaNya yang berlimpah Penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistik pada Murid Kelas IV SDK Mataia, Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun Ajaran 2014/ 2015.

Dari sekian banyak Mata Pelajaran yang diajarkan di SD, Mata Pembelajaran Matematika merupakan pelajaran yang sangat mengganjal bagi Murid SD secara umum, khususnya Murid SDK Mataia.

Hal tersebut akan teratasi jika adanya PBM (Proses Belajar Mengajar) yang baik dan menyenangkan. PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) merupakan faktor penting pendukung keberhasilan pembelajaran dikelas.

Berangkat dari faktor lapangan, Penulis memaparkan Penulisan Laporan perbaikan ini, beberapa hal yang berkaitan dengan Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.

Penulis berterimakasih kepada semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah memberikan sumbangan saran dan pikiran dalam menyelesaikan penulisan ini, secara khusus disampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Bapak Silvester Hale, SE selaku Pengelolah KBMUT Ngada.
  2. Bapak Drs. Lobo Petrus selaku Dosen Pembimbing Mata Pembelajaran PKP (Pemantapan Kemampuan Profesional).
  3. Supervisor yang telah membimbing dan memberi masukan serta dorongan bagi Penulis untuk menyelesaikan penulisan laporan ini.
  4. Teman-teman Guru yang telah bekerja sama serta saling memberikan informasi sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik.

Akhirnya seperti pepatah usang mengatakan “Tiada gading yang retak“, Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran bersifat konstruktif positif.

Mataia, 21 Februari 2015

Penulis

 

DAFTAR ISI

 HALAMAN JUDU……………………. i

KATA PENGANTAR ……………….  ii

DAFTAR ISI………………………..  iii

ABSTAK …………………………….   iv

BAB I PENDAHULUAN

  • Latar Belakang …………………………………………………… 1
  • Rumusan Masalah ………………………………………………. 3

1.3 Tujuan………………………………………………………………. 3

1.4 Manfaat…………………………………………………………….. 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hakikat……………………………………………………………… 4

2.2 Pembelajaran Matematika Dalam Perspektif, Konstruksi, Realistik   ……………………………………………………………… 5

2.3 Pembelajaran Matematika Perspektif Kooperatif ………….. 7

2.4 Konstruktivisme Realistis Versus Kooperatif ……………… 8

2.5 Hipotesis Penelitian ……………………………………………. 9

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN

3.1 Subyek Penelitian (lokasi, waktu, mata pelajaran, kelas dan

karakteristik murid ……………………………………………… 10

3.2 Deskripsi persiklus (rencana, pelaksanaan, pengamatan) /

pengumpulan data / instrumen, refleksi ……………………… 10

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi per siklus (data tentang rencana, pengamatan, refleksi)

keberhasilan dan kegagalan, lengkap dengan data) dan

pembahasan………………………………………………………… 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan……………………………………………………… 26

5.2 Saran…………………………………………………………….. 26

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… 27

 

ABSTRAK

Maria Maxensia Due, S.Pd.SD. NIP. 19661212 198607 2 004. Laporan Penelitian Tindakan Kelas Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Realistik Pada Murid Kelas VI SDK Mataia Kabupaten Ngada.

Karya Tulis ini sudah disetujui dan diperiksa oleh Pembimbing.

Setiap usaha, baik belajar maupun mengajar, merupakan upaya untuk menumbuhkan pola perilaku manusia dalam memperbaiki dan mempertahankan mutu hidupnya. Disamping menumbuhkan atau menyepurnakan pola perilaku, pengajaran bertujuan untuk menimbulkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiagaan, dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa dengan cara yang lebih mudah tanpa menghabiskan tenaga.

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari prestasi belajar matematika yang diajarkan dengan pendekatan realistik pada murid kelas IV SDK Mata Ia tahun ajaran 2014-2015.Meningkatkan hasil belajar murid.Meningkatkan kompetensi mengajar guru.Menerapkan berbagai metode seperti metode demonstrasi, tanya jawab, diskusi, penugasan, presentase dan teknik mengajar dalam pembelajaran matematika di kelas.Untuk memenuhi salah satu persyaratan kenaikan pangkat ke IV b.

Berdasarkan rumusan masalah yang dibahas : apakah pendekatan realistik berpengaruh pada prestasi matematika kelas IV SDK Mataia.

Pada dasarnya belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan. Jadi peristiwa belajar terjadi apabila perubahan tingkah laku dan perubahan lain semacamnya, terus- menerus terjadi selama manusia masih hidup. Oleh karena itu proses belajar memerlukan waktu.

Kata Kunci :Pembelajaran Matematika, Realistik.

 

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap usaha, baik belajar maupun mengajar, merupakan upaya untuk menumbuhkan pola perilaku manusia dalam memperbaiki dan mempertahankan hidupnya. Pola perilaku tersebut berupa kegiatan mengamati, menganalisa dan menilai keadaan dan daya nalar berupa kegiatan yang dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik. Kegiatan ini terjadi bila terjalinnya hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Disamping menumbuhkan atau menyempurnakan pola perilaku, pengajaran yang bertujuan untuk menimbulkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiagaan, dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa dengan cara yang lebih mudah tanpa menghabiskan tenaga. Kebiasan akan timbul apabila kegiatan manusia dilakukan secara terus menerus dengan sadar dan penuh pertimbangan.

