Home Berita Sopir Angkutan Umum Di Ngada Keluhkan Pelayanan Jasa Raharja

Sopir Angkutan Umum Di Ngada Keluhkan Pelayanan Jasa Raharja

779
0

Ngada News – Para sopir angkutan umum di Bajawa Kabupaten Ngada, Flores mengeluhkan kinerja pelayanan petugas Jasa Raharja yang menurut mereka lebih banyak duduk menunggu pembayaran di kantor atau tidak seperti tahun-tahun sebelumnya selalu menempatkan petugas Jasa Raharja di Terminal guna melakukan pencatatan, monitoring, pengawasan lapangan termasuk menagih retribusi kendaraan.

Hal ini disampaikan komunitas sopir angkutan umum yang disuarakan melalui sopir Bus Angkutan Umum Kalvari rute Bajawa – Riung kepada wartawan di lapangan, Sabtu (25/8/2018) di Kota Bajawa Kabupaten Ngada.

“Kami ini bingung dan sudah tidak tau mau mengadu kepada siapa lagi. Di Terminal tidak ada lagi penempatan Petugas Jasa Raharja untuk melakukan pengawasan supaya mereka bisa mengetahui mana kendaraan yang jalan atau beroperasi dan mana kendaraan yang tidak beroperasi. Mereka tidak berada di lapangan atau di terminal. Kami rasa mereka duduk-duduk saja di kantor. Kami tidak protes soal kewajiban membayar, tetapi dengan cara kerja macam begini dampaknya banyak sekali yang kami rasakan secara langsung dan jujur saja kinerja Jasa Raharja betul-betul mengecewakan”, tegas Vian.

Menurut Vian dan kawan-kawannya, akibat dari kinerja Jasa Raharja seperti dalam keluhan ini, mobil-mobil ber-plat hitam pun bebas hilir mudik memuat penumpang. Sementara angkutan umum yang sudah dilengkapi dengan administrasi, izin serta mengikuti kewajiban membayar pajak,retribusi dan lain-lain terpaksa menonton dan tinggal menerima nasib dengan pasrah.

“Gara-gara pelayanan buruk, kondisi jadinya liar sekali. Kendaraan plat hitam bebas kesana kemari muat penumpang, sementara kami yang sudah sesuai izinan untuk muat penumpang dan taat membayar kewajiban, tinggal duduk telan angin”, tambah Vian.

Menurut Vian, kondisi diatas makin bertambah dengan budaya bertele-tele saat pengurusan pembayaran pajak kendaraan di Kabupaten Ngada. Pasalnya, jika mau urus pajak lagi-lagi dipersulit dengan syarat harus membayar yang di ‘kertas kuning’ (Jasa Raharja) baru diizinkan untuk bisa membayar pajak.

Berikutnya, kata Vian, kenaikan tarif Jasa Raharja juga melonjak drastis pada tahun 2018, yang dari sebelumnya Rp.350.000 per tahun lalu naik ke Rp.700.000, berikutnya naik melonjak drastis menjadi Rp.900.000 dan praktek tarik pembayaran pun disama-ratakan antara kendaraan yang beroperasi dengan kendaraan yang tidak beroperasi.

Tentang kenaikan tarif Jasa Raharja, pasalnya para sopir angkutan umum mengikuti saja sebab terkait masalah kenaikan tarif memang sudah membudaya, petugas tidak perna lakukan sosialisasi kepada para sopir, sebaliknya hanya beralasan ‘ada kenaikan tarif jadi saat ini sudah naik menjadi sekian. Perhitungan kenaikan seperti apa, tandas Vian, sama sekali tidak dijelaskan atau dirincikan. Dampak dari kondisi seperti ini, kata dia,  berakibat langsung kepada para sopir hanya bisa manggut-manggut atau mengiyakan saja.

Kepada sejumlah wartawan di Kota Bajawa (25/8/2018) Vian menandaskan bahwa di terminal yang nampak hanya Petugas dari LLAJR, sebaliknya Petugas Jasa Raharja selalu kosong atau tidak lagi beroperasi di terminal. Ditambahkan, bagi para sopir, kondisi seperti ini adalah pemandangan buruk yang ada di Ngada.

Di akhir curahan hatinya, Vian dan kawan-kawan nya menegaskan, soal pembayaran sebagai kewajiban bukan masalah, namun kinerja pelayanan jangan mempertontonkan hal-hal yang menurut mereka mempersulit para sopir, termasuk perilaku tidak sosialisasi memberi pemahaman dan liarnya kendaraan plat hitam hilir mudik memuat penumpang.

Akhir dari pengaduan Vian dan kawan-kawannya, Vian meminta awak media menaikan sejumlah surat-surat tanda bayar dan lain-lain yang menurutnya berhubungan langsung dengan bukti-bukti keluhannya. (red/)