Home Nasehat Pernikahan Rambu Pernikahan : Semakin Terlarang, Semakin Terangsang (Edisi VI)

Rambu Pernikahan : Semakin Terlarang, Semakin Terangsang (Edisi VI)

670
0

Oleh : P. Y.B. Watun, Cssr (Catatan Pendek dari Manila)

Pernyataan di atas menyebabkan orang merasa PIL/WIL-nya jauh lebih fantastic. Perasaan bahwa dirinya telah mengorbankan banyak hal untuk cinta terlarang justru meningkatkan gairah cinta itu sendiri. Pelaku cinta terlarang bahkan mendiskreditkan pasangan resmi dan memastikan bahwa “cinta baru” inilah cinta sejati. Cinta tanpa memiliki.

Dengan mimik mengharukan, pelaku cinta terlarang mendramatisasi kesejatian cinta dengan kata-kata: “Biarlah tetap begini, kembalilah pada isteri/suamimu, cinta sejati tokh tidak memiliki”.

Padahal, bisa jadi, dia memang dari awal menghendaki untuk tidak memiliki, sebab tindakan memiliki akan diikuti oleh sejumlah pengorbanan. Mendengar puisi tadi, perasaan mengharu-biru. Rasanya tidak mau lepas lagi.

Pada dasarnya cinta tanpa memiki adalah cinta yang paling tidak bertanggungjawab. Cinta yang hanya mau mereguk kemanisannya, tanpa peduli dengan pengorbanannya. Umumnya memang, orang tidak atau kurang menghargai apa yang dimilikinya. Segera setelah sesuatu dimiliki, sesuatu akan kehilangan harganya.

Cinta baru yang fantastik pun akan kehilangan harga bila telah dimiliki. Semua yang baru, pada suatu saat akan menjadi lama.

Sesuatu yang belum dimiliki dan baru akan didambakan dan terus mengisi pikiran. Setelah dimiliki, sama seperti yang lalu-lalu, segera menjadi biasa dan membosankan. Daripada terus mencari cinta baru di luar pernikahan, lebih baik Anda tekun membarui yang ada.

Secuil kebaikan pasangan jauh lebih NYATA daripada sejuta mimpi dan buaian angin surga dari PIL/WIL Anda. Sekian


(Tulisan ini diterbitkan Redaksi Larantuka News- Focus Indonesia 24 Agustus 2018, setelah Redaksi menerima tulisan pendek dari Manila oleh Penulis untuk Pembaca). Red//