Home Serba-serbi Diem perdidi – Saya telah kehilangan satu hari

Diem perdidi – Saya telah kehilangan satu hari

78
0

Senin, 10 September 2018
Pekan Biasa XXIII
¤ 1Kor. 5:1-8
¤ Mzm 5:5-6,7,12
¤ Luk. 6:6-11
“Diem perdidi”
– Saya telah kehilangan satu hari –
Inilah ucapan Kaisar Titus ketika ia menyadari bahwa satu hari terlewatkan tanpa berbuat kebaikan dan kebajikan. Artinya setiap hari kita memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada sesama.
Yesus melakukan mukjijat pada hari Sabat. Melalui tindakanNya, Yesus ingin menunjukkan kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat semangat hari Sabat yang sebenarnya. Namun orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menuduh-Nya melanggar peraturan hari Sabat.
Di sinilah, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat gagal memahami tindakan Yesus, mereka memandang apa yang dilakukanNya sebagai pelanggaran hukum. Sedangkan Yesus sendiri lebih mengutamakan perbuatan kasih dan menyelamatkan manusia daripada sekedar ketaatan buta terhadap peraturan yang membelenggu dan menindas.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mau mengkoreksi konsep orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang keliru tentang hukum hari Sabat. Yesus mau mengembalikan dan menegaskan konsep yang benar sebagai perwujudan nilai tertinggi dari hukum cinta kasih.
Adapun konsep Yesus tentang peraturan / hukum antara lain:

1. Prinsip Hukum
Prinsip dasar hukum: “Salus animarum suprema lex” ~ keselamatan jiwa adalah hukum yang terutama ~ Prinsip dasar ini juga digunakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK)
Di sinilah kita diajak untuk menyadari bahwa Yesus menjadikan hari Sabat bukan hanya sebagai hari untuk beristirahat saja, tetapi hari untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Yesus menjadikannya sebagai hari untuk menyelamatkan manusia.

2. Hakekat Hukum
Pada hakekatnya hukum membantu kita melakukan kebaikan, kebajikan dan kasih yang bersifat universal (Katholik=Universal, bersifat umum). Cinta kasih kepada Kristus hendaknya menjadi lengkap dalam cinta kepada sesama. Ada sebuah kesadaran bahwa setiap hari kita memiliki panggilan untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada sesama.
Maka, jika hukum itu sendiri menghalangi, membatasi atau bahkan mengekang perbuatan baik dan kebajikan, maka hukum itu bertentangan dengan hakekatnya.
Banyak kali perbuatan baik dan kebajikan itu terancam musnah karena sikap legalistis manusia. Orang seharusnya memperjuangkan kebaikan, kebajikan, harkat dan martabat serta kehidupan manusia bukan hukum yang meniadakan manusia sebagai manusia.
Di sinilah kita semua diajak untuk mengasihi Tuhan lebih dari segala yang ada di sekitar kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

3. Tujuan Hukum
Salah satu tujuan hukum adalah kesejahteraan bersama “bonum comunne” yakni menjadi saluran berkat bagi sesama.
Ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya, Yesus meminta orang itu untuk mengulurkan tangan kanannya supaya Ia bisa menyembuhkannya. Tangan kanan merupakan simbol kekuatan atau kekuasaan. Maka gunakanlah tangan kita untuk mengembangkan perbuatan baik untuk sesama.
Saudaraku, hidup kristiani akan menjadi lebih bermakna ketika kita menjadi semakin serupa dengan Yesus yang mengasihi tanpa batas.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam upaya terus berbuat baik bagi sesama. Amin.

Rikard Pasang,SVD