Tujuan tiap pengajaran ialah untuk menimbulkan atau menyempurnakan pola perilaku dan membina kebiasaan sehingga peserta didik terampil didalam menjawab tentang situasi hidup secara manusia, dengan kata lain pengajar ingin memekarkan kemampuan berpikir dan kemampuan bertindak para peserta didik sehingga dapat dalam menghadapi keadaan apapun, peserta didik diharapkan cukup sanggup mengamati dan menilai keadaan serta menentukan sikap dan tindakannya dalam keadaan tersebut. Pengajar perlu membina pola berpikir, keterpilan,\ dan kebiasaan yang terbuka dan bertanggung jawab yang mampu menyesuaikan diri secara manusiawi menuju perubahan.

Jikalau tujuan mengajar adalah menumbuhkan dan menyempurnakan pola perilaku, membina kebiasaan dan kemahiran menyesuaikan diri kepada keadaan yang berupa keadaan yang berubah-ubah, maka metode mengajar harus mendorong proses pertumbuhan dan pola perilaku dan membina kebiasaan serta mengembangkan kemahiran untuk menyesuaikan diri.

Terlalu sering pengajaran dianggap sebagai pengalihan atau transfer pengetahuan dan keterampilan. Pengalihan pengetahuan dan keterampilan memang diperlukan, akan tetapi apabila pengalihan tersebut hanya berhasil meneruskan sesuatu dari pengajar yang mengetahui kepada perserta didik yang belum mengetahui dan tidak mampu membina kesanggupan dan ketanggapan para peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam situasi hidup yang dihadapi sehari-hari, maka pengajaran tidak mencapai sasarannya. Bahkan lebih dari itu pengajaran  harus mampu, membina kemahiran para peserta didik untuk secara kreatif dapat menghadapi situasi yang baru sama sekali tidak dengan cara yang memuaskan.

Pemikiran kreatif harus dapat menentukan tindakan kreatif dalam tiap pengajaran, terutama pada zaman yang sudah penuh dengan perubahan seperti saat sekarang. Maka jelaslah bahwa metode mengajar yang baik harus mengembangkan pemikiran dan tindakan yang kreatif.

Seperti yang dikatakan diatas, metode mengajar ialah pemikiran dan tindakan yang berdikari, kreatif, dan adaptif. Agar peserta didik dapat berpikir dan bertindak secara berdikari, kreatif dan adaptif maka anak didik harus diberikan kesempatan untuk menggunakan semua kemampuan yang dimiliki secara perlahan-lahan, tahap demi tahap, sampai mampu bertindak sendiri berdikari, kreatif, dan adaptif. Peserta didik harus memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan bakat dan kemampuanya tersebut. Manfaat bakat dan kemampuan terjadi apabila peserta didik dirangsang untuk melakukan bermacam-macam kegiatan yang melibatkan bakat dan kemampuan tersebut.

Cara mengajar untuk mencapai hasil seperti yang telah diutarakan diatas, maka harus memberikan keleluasaan secukupnya kepada peserta didik untuk melatih kemampuannya dalam berbagai macam kegiatan yang menuntut sumbangan dari kemampuan tersebut. Tiap pengajar wajib membantu proses belajar dengan merangsang peserta didik untuk giat melakukan sesuatu. Dalam kegiatan yang direncanakan dan dibuat sendiri, peserta didik melatih kemampuannya dan meresapkan apa yang didengarnya lewat pengalaman yang meninggalkan bekas, sehingga bermanfaat dalam perangkat dirinya.

Atas dasar pemikiran- pemikiran tersebut maka penulis menuliskan laporan dengan judul “PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIK PADA MIRID KELAS IV SDK MATAIA TAHUN AJARAN 2014-2015“

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dirumuskan masalah sebagai berikut, apakah pendekatan realistik berpengaruh pada prestasi matematika kelas IV SDK Mataia.

  • Tujuan

Sesuai dengan perumusan masalah diatas maka penulisan laporan ini bertujuan :

  1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari prestasi belajar matematika yang diajarkan dengan pendekatan realistik pada murid kelas IV SDK Mataia tahun ajaran 2014-2015.
  2. Meningkatkan hasil belajar murid.
  3. Meningkatkan kompetensi mengajar guru.
  4. Menerapkan berbagai metode seperti metode demonstrasi, tanya jawab, diskusi, penugasan, presentase dan teknik mengajar dalam pembelajaran matematika di kelas.
  5. Untuk memenuhi salah satu persyaratan kenaikan pangkat.
    • Manfaat

Manfaat yang ingin  dicapai dalam penulisan laporan ini adalah :

  1. Sebagai bahan masukan bagi guru dalam pemilihan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika anak.
  2. Dapat menanamkan pemahaman dalam diri peserta didik tentang pentingnya interaksi dengan teman sebaya dalam bentuk kerja sama untuk pembangunan pengetahuan.
  3. Sebagai bahan referensi dalam pembelajaran matematika bagi murid SD.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • Hakikat

Pada dasarnya belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan. Jadi peristiwa belajar terjadi apabila perubahan tingkah laku dan perubahan lain semacamnya, terus- menerus terjadi selama manusia masih hidup. Oleh karena itu proses belajar memerlukan waktu.

Belajar merupakan kegiatan mental yang menuju pada perubahan dalam merespon situasi tertentu. Menurut Fontana (1981) dalam Udin S. Winata Putra, dkk. (Teori belajar dan pembelajaran. Cet. 1. Jakarta. Universitas Terbuka 2007: 1. 8) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Morgan dan Cronbach dalam Ratumanan (1999: 10- 12) seperti yang dikutip oleh Hengki Kaluge mendefinisikan belajar  sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.

