Home Artikel Penagang

Penagang

483
0

PENAGANG
Tradisi Pacaran Unik Suku Lamaholot.

Flores Timur (Lamaholot) kini, jika mendengar kata “Penagang” maka pikiran kita akan dihantar pada sebuah pengertian gaya pacaran yang berkonotasi buruk/negatif, liar dan tak senonoh. Benarkah demikian?

Banyak tradisi pacaran/mencari jodoh diberbagai budaya di dunia. Di Indonesia kita mengenal Omed-Omedan (Bali), Ngarot dan Jaringan (Indramayu), Barempuk (Sumbawa), Kabuenga (Wakatobi), Kamomose (Buton), Gredoan (Banyuwangi) dan masih banyak lagi. Suku Bajau sendiri punya tradisi pacaran unik tapi saya lupa nama-nya.

Penagang“, Lamaholot lebih mirip Gredoan, Banyuwangi. Pemuda mendatangi kediaman gadis pada malam hari. Hanya pada tradisi Gredoan, kedatangan pemuda dilakukan secara terang-terangan seperti “apel” di jaman sekarang, sedangkan “Penagang” dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, misterius dan penuh ketegangan.

Penagang” berasal dari kata “nagang” yang berarti “meraba”. Mungkin dari pengertian inilah “Penagang” kemudian dikonotasikan sebagai perilaku buruk, meraba-raba secara sembarang dan tidak sopan, padahal yang dimaksudkan dengan “meraba” di sini adalah “berjalan dalam kegelapan tanpa bantuan alat penerangan”.

Penagang” tidak dilakukan serta merta. Ada tahapan-tahapan, sang pemuda memberikan kode-kode melalui syair dan lirik (“Galang” dalam Liang Namang) ketika siang hari bekerja di ladang secara bersama (Mol’ong, Kaung dll) di mana sang gadis juga berada di tempat tersebut.

Sang pemuda akan berani melakukan “Penagang” terhadap seorang gadis apabila mendapatkan “kode balik” dalam lirik “Galang” sang gadis. Jadi tidak serta merta yang kita bayangkan yang membuat kita semua berpikiran ngeres.

Setelah mendapatkan “kode balik” dari si gadis, sang pemuda kemudian “bersekongkol” dengan teman terdekat dari si gadis yang disebut “Seruang“, kalau jaman-nya kaka Wid Oktavius mereka bilang “jembatan/PHB (penghubung)”

Seruang, kemudian menyampaikan maksud dari sang pemuda bahwa nanti malam kesekian, sang pemuda akan melakukan Penagang. Jika disetujui maka akan disampaikan kembali bahwa si gadis bersedia. Begitu juga sebaliknya.

Si gadis kemudian menyampaikan kepada ibunda-nya bahwa malam kesekian sang pemuda akan datang. Posisi tidur normal di mana gadis selalu berada paling ujung sebelah dalam “Dong” (ruang khusus seperti panggung dalam rumah yang ditempati tidur ibu dan anak-anak gadis, juga biasa digunakan untuk menyimpan harta berharga seperti Bala, Lodan dll), pada malam tersebut, posisi tidur dibalik. Artinya, si gadis tidur di posisi paling luar.
Ayah dan saudara laki-laki seperti biasanya, akan tidur di depan pintu “Dong“.

Asal tahu saja ya? Ayah dan saudara laki-laki-nya pun sudah diberitahukan sebelumnya oleh sang ibunda. Biasanya akan terjadi perdebatan sengit antara setuju dan tidak terhadap calon menantu tersebut dan sang pemuda pun tidak akan gegabah melakukan “Penagang” jika tidak ada restu dari ayah, ibu dan saudara2 si gadis.

Sering ada kejadian lucu seperti ibunda dan gadis lupa posisi tidur atau sang pemuda secara tidak sengaja menginjak kaki ayah atau saudara si gadis.
Ketika mencapai pinggir “Dong“, sang pemuda kemudian membangunkan si gadis, mengajak bercerita dan bercanda. Biasanya sang pemuda membawa ole-ole berupa sirih pinang, kiri (sisir), senulang (tusuk konde) dll.

Jadi sama sekali tidak ada perilaku tak senonoh sekalipun seluruh proses “Penagang” dilakukan dalam keadaan gelap gulita. Minimal “Penagang” dilakukan 3 (tiga) kali sebelum tahapan-tahapan serius menuju perkawinan seperti “Sura Kesi, Sura Bele, Roi Lango, Herun Geretuk, Koda Geto dan Kaweng Gate“.

Bahwa kemudian ada kejadian sang pemuda dikejar atau dimarahi ayah dan saudara si gadis, itu semata-mata karena ia tidak disetujui namun nekat dan hal tersebut dianggap lumrah dan tidak dipersoalkan sepanjang si pemuda tidak melakukan hal-hal kurang ajar seperti melawan atau melakukan pengrusakan dan sabotase.

Oleh: Joddy Felix