Home Berita Puluhan Mahasiswa Asal Perkampungan Gurusina ‘Roslina Beku Dkk Terancam Putus Kuliah

Puluhan Mahasiswa Asal Perkampungan Gurusina ‘Roslina Beku Dkk Terancam Putus Kuliah

2074
0

Ngada News – Dibalik duka Kebakaran Perkampungan Adat Gurusina Ngada, Flores yang menghabiskan 27 rumah adat dan hanya menyisahkan 6 rumah yang berhasil diselamatkan dari kobaran api pada tanggal 13 Agustus 2018 tertulis rangkaian kehilangan serta ketidakberdayaan banyak kondisi yang membutuhkan sentuhan bantuan dan pertolongan dari sesama.

Penelusuran langsung redaksi media ini sejak usai kejadian hingga tanggal 20 Agustus 2018 di Perkampungan Gurusina Ngada, selain kerugian tidak terhitung, dampak musibah juga telah mengancam usia putus sekolah anak-anak usia SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi yang berasal dari Perkampungan Gurusina Ngada, khususnya mereka yang terkena langsung rumah-rumah mereka terbakar ludes saat kejadian.

Berdasarkan data sementara dihimpun redaksi di lapangan, untuk usia pendidikan SD, SLTP dan SLTA nampak sudah terdata sementara oleh sejumlah elemen relawan, namun untuk tingkat Perguruan Tinggi, terhitung tanggal 20 Agustus 2018 belum terdata, sehingga redaksi media dan awak media berinisiatif melakukan pencarian data jumlah mahasiswa sebagai dampak korban rumah perkampungan terbakar.

Dihimpun redaksi per (20/8/2018) di Perkampungan Gurusina Ngada, sedikitnya diperkirakan mencapai 30 Mahasiswa/i asal Gurusina yang terkena langsung dampak rumah mereka terbakar. Akurasi data dan jumlah masih terus dilakukan pencarian dengan koordinasi kerjasama sejumlah pihak di lapangan. Rata-rata mereka berasal dari keluarga orangtua Petani dan saat ini belum terpecahkan untuk melanjutkan perkuliahan atau hendak bagaimana.

Menurut penuturan sejumlah orangtua mereka kepada redaksi (20/8/2018) di lokasi musibah Gurusina Ngada, pihak orangtua saat ini masih mencari jalan keluar untuk mendapatkan bantuan, agar putera-putri mereka dapat meneruskan perkuliahan sebagaimana layaknya sesuai harapan.

Dikutip redaksi media ini (20/8/2018) di Gurusina Ngada serta update redaksi media ini (23/8/2018) dari puluhan anak kuliah asal Gurusina, mereka tersebar meniti perkuliahan, ada yang di Jakarta, Bali, Kupang dan juga ada yang baru mau masuk kuliah di PGSD Citra Bhakti Ngada di Malanuza Golewa.

Berikut petikan kisah wawancara langsung salah satu Ibu dari orangtua mahasiswa asal Gurusina Ngada, Ibu Monika Dhiu didampingi para ibu lain yang juga mengalami nasib sama akibat musibah kebakaran perkampungan Gurusina Ngada.

Nama saya Monika Dhiu dari Sao Meze Mau atau rumah yang sudah terbakar habis dalam musibah ini. Anak saya kuliah di Politheknik Negeri Kupang, Semester VIII, Jurusan Pariwiswata. Profesi saya dan suami adalah Petani. Anak kami kuliah di Kupang dan tinggal Kost dekat Kampus. Nama anak kami Maria Roslina Beku. Tamatan SMAN I Bajawa.

“Pada hari kebakaran, siangnya saya ada di kebun. Anak saya telepon saya, ema tolong kirim uang. Saya mau jilid proposal. Kalau sudah jilid habis, nanti saya pulang penelitian di Tololela (Ngada). Lalu saya jawab, iya sebentar sekitar sore mama pulang dari kebun baru mama lihat uang untuk kirim. Iya ema, saya tunggu. Akhirnya setelah itu, tutur Ibu Monika Dhiu, dirinya mulai bersiap untuk kembali dari kebunnya menuju rumah di kampung Gurusina. Baru sampai di tengah jalan, tambah dia, ada telepon tapi dari keluarga dari Ende. Isi telepon itu berisi memberitahu bahwa di kampung ada rumah terbakar. Saya langsung menjawab bahwa saya ada di kebun dan sekarang saya masih di jalan. Lalu saya lari tapi hanya beberapa meter saja sudah tidak bisa jalan karena saya ada pikul dengan kopra. Lalu sampai di Puskesmas, ada satu anak teriak bilang ‘Bibi, bibi punya rumah terbakar sedikit tapi mereka Gusti sudah siram. Hanya rumah mereka Om Berty sebelah atas sudah terbakar. Akhirnya saya jalan cepat-cepat, tetapi sampai di kapela saya lihat bubungan rumah saya juga sudah terbakar. Dalam ingatan saya, ada uang yang mau kirim untuk saya punya anak untuk urus kuliahnya disana. Saya buru-buru ke rumah mau langsung masuk ambil uang itu tapi anak sulung saya tarik saya bilang ‘Mama biar sudah, rumah kita sudah terbakar, uang itu juga biar sudah terbakar, yang penting mama dan kita ini selamat. Api sudah besar sekali. Lalu saya tanya bagaimana dengan adik mu di Kupang sana yang butuh uang sekarang.  Tidak lama berselang disaat hiruk pikuk itu ‘ada telepon lagi ‘ema bagaimana, bagaimana dengan ema. Saya langsung diam tidak tau mau bicara apa”, kisah warga korban musibah perkampungan Gurusina Ngada, Ibu Monika Dhiu.

Berdasarkan pengakuan Ibu Monika Dhiu, diperkirakan sekitar dua puluhan orang lebih mahasiwa asal perkampungan Gurusina Ngada yang terkena langsung dampak akibat rumah-rumah para orangtua mereka ludes terbakar dan para orangtua mereka saat ini sangat kesulitan mengatasi beban usai segalanya telah disapu kobaran api dalam musibah bencana Gurusina Ngada.

Atas kondisi ini, sangat diharapkan uluran kasih, peduli kemanusiaan serta peduli pendidikan untuk para pelajar serta mahaiswa asal Gurusina Ngada, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (red/)