Herman Hurdaya (1998) dalam Made Sugiarta (2001) mengatakan bahwa pengertian konstruktivis, belajar adalah suatu proses yang dibuat sendiri oleh peserta didik. Bodner (1986) dalam Hengki Kaluge mengemukakan bahwa konstruktivis mengharuskan peserta didik aktif secara mental, membangun pengetahuan berdasarkan struktur kognitifnya. Peserta didiklah yang berpikir aktif secara mental, membangun pengetahuan berdasarkan struktur kognitifnya. Peserta didiklah yang berpikir aktif dalam membuat dan merumuskan suatu konsep untuk diambil maknanya, sedangkan peran guru adalah membantu agar proses konstruksi berjalan sehingga peserta didik dapat membentuk pengetahuannya.

Nikson dan Grows (1992) seperti yang dikutip oleh Nyoman Gita (2001: 17) mengatakan bahwa pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktifisme adalah membantu pembelajaran untuk membangun konsep atau prinsip- prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep- konsep atau prinsip-prinsip itu dapat dibangun.

Menurut Hudoyo (1998) dalam Hasbi M (2000: 75) mengatakan ciri pembelajaran matematika berdasarkan pandangan konstruktifisme adalah :

  1. Murid terlibat dalam proses pembelajaran dan murid belajar matematika secara bermakna dengan bekerja serta berpikir.
  2. Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyangkut skemata
  3. yang dimiliki murid agar pemahaman terhadap informasi atau materi kompleks terjadi.

Yang sangat penting dalam teori konstruktifisme adalah bahwa dalam proses belajar muridlah yang harus mendapat penekanan. Mereka harus aktif mengembangkan pengetahuan bukan guru atau orang lain. Dari pengertian- pengertian diatas terimplisit bahwa belajar tidak berorentasi pada hasil, tetapi juga pada proses yang dilakukan untuk memperoleh hasil tersebut. Disamping itu kemampuan baru yang diperoleh dari hasil belajar dapat saja berkurang bahkan hilang jika tidak diberikan penguatan dan latihan berulang-ulang dalam belajar dibutuhkan secara kontinu untuk menghasilkan kemampuan tersebut setidaknya mempertahankan pengetahuan yang telah ada.

  • Pembelajaran Matematika dalam Perspektif Konstruktivisme Realistik

Matematika realistik yang telah dikembangkan di Belanda disebut Realistik Matematic Education (RME). Teori ini mengacu pada pendapat Fruedenthal yang mengatakan matematika merupakan aktivitas manusia. Berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari- hari. Matematika sebagai aktifitas manusia maksudnya manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembai ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa melalui penjelajahan situasi dan persoalan- persoalan realistik.

Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh peserta didik. ( Dick, 1999, Slettnhaar, 2000) dalam Hengki Kaluge (2002). Histori dari matematika dapat digunakan sebagai sumber inspirasi untuk merangsang materi. Selain itu prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur pemecahan informal. Proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.

Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Treffers (1991) dalam Hengki Kaluge (2002) yaitu matematisasi horizontal dan vertikal. Matematisasi horizontal adalah bergerak dari nyata kedalam dunia simbol sedangkan matematisasi vertikal bergerak dari dunia simbol ke dunia nyata.

Seperti uraian sebelumnya salah satu ide yang mendasari RME adalah peserta didik diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika seperti penemuan oleh matematikawan. Kalau dilihat dari sejarah ide-ide matematika itu berawal dari adanya masalah yang mana masalah ini bisa muncul situasi realistik atau masalah yang dihadapi atau yang diberikan orang lain. Masalah yang diberikan guru kepada peserta didik belum tentu menyenangkan. Hal yang menarik apabila masalah itu merupakan konstruksi peserta didik sendiri.

Dalam pembelajaran  matematika realistik  peserta didik diberikan kebebasan untuk menemukan bentuk- bentuk matematika informal. Bentuk- bentuk ini akan dikonfrontasi dengan peserta didik yang lain melalui proses interaksi sosial atau negosiasi, maka bentuk matematika formal akan dicapai. Evaluasi proses selama pembelajaran dan tes dengan pernyataan terbuka.

Matthews, dalam Suparno (1997) membedakan dua tradisi besar dari konstruktivisme yaitu konstruktivisme psikologis dan konstruktivisme sosiologis. Konstruktivisme psikologis bertolak dari perkembangan psikologis anak dalam pandangan bahwa masyarakat membangun pengetahuan.

Bertolak dari kedua perpektif tersebut maka prinsip- prinsip belajar yang berpaham konstruktivis diantaranya adalah :

  1. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri baik personal maupun sosial.
  2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke peserta didik kecuali dengan aktivitas peserta didik itu sendiri untuk bernalar.
  3. Peserta didik aktif.
  4. Guru bertugas membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi peserta didik dapat berjalan baik.

Terkait dengan masalah evaluasi dalam pembelajaran maka dalam pandangan konstruktivis , evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan yang terintegritasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata,menggali munculnya berpikir divergen, pemecahan ganda bukan hanya satu jawaban yang benar, evaluasi harus diintegrasikan ke dalam tugas- tugas yang menurut aktifitas belajar bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata bukan kegiatan yang terpisah.

Langkah- langkah model pembelajaran berbasis konstruktivis realistis adalah :

  1. Tujuan : meningkatkan kualitas pemahaman dan pengembangan kemampuan

berpikir anak.

  1. Fokus : belajar bermakna melalui pemecahan masalah dan pembelajaran

bukti.

