Home Berita Teka-Teki Kematian Mahasiswa Asal Bajawa, TPDI Sebut Polda NTT Hargai Nyawa Manusia

Teka-Teki Kematian Mahasiswa Asal Bajawa, TPDI Sebut Polda NTT Hargai Nyawa Manusia

665
0

Jakarta – “Nyawa Manusia di NTT rendah di mata hukum”, kata Koordinator TPDI dan Advokat PERADI, Petrus Selestinus dalam pernyataan Pers (8/8/2018) di Jakarta.

Kepada Redaksi Media ini (8/8/2018), penegasan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus dalam kaitan langsung dengan teka-teki pengungkapan pelaku pembunuh Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang asal Bajawa Kabupaten Ngada-Flores, Carolino A. Sowo yang ditemukan tewas mengenaskan di Pantai Oesapa Kupang (24/7/2018).

Diberitakan sebelumnya, kematian Mahasiswa asal Bajawa, DPRD Ngada Dorothea siap ajak Lembaga Dewan bersikap. PADMA Indonesia pantau penanganan kasus kematian mengenaskan Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang asal Bajawa Kabupaten Ngada-Flores, Carolino A. Sowo yang ditemukan tewas mengenaskan di Pantai Oesapa Kupang (24/7/2018).

Menurut Koordinator TPDI dan Advokat PERADI, Petrus Selestinus, sejumlah kasus kematian akibat kejahatan pembunuhan yang tidak tuntas diungkap pihak Polri di bumi Nusa Tenggara Timur lebih cenderung diakibatkan oleh cultur tindakan yang sangat lamban, bahkan kurang tanggap oleh pihak Polri yang bertugas di NTT.

Sementaraitu, kondisi buruk seperti ini, kata dia, berbanding terbalik dengan status Polri di NTT yang beranjak naik status ke Type A dengan memiliki daya dukung SDM Perwira serta Prajurit Polri sangat memadai, termasuk telah ditunjang dengan peralatan canggih serta anggaran yang sangat besar.

Sejumlah kasus kembali disegarkan Selestinus dalam dalam pernyataan Pers (8/8/2018) di Jakarta terhadap potret  buram pengentasan perkara kematian nyawa manusia di bumi Nusa Tenggara Timur. Dikatakan, sejumlah kasus bisa menjadi cerminan untuk kinerja hukum di NTT diantaranya, kasus kematian Pastor Faustin Sega, Pr pada tahun 2009, kasus kematian Pastor Ferdinandus Tarok di Carot Manggarai, Poro Duka di Sumba Barat, bahkan sekarang kematian mengenaskan Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang asal Bajawa Kabupaten Ngada-Flores, Carolino A. Sowo pun masih menyisahkan teka-teki di hadapan warga NTT dan partiwi Pancasila Indonesia.

Ditambahkan, sudah waktunya Polri di NTT wajib memberikan prioritas unggul terhadap pengentasan kejahatan pembunuhan, agar hukum di NTT tidak sekedar slogan dan hukum di NTT dapat membuktikan adanya penghargaan terhadap nyawa manusia NTT dari perbuatan-perbuatan keji menghilangkan nyawa manusia lain secara gelap dan membabi-buta.

Jika kemudian Polri gagal, tandas Selestinus, maka NTT akan dikenal sebagai ladangnya pembantaian nyawa manusia (The Killing Fields) dan harga nyawa manusia di NTT dianggap tidak berharga di mata Penegak Hukum Nusa Tenggara Timur. (red/)