Home Renungan Harian Hostis amare – Mengasihi musuh

Hostis amare – Mengasihi musuh

338
0
Yohanes Kristososmus
Ilustrasi: http://katakombe.org

Kamis, 13 September 2018
PW S. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja
Pekan Biasa XXIII
¤ 1Kor. 8:1b-7,11-13
¤ Mzm.139:1-3,13-14ab,23-24
¤ Luk. 6:27-38
“Hostis amare”

– Mengasihi musuh –
Inilah pola hidup dan perilaku yang berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kemurahan hati Allah yang berlimpah dalam memperlakukan anak-anak-Nya.
Adapun kemurahan hati Allah ini dapat kita wujudkan dalam tindakan konkret, antara lain:

1. Mengasihi
Kasih adalah dasarnya, tidak hanya kasih partial tapi universal, kasih kepada semua bahkan terhadap musuh. Kita dipanggil untuk menjadi ‘berkat’ dengan tetap mewartakan kebaikan ‘bonum’ di tengah keburukan ‘malum’: “Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian…” Inilah sebuah pedoman hidup, karena iman tidak hanya personal tapi juga sosial, salib tidak hanya berpalang vertikal (ke ilahi) tapi juga horisontal (ke insani)
Di sinilah kita diajak untuk membalas kejahatan dengan kebaikan untuk membawa mereka juga kepada Kristus, bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga. Jadi mengasihi ini harus kita terjemahkan dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain.

2. Mengimani
Kita diingatkan akan iman pada kerahiman ilahi dimana Allah sungguh bekerja menunjukkan belas-kasihanNya. Biasanya, ada tiga kerja yang kerap kita lihat dan buat, yakni kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas. Dengan iman, kita juga diajak untuk siap bekerja iklas, tanpa mengharapkan balasan,
segalanya bagi kemuliaan ilahi.
Di sinilah kita diajak mempersembahkan suka-duka, pahit-manis-tawa-tangis hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian kita dimampukan untuk memilih sikap tidak mudah menyakiti tapi terus memberkati, tidak mudah menghakimi tapi terus memahami, tidak mudah melukai tapi terus mencintai yakni agar kita makin dapat menjadi “anak-anak Allah”.
Saudaraku, sama seperti Allah dengan murah hati menganugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikian pula hendaknya kita sebagai anak-anak-Nya.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga yang berjuang bekerja iklas bagi kemuliaan ilahi. Amin.