  1. Peran : Guru sebagai fasilitator dan peserta didik berperan aktif.
  2. Pengorganisasian : pemberian tugas yang bervariasi dan mengacu pada keseimbangan dan karakeristik peserta didik.
  3. Metode : diskusi, kerja mandiri dan konsep.
  • Pembelajaran Matematika dalam Perspektif Kooperatif

Komunikasi antar peserta didik dalam kelompok kooperatif akan lebih bermakna karena kelompok kooperatif merupakan kelompok kecil yang heterogen. Heterogen dalam hal kemampuan matematika. Status sosial, ras, etnik, gender dan perbedaan lainnya. Penggunaan kooperatif ini akan berakibat peserta didik dapat berkomunikasi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Peserta didik yang mengalami kesulitan harus aktif berpikir dan meminta bantuan kepada teman- teman dalam kelompoknya yang lebih mampu sehingga komunikasi matematis dapat efektif dan efisien.

Menurut Leiken (1997) dalam Paul Suparno (2002 terdapat lima jenis interaksi dalam kegiatan pembelajaran matematika yaitu : komunikasi antara murid dengan murid, antara murid dengan  perangkat pembelajaran, antara murid dengan guru, antara murid dengan  perangkat pembelajaran dan murid, antara murid dengan  perangkat pembelajaran dan murid.

Pengajaran interaktif memungkinkan guru dan murid untuk saling mempengaruhi dalam berpikir. Guru membuat tugas ang memancing murid untuk saling mempengaruhi dalam berpikir dan mengkontruksikan konsep- konsep, membangun aturan- aturan dan belajar strategi pemecahan masalah. Guru meminta peserta didik untuk menjelaskan pekerjaan mereka dan memikirkan respon anak, serta refleksi guru untuk merencanakan pengajaran sehingga akan lebih maju dalam belajar matematika.

Holmes (1995) dalam Hengki Kaluge (2002) mengklasifikasikan pelaaksanaan pengajaran interaktif dalam lima tahap yaitu : p0engantar, aktivitas atau fase pemecahan masalah, diskusi hasil pemecahan masalah, meringkas dan penilaian atau evaluasi unit materi.

Aktivitas atau pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan sangat menentukan. Aktivitas atau pemecahan masalh ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Dengan membiasakan murid dalam kegiatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan murid dalam hal tersebut. Hal tersebut sesuai8 dengan pendapat Meiekr dalam Ratumanan (2000) seperti yang dikutip oleh Hengki Kaluge (2002) bahwa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah tidak hanya cukup memberikan mereka contoh pemecahan masalah saja. Yang menentukan murid secara mandiri dan aktif menghadapi serta menggarap masalahnya. Titik tolaknya adalah siasat yang ditentukan sendiri oleh murid akan lebih baik dan melekat dalam pikiran atau ingatan mereka dari pada yang disampaikan oleh guru.

Dalam pengajaran matematika yang berperspektif kooperatif, murid dilibatkan dalam berpikir saat melakukan manipulasi, investigasi, eksperimen dalam menyelesaikan masalah. Murid juga dihadapkan dengan pertanyaan- pertanyaan baik dari guru maupun dari temannya yang memungkinkan murid untuk menggunakan pemikiran tingkat tinggi, mengkonstruksi konsep- konsep, melihat hubungan antar konsep, menghubungkan model- model pada representasi simbolik dan sebagainya. Kondisi seperti ini sangat bermanfaat bagi pengembangan kemampuan penalaran murid.

  • Konstruktivisme Realistik Versus Kooperatif

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa pengajaran kooperatif adalah bagian dari model pembelajaran dalam perspektif  konstruktivis realistik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slavin dan Widada (2000) seperti yang dikutip oleh Hengki Kaluge (2002) yang mengatakan bahwa pendekatan konstruktivis dalam mengajar adalah menerapkan pembelajaran kooperatif secara menyeluruh. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pengajaran matematika melalui model pembelajaran konstruktivis realistik adalah pelaksanaan menyeluruh semua prosedur pada pembelajaran kooperatif ditambah dengan pengajaran matematika realistik yang didukung oleh aktifitas kelompok kecil yang heterogen.

  • Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori diatas dan kelulusan paradigma pendekatan realistik dalam menyelesaikan suatu masalah yang berkaitan dengan pelajaran matematika maka disusun hipotesis penelitian sebagai berikut : “Secara signifikan hasil belajar murid yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan realistik akan lebih baik dalam menyelesaikan soal matematika pada murid kelas IV SDK Mataia“.

 

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

 

  • Subjek Penelitan
  1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran matematika dilaksanakan di kelas IV SDK Mataia, yang berlokasi di Desa Waeia, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

  1. Waktu Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dimulai dari tanggal 19 September 2014  s/d 21 September 2014   dengan pengaturan jadwal sebagai berikut :
    1. Siklus I tanggal 17 September 2014
    2. Siklus II tanggal 18 September 2014
    3. Siklus III tanggal 19 September 2014
  • Deskripsi Per-Siklus (Prosedur Pelaksanaan)

Prosedur model perbaikan pembelajaran matematika berbasis pendekatan realistik adalah

  1. Tujuan : Meningkatkan kualitas pemahaman dan mengembangkan kemampuan

berpikir murid.

