Home Sastra Tentang Rumah Adat Yang Terbakar

Tentang Rumah Adat Yang Terbakar

358
0

Atap alang-alang boleh musnah
Dilalap kobaran api
Tapi roh leluhur tetap hidup
Menjiwa pada seluruh jiwa
Anak cucu keturunannya

Puing-puing bangunan Sa’o Ngaza*)
Menggores luka di kedalaman hati
Tapi tidak untuk meluluhkan hasrat
Karena jiwa dan raga anak keturunan
Masih kuat untuk kembali tegak berdiri

Ngadhu*) dan bhaga*) boleh dilahap api
Lebur pada debu tanah leluhur
Tapi namanya tetap kuat tertanam
Dalam aliran darah para pewarisnya
Esok di saatnya dibangun kembali

Batu-batu magis di kuburan leluhur
Pada ture*) mesbah persembahan
Dan tiang batu bermakna nama besar
Akan tetap ada di kampung kesuburan
Menyongkong jiwa untuk bangkit.

Jiwa-jiwa tulus masih dilahirkan
Untuk menyusun kembali
Batu-batu yang berserakan
Menyulam kembali bilah-bilah kayu
Menjadi rumah bersemayam leluhur

Ritual-ritual akan tetap berakar
Di tengah cucuran keringat pengabdian
Kekuatan anak cucu suku keturunan
Akan mendirikan tiang yang kokoh
Dan leluhur merangkul dengan cinta

Kampung kita
Leluhur kita
Jiwa kita
Kehidupan kita
Selamanya tak akan termusnahkan

Denpasar, 29 Agustus 2018
Mengenang Terbakarnya Kampung Maghilewa (1990), Kampung Watu
(2016) dan Kampung Gurusina.

*) Mohon kebaikan dari mosalaki DR. Vian Watu untuk mejelaskan artinya. Terima kasih mosalaki.

Oleh: Agus Thuru