Home Renungan Harian Deus est liberator – St.Gregorius Agung, Paus, Pujangga Gereja

Deus est liberator – St.Gregorius Agung, Paus, Pujangga Gereja

271
0

Senin, 03 September 2018
Pw St.Gregorius Agung, Paus, Pujangga Gereja
Pekan Biasa XXII
¤ 1Kor 2:1-5
¤ Mzm 119:97,98,99,100,101,102
¤ Luk 4:16-30
“Deus est liberator”
– Allah adalah Pembebas –
Inilah misi Yesus sebagai utusan Bapa.
Hari ini Gereja merayakan St. Gregorius Agung. Dia adalah utusan Allah untuk membarui Gereja dalam kehidupan doa dan kehidupan devosional.
Mengacu pada inti pesan bacaan Injil hari ini, Yesus menampilkan diri sebagai figur kharismatis (dipenuhi oleh Roh Kudus) yang memberitakan “kabar baik” ketika Yesus pulang ke kampung halamannya, di Nazaret.
Adapun tiga ciri dasar orang yang membawa “kabar baik”, antara lain:

1. Kasih
Yesus dengan penuh kasih mengatakan: “Roh Tuhan ada padaKu sebab Aku diurapiNya untuk menyampaikan kabar baik kepada kaum miskin dan memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Di sinilah Yesus yang penuh kasih mengajak dan mengingatkan kita agar tidak sibuk menghakimi sesama tapi mau mengasihi, tidak cenderung berpikir buruk tapi selalu berpikir positif karena kenyataannya kita kerap sibuk berprasangka dan menaruh rasa curiga terhadap sesama.

2. Sabar
Yesus mengadapi orang-orang Nasaret yang menolakNya dengan sabar. Ia tidak banyak bicara apalagi membalas. Ia tidak melawan dan menanggapi tapi memilih pergi meninggalkan dan tetap mewartakan kabar baik di tempat lain. Waktu dan hidup-Nya tidak mau dihabiskan hanya untuk menanggapi orang yang iri hati karena iri hati memang membuat orang bisa jahat dan mudah memperguncingkan yang buruk atau menghakimi orang lain dan lupa meng-instrospeksi dirinya sendiri.
Di sinilah kita diajak untuk bersabar dengan tidak mudah mencap buruk orang lain tapi selalu terbuka dan tulus melihat kehadiran Tuhan lewat setiap orang di sekitar kita.

3. Bersyukur
Yesus dipenuhi oleh Roh Kudus. Kitapun juga diberikan kurnia Roh Kudus sejak dibaptis.
Di sinilah kita diajak untuk senantiasa menyadari penyertaan Roh Kudus agar kita lebih mau bersyukur dan tidak mudah berkeluh kesah. Tanda syukur ini nampak ketika kita menghargai sesama bukan malah merendahkan orang lain seakan dirinya lebih baik dan lebih suci.
Saudaraku, semoga tiga ciri dasar di atas semakin menyadarkan kita bahwa diri kita ini rentan oleh kelemahan sehingga kita perlu memperbaiki diri terus menerus dan bergantung kepada Tuhan sepanjang hidup kita.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam melaksanakan tugas perutusan. Amin.

Oleh: Richard Pasang, SVD

Rikard Pasang,SVD