  1. Fokus                    : Belajar bermakna melalui pemecahan masalah dan pembelajaran.
  2. Peran                    : Guru sebagai fasilitator dan murid berperan aktif.
  3. Pengorganisasian             : Pemberian tugas yang berfariasi dan mengacu pada kesiapan dan karakteristik murid.
  4. Metode                : Ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan dan presentase.
  1. Langkah-langkah  yang dapat dilakukan sesuai prosedur pelaksanaan ketiga siklus sebagai berikut :
  1. Perencanaan :

Perbaikan pembelajaran melalui siklus yang berdaur ulang dan berkelanjutan direncanakan dalam tiga siklus :

  1. Penerapan konsep.
  2. Pengembangan teknik belajar kelompok yang optimal.
  3. Melibatkan murid secara aktif.
  4. Pengembangan teknik bertanya dan mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok.
  5. Mengadakan ulangan.
  6. Pelaksanaan
  7. Guru mengobservasi kelas dan membentuk kelompok belajar.
  8. Guru menjelaskan materi pembelajaran.
  9. Guru membagikan LKM kepada murid.
  10. Guru membimbing murid dalam kelompok.
  11. Guru mengadakan post test.
  12. Penilaia terhadap hasil kerja murid.
  13. Menganalisis dan mengadakan perbaikan / pengayaan.
  14. Pengumpulan data
  15. Data diperoleh dari lembaran observasi dan hasil tes yang dilakukan.
  16. Cara mengumpulkan data yaitu dari hasil tes dan kegiatan perbaikan pembelajaran di kelas.
  17. Teknik analisa data.

Setelah data dikumpulkan lalu dianalisis. Bagi murrid yang nilai ulangannya dibawah standar, diklasifikasikan dan diadakan perbaikan baik secara individu maupun secara kelompok atau diadakan bimbingan secara khusus. Tujuan perbaikan pembelajaran adalah memecahkan masalah- masalah yang dihadapi oleh murid dan guru dalam proses belajar mengajar.

  1. Refleksi

Setelah melakukan perbaikan pembelajaran pada semua siklus, ditemukan beberapa hal yang perlu untuk direfleksikan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Guru harus menyiapkan perangkat pembelajaran dengan baik.
  2. Untuk memudahkan pemahaman anak perlu digunakan metode yang bervariasi.
  3. Penggunaan alat peraga sangat diperlukan.
  4. Pembagian kelompok diskusi perlu pertimbangan keheterogenan murid dari berbagai latar belakang serta tingkat kemampuan murid.
  5. Murid yang mengalami kesulitan dalam belajar harus dibimbing secara khusus.
  6. Pembelajaran yang belum tuntas dilakukan perbaikan.
  7. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran ternyata ada kemajuan yang terbukti sebagian besar murid dapat memahami materi yang diajarkan guru.

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  • Deskripsi Hasil Pelaksanaan Siklus I
  1. Pelaksanaan Pembelajaran

Pertemuan 1

Hari/ Tanggal                     : Rabu, 17 September 2014

Waktu                                   : 2 x 35 menit

Standar Kompetensi       : 5. Menggunakan Pecahan dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar            : 5.4. Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala.

Indikator                              : 1.Menjelaskan arti dari skala.

2.Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan dan skala.

Sebagai apresiasi guru menciptakan tentang masalah yang berkaitan dengan perbandingan dan skala, setelah itu guru membagi murid dalam kelompok kemudian guru membagikan soal untuk murid dalam kelompok.

  1. Interprestasi

Hasil pengamatan guru ( penelitian) menunjukan kerja sama antara murid dan guru makin nampak walaupun ada sebagaian kecil murid yang masih belum berani menggunakan idenya dan ada banyak murid yang mendominasi dalam kelompoknya.

  1. Pengamatan

Pada pelaksanaan pembelajaran, murid sudah mulai menggunakan keterampilan- keterampilan kooperatif pada pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik. Dalam kondisi pembelajaran seperti ini guru berfungsi sebagai fasilitator yaitu menyediakan sarana pembelajaran bagi murid dalam meningkatkan prestasi belajar. Guru memotifasi murid untuk bersikap kreatif dengan cara membantu mereka menemukan ide dasar, aturan-aturan dasar dan prinsip-prinsip matematika.

  1. Refleksi

Dari keseluruhan pengamatan terhadap kegiatan guru dan murid, diperoleh beberapa hal yang harus direfleksikan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.

  1. Guru perlu menerapkan proses belajar keterampilan belajar motorik yaitu menjelaskan kepada murid prosedur pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik.
  2. Pemberian alokasi waktu yang cukup dan bimbingan bagi setiap kelompok memprioritaskan murid yang kurang aktif atau yang berkemampuan rendah.
  3. Pembentukan kelompok pada pembelajaran berikutnya, tetap ditentukan oleh guru dengan mempertimbangkan keheterogenan murid dari berbagai latar belakang serta tingkat kemampuan murid.
  4. Bagi murid perlu diterapkan sikap saling menghargai satu sama lain dan menghargai pendapat teman. Hal ini untuk membangkitkan semangat belajar matematika pada murid.

Pengamatan terhadap tes akhir hasil belajar murid pada siklus 1 menunjukan bahwa murid yang tuntas belajar di kelas IV mencapai 10 orang (43,5%) dan tidak tuntas 13 orang (56,5 %) dengan nilai rata-rata 5,5.

