Home Artikel Dalam urusan politik kekuasaan antara rasa dan nalar mestinya seimbang, agar dapat...

Dalam urusan politik kekuasaan antara rasa dan nalar mestinya seimbang, agar dapat saling mengontrol.

111
0
Politk
Ilustrasi: https://geotimes.co.id

Saya menulis, politik itu adalah soal bagaimana mengelola urusan bersama. Ini artinya mereka yang dipercayakan, mestinya telah selesai dengan urusannya sendiri. Agar ketika dia memimpin, pengabdian menjadi keutamaan karena negara akan memberinya fasilitas untuk melancarkan pengabdiannya itu.

Saya menulis, ada baiknya memilih pemimpin yang telah kita kenal jejak rekamnya atau telah diperiksa jejak rekamnya dengan seksama. Bila sebelum berkuasa, ia kerap memberikan bantuan sosial (charity), maka saat berkuasa sejatinya bukan lagi bantuan sosial yang utama tapi bagaimana upaya dia mendekatkan keadilan sosial (social justice).

Dalam politik, kekuasaan dikelola agar segalanya jadi seimbang, adil, proporsional dan merata. Sehingga karenanya politik itu perlu keseimbangan. Melalui jalan pemilu yang luber jurdil calon pemimpin terlebih dahulu perlu diperkenalkan, dipertimbangkan lalu dipilih. Inilah inti utama masa kampanye saat ini.

Saya menulis, saat ini tampaknya ada gejala seperti penyakit menular. Publik terlampau terpesona dengan sosok pemimpin tertentu sehingga memberikan harapan yang terlampau berlebihan.

Efeknya jelas terlihat, publik yang mirip kerumunan membaptis pemimpin itu sebagai ‘sang kudus” tanpa cacat dan cela. Jangan berani-berani mengkritik, akibatnya fatal: dicela, dihabisin, dijadikan musuh bersama!

Saya menulis, cinta itu persoalan rasa, dibaliknya ada benci. Sehingga terhadap pemimpin gunakan juga nalar. Agar dapat menjadi kompas. Dalam urusan politik antara rasa dan nalar semestinya seimbang agar dapat saling mengontrol.

Sejarah menulis, banyak pemimpin baik terjungkal karena ulah orang-orang dilingkaran terdalamnya serta para pengikutnya yang fanatik buta.

Sejarah menulis, urusan bersama menjadi rusak ketika calon pemimpin mempersonifikasikan dirinya sebagai sosok yang serupa dengan pemimpin lain yang sedang dicintai orang ramai. Ini alarm bahaya!

Kenali calon pemimpinmu, ingatlah bahwa kekuasaan yang dominan satu warna bukanlah sahabat demokrasi tapi teman dekat otoritarianisme.

Teruslah bergerak, berbaur, bersinergi. Salam Sinergi, Pasti Berdaya Ubah! Saya, Valerian Libert Wangge *