Hasil : Tabel 1

Daftar Hasil Evaluasi Pembelajaran

Mata Pelajaran                           : Matematika

Kelas                                           : IV/ Empat

SDK                                   : Mataia

Siklus                                               : 1

NoNama MuridNilai
123
1Benediktus R.Geli3,5
2Cresensia E. Odo5
3Dominggus W. Aran5
4Emanuel Bu’u6
5Eufrasia Bupu3,5
6Faustina Ude6,5
7Ferdinandus Lengi7
8Geraldina A. Wake6
9Heribertus Rewa5,5
10Heronimus Tangi4,5
11Maria Natalia Dhiu5
12Mari Yasintha Due5
13Maria Go’o Beoang5
14Primus Sa’i5,5
15Rufina Yulita Milo6
16Veridiana Naru Raga7
17Veronika Wawo6
18Yoseph F. Fua4,5
19Fransiska X. Rita5
20Mario Oba6
21Beatus Amatus Anu6
22Falentinus Kore5
23Yordianus Jago Bela6
Jumlah124,5
Rata –rata5, 413

 

Data observasi terhadap kegiatan pembelajaran murid dalam melakukan pembelajaran pada siklus 1 belum mengalami kemajuan. Hal ini diperoleh dari data yang menunjukan bahwa minat anak untuk bertanya masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena perasaan malu, takut salah, kurang percaya diri.

Aktifitas murid pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 2

Tabel 2

Hasil Kerja Kelompok pada Siklus 1

NoNama KelompokNilai Yang DiperolehJumlah SkorRata-rata
PartisipasiKerjasamaHasil kerja
1Kelompok A675186,  00
2Kelompok B666186,  00
3Kelompok C665175, 66
4Kelompok D766196, 34
5Kelompok E666186,  00

 

Berdasarkan data pengamatan diatas kesimpulan yang diambil adalah hasil belajar murid pada siklus pertama masih rendah.

  • Deskripsi Hasil Pelaksanaan Siklus II
  1. Pelaksanaan Pembelajaran

Pertemuan 2

Hari/ Tanggal                     : Kamis, 18 September 2014

Waktu                                   : 2 x 35 menit

Standar Kompetensi       : 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar            : 5.4. Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala.

Indikator                              : 1. Menjelaskan arti dari skala.

  1. Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan dan skala.

Pembelajaran dimulai dengan guru menerangkan kembali tentang materi sebelumnya. Selanjutnya guru memberikan soal untuk dikerjakan murid secara berkelompok masing-masing. Setelah murid selesai mengerjakan soal dalam kelompok guru memanggil salah satu murid untuk mewakili kelompoknya melaporkan hasil kerja kelompok didepan kelas dan mengerjakan di papan tulis.

  1. Interprestasi

Hasil pengamatan Guru (peneliti) menunjukan bahwa kerja sama antara murid dan guru makin nampak walaupun ada sebagian kecil murid yang masih belum berani menggunakan idenya dan ada murid yang banyak mendominasi dalam kelompoknya.

  1. Pengamatan pada pelaksanaan pembelajaran, murid sudah mulai menggunakan keterampilan- keterampilan kooperatif pada pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik. Dalam kondisi pembelajaran seperti ini guru berfungsi sebagai fasilitator yaitu menyediakan sarana pembelajaran bagi murid dalam meningkatkan prestasi belajar. Guru memotifasi murid untuk bersikap kreatif dengan cara membantu mereka menemukan ide dasar, aturan- aturan dan prinsip- prinsip matematika.
  2. Refleksi

Dari keseluruhan pengamatan terhadap kegiatan guru dan kegiatan murid, diperoleh beberapa hal yang harus direfleksikan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.

  1. Guru perlu menerapkan proses belajar keterampilan belajar motorik yaitu menjelaskan kepada murid prosedur pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik.
  2. Pemberian alokasi waktu yang cukup dan bimbingan bagi setiap kelompok dan memprioritaskan murid yang kurang aktif atau yang berkemampuan rendah.
  3. Pembentukan kelompok pada pembelajaran berikutnya, tetap ditentukan oleh guru dengan mempertimbangkan keheterogenan murid dari berbagai latar belakang serta tingkat kemampuan murid.
  4. Bagi murid perlu diterapkan sikap saling menghargai satu sama lain dan menghargai pendapat teman. Hal ini untuk membangkitkan semangat belajar matematika pada murid.

Hasil : Tabel 3

Daftar Hasil Evaluasi Pembelajaran

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas                                     : IV/ Empat

SDK                                       : Mataia

Siklus                                    : 2

NoNama MuridNilai
123
1Benediktus R.Geli5
2Cresensia E. Odo6
3Dominggus W. Aran8
4Emanuel Bu’u4
5Eufrasia Bupu6
6Faustina Ude4
7Ferdinandus Lengi6
8Geraldina A. Wake6
9Heribertus Rewa6
10Heronimus Tangi7
11Maria Natalia Dhiu7
12Mari Yasintha Due6, 5
13Maria Go’o Beoang6, 5
14Primus Sa’i5, 5
15Rufina Yulita Milo5
16Veridiana Naru Raga8
17Veronika Wawo6
18Yoseph F. Fua6
19Fransiska X. Rita7
20Mario Oba7
21Beatus Amatus Anu6
22Falentinus Kore4
23Yordianus Jago Bela6
Jumlah144,5
Rata –rata6,28

 Dan aktifitas murid pada kelompok siklus 2 pada tabel 4

 

Tabel 4

Hasil Kerja Kelompok pada Siklus 2

NoNama KelompokNilai Yang Diperoleh Jumlah SkorRata-rata
Partisipasi Kerjasama Hasil kerja
1Kelompok A766196, 34
2Kelompok B877227, 34
3Kelompok C666186, 00
4Kelompok D665175, 66
5Kelompok E777217, 00

 

Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil evaluasi dan tata pengamatan pada siklus 2 hasil belajar murid makin meningkat. Pengamatan terhadap tes akhir hasil belajar murid makin meningkat. Pengamatan terhadap tes akhir hasil belajar murid pada siklus 2 menunjukan bahwa murid yang tuntas belajar di kelas IV mencapai 18 orang (78,3 %) dan tidak tuntas 5 orang (21,7 %) dengan nilai rata-rata 6,28. Data tentang kemajuan belajar murid pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 3 diatas.

  • Deskripsi Hasil Pelaksanaan Siklus III
  1. Pelaksanaan Pembelajaran

Pertemuan 3

Hari/ Tanggal                     : Jumad, 19 September 2014

Waktu                                   : 2 x 35 menit

Standar Kompetensi       : 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah.

Kompetensi Dasar     : 5.4. Menggunakan pecahan dalam masalah perbandingan dan skala.

Indikator                              : 1.Menjelaskan arti dari skala.

2.Melakukan operasi hitung dengan menggunakan perbandingan dan skala.

Pembelajaran dimulai dengan guru menerangkan kembali tentang materi sebelumnya. Selanjutnya guru memberikan soal untuk dikerjakan murid secara berkelompok masing-masing.

Setelah murid selesai mengerjakan soal dalam kelompok guru memanggil salah satu murid untuk mewakili kelompoknya melaporkan hasil kerja kelompok didepan sementara kelompok lain menanggapinya.

Hasil pekerjaan murid sudah sangat bagus. Semua murid aktif dalam menyelesaikan soal yang diberikan guru. Semua murid berlomba- lomba mengemukakan pendapatnya.

  1. Interprestasi

Pembelajaran di kelas telah berjalan baik. Guru harus lebih banyak menyiapkan soal yang akan dikerjakan murid dalam kelas. Hal ini untuk membangkitkan semangat belajar matematika pada murid.

  1. Observasi

Berdasarkan pertimbangan bahwa kemampuan atau partisipasi murid dalam mengikuti proses pelaksanaan pembelajaran pada rencana pembelajaran I yang belum optimal diperbaiki pada pelaksanaan pembelajaran II, ternyata membawa suatu perubahan kearah yang lebih baik.

Murid termotifasi dan memiliki keinginan yang tinggi dalam menerapkan keterampilan kooperatif, pendekatan matematika yang realistik. Hal ini dapat memberikan nilai- nilai yang positif pada murid untuk meningkatkan hasil belajar dalam mencapai tujuan belajar.

Selain motivasi yang besar murid juga mengalami perubahan hasil belajar efektif dan keterampilan motorik, misalnya mereka yang berhasil baik dalam belajar akan memberikan penguatan pada diri sendiri. Hal ini menunjang sikap positif terhadap pembelajaran di sekolah.

  1. Refeksi

Berdasarkan pengamatan, baik yang dilakukan oleh observer maupun oleh guru (peneliti) diperoleh beberapa hal yang perlu direfleksikan antara lain keterampilan- keterampilan kooperatif pendekatan matematik realistik yang telah dimiliki murid harus tetap ditingkatkan dalam rangka mencapai belajar yang optimal.

Prestasi belajar akan meningkat apabila berbagai potensi dalam diri murid benar- benar diberdayakan. Potensi dalam diri murid yang dimaksud adalah selain aspek kognitif, perlu diperhatikan secara serius tentang pengembangan sikap dan keterampilan motorik yang tidak kal pentingnya memegang peranan pokok dalam tindakan seseorang.

Data tentang kemajuan murid pada siklus ke 3 terlihat pada tabel 5 dibwah ini :

Hasil : Tabel 5

Daftar Hasil Evaluasi Pembelajaran

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas                                     : IV/ Empat

SDK                                        : Mataia

Siklus                                    : 3

NoNama MuridNilai
123
1Benediktus R.Geli7, 5
2Cresensia E. Odo6
3Dominggus W. Aran8
4Emanuel Bu’u8
5Eufrasia Bupu6
6Faustina Ude8, 5
7Ferdinandus Lengi8, 5
8Geraldina A. Wake8
9Heribertus Rewa6
10Heronimus Tangi7, 5
11Maria Natalia Dhiu7
12Mari Yasintha Due7, 5
13Maria Go’o Beoang7, 5
14Primus Sa’i7, 5
15Rufina Yulita Milo8
16Veridiana Naru Raga9
17Veronika Wawo8
18Yoseph F. Fua6
19Fransiska X. Rita8
20Mario Oba7, 5
21Beatus Amatus Anu8
22Falentinus Kore8
23Yordianus Jago Bela7
Jumlah173
Rata –rata7, 5

 

Dan aktifitas murid pada kelompok siklus 3 pada tabel 6

 

Tabel 2

Hasil Kerja Kelompok pada Siklus 1

NoNama KelompokNilai Yang Diperoleh Jumlah SkorRata-rata
Partisipasi Kerjasama Hasil kerja
1Kelompok A778227, 34
2Kelompok B888248, 00
3Kelompok C788237, 66
4Kelompok D778227, 34
5Kelompok E777217, 00

 

Berdasarkan hasil evaluasi dan data pengamatan pada siklus 3 hasil belajar murid sanhgat meningkat. Murid sudah berlomba- lomba untuk meningkatkan prestasi belajar mereka dengan giat belajar dimana mereka mulai rajin mengerjakan setiap soal latihan yang diberikan guru baik di sekolah maupun untuk dikerjakan untuk di rumah secara individu juga secara berkelompok. Hasil perolehan pada siklus ke 3 ini sangat memuaskan dimana ketuntasan belajar mencapai 100 %.

 

BAB V

PENUTUP

  • Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut :

  1. Penerapan pendekatan matematika realistik dalam proses pembelajaran matematika dalam meningkatkan proses belajar murid.
  2. Penerapan pendekatan matematika realistik yang disusun dapat mengurangi kecenderungan guru mendominasi kegiatan pembelajaran untuk menerangkan materi, karena sebagian waktu guru digunakan untuk memberi petunjuk, atau bimbingan kegiatan mengamati kegiatan murid dan memotifasi murid.
  3. Penerapan pendekatan matematika realistik memberikan kebebasan berinteraksi antara murid dalam kelompok belajar yang merupakan kolaborasi kognitif murid yang sangat efektif.
  4. Melalui pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan pemahaman murid terhadap konsep- konsep matematika.
    • Saran

Diharapkan dalam proses pembelajaran guru lebih kreatif memilih pendekatan atau metode belajar yang sesuai dengan kemampuan murid, sehingga murid dapat menanamkan pemahaman dalam dirinya tentang pentingnya interaksi dengan teman sebaya dalam membangun pengetahuannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud, KTSP 2006. Depdikbud Jakarta.

Kaluge, H. A, 2002. Beberapa Sumbangan Pendidikan Matematika Masa Kini. Proyek Pembina TK/ SD PLB Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, Propinsi NTT.

  1. Cholik A, 2004. Matematika untuk SD Kelas V. Erlangga, Jakarta.
  2. Khafid. Suryati. Pelajaran Matematika SD Kelas V, KTSP 2006.

Soejadi, 1994. Orentasi Kurikulum Matematika Sekolah di Indonesia Abad XXI. Dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II Kurikulum untuk Abad ke 21, Hal, 30- 314.

Suparno Paul, 1996. Filsafat Konstrutivisme Dalam Pendidikan. Kanisius, Yogyakarta.

 

PROFILE, VISI, MISI DAN TUJUAN SEKOLAH

  1. IDENTITAS SEKOLAH
  2. Nama Sekolah : Sekolah Dasar Katolik Mataia
  3. Nomor Statistik Sekolah : 102241003019
  4. NPSN : 5030 2852
  5. Pemerintah Kota : Kabupaten Ngada
  6. Desa : Waeia
  7. Jalan : Mataloko – Were
  8. Kode Pos : 86461
  9. Daerah : Pedesaan
  10. Status Sekolah : Swasta
  11. Akreditasi : Terdaftar
  12. Tahun Berdiri : 1935
  13. Kegiatan Belajar Mengajar :Pagi Hari
  14. Lokasi Sekolah
  15. Jarak ke pusat kecamatan : 2 km
  16. Jarak ke kota kabupaten : 15 km
  17. Organisasi Penyelenggara : Pemerintahan

 

  1. VISI, MISI DAN TUJUAN SEKOLAH
  2. Visi Sekolah :

Terwujudnya Murid SD Katolik Mataia yang Beriman Katolik, berbudi pekerti yang luhur dan peduli lingkungan serta peningkatan profesionalisme guru.

 

  1. Misi Sekolah
  • Meningkatkan mutu pembelajaran dan prestasi akademis dan non akademis
  • Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai tenaga Profesional
  • Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana prasaranaPendidkan serta media Pendidikan.
  • Menumbuh kembangkan iklim, kultur dan lingkungan sekolah yang “ AMAN “ ( Asri, Mapan, Akademis, Normatif ).
  • Meningkatkan Manajemen Partisipatif antar warga sekolah, masyarakat dan stakeholder.
  • Menyiapkan lulusan untuk melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi atau menjadi anggota masyarakat yang berkualitas

 

  1. Tujuan Sekolah
  2. Murid beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan beraklak mulia.
  3. Murid sehat jasmani dan rohani.
  4. Murid memiliki dasar- dasar pengetahuan dan keterampilan untuk melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.
  5. Murid mengenal dan mencintai bangsa, masyarakat dan kebudayaan.
  6. Murid kreatif, terampil dan bekerja untuk dapat mengembangkan diri secara terus menerus.

 

BIODATA PENULIS

Nama Lengkap                  : Maria Maxensia Due,S.Pd.SD

NIP                                  : 19661212 198607 2 004

Tempat/ tanggal lahir         : Mataloko, 12 Desember 1966

Jenis Kelamin                    : Perempuan

Agama                             : Katholik

Alamat                             : Mataloko, Kecamatan Golewa, Ngada

 

RIWAYAT PENDIDIKAN

Tahun 1973 -1979                            : SDK Todabelu II Mataloko

Tahun 1979 – 1982                           : SMPK Berbantuan Kartini Mataloko

Tahun 1982 – 1985                           : SPGK St. Ursula Ende

Tahun 1998 – 2001                           : Mengikuti Penyetaraan D2 – PGSD di Mataloko

Tahun 2009 – 2011                           : Mengikuti Penyetaraan S1 – PGSD di Bajawa

 

RIWAYAT PEKERJAAN

Tahun 1985 -1986      : Menjadi guru sukarela SDK Mataloko    (dulunya SDK  Todabelu II)

Tahun 1986                : Lulus testing  sebagai PNS                   ditempatkan di Kabupaten Manggarai

Tahun 1986 – 1987      : Mengajar di SDK Tendatuang – Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai

Tahun 1987 – 1991       : Mengajar di SDK Waesepang Kecamatan Waelengga Kabupaten Manggarai

1 Agustus 1991-1996   : Pindah kembali ke Kabupaten Ngada ditempatkan di SDK Mataloko

Tahun 1996 – juni 2013  : Mengajar di SDK Wogo

8 Mei 2004 – 2013          :  Dilantik sebagai Kepala Sekolah

Juli 2013- sekarang        : SDK Mataia

Terimakasih