Home Berita Ngada : Kronologi Nara Sumber Saksi Mata Terkait Wisatawan Jatuh Jurang

Ngada : Kronologi Nara Sumber Saksi Mata Terkait Wisatawan Jatuh Jurang

2362
0
Saksi, Sopir,Leonardus Langga.
Saksi, Sopir,Leonardus Langga.

Ngada News – Kabar duka penuh haru atas kepergian seorang wisatawan domestik asal Surabaya (Minggu, 26/8/2018), alm. Susiani Mailoa (Perempuan) diperkirakan usia sekitar 55 tahun jatuh dari ketinggian sekitar 200 meter pada Hari Minggu Tanggal 26 Agustus 2018 sekitar Pkl 9.30 wita, lokasi kejadian puncak Bukit Watu Nariwowo, Desa Beja Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur berhasil diperoleh keterangan akurat dari dua orang saksi mata kejadian awal.

Pada saat kejadian hanya ada empat orang di lokasi peristiwa yakni Susiani Mailoa (Perempuan, almarhum atau korban), Puteranya Wilson, Emerensiana Ngora warga RT 12 Lenazia, Desa Beja-Langa, Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada dan sopir bernama lengkap Leonardus Langga, pria asal Kisol Kabupaten Manggarai Timur, menetap di Kota Ende, alamat tinggal Kelurahan Tetandara Kota Ende, profesi sopir yang membawa kedua wisatawan.

Wawancara exclusive redaksi media ini kepada dua saksi mata kejadian awal (26/8/2018), di Kantor Polres Ngada, Flores di Kota Bajawa. Berikut petikan keterangan Leonardus Langga’

“Nama lengkap saya adalah Leonardus Langga, asal dari Kisol Kabupaten Manggarai Timur, menetap di Kota Ende, alamat tinggal di Kelurahan Tetandara Kota Ende, profesi sopir. Mobil yang saya bawa adalah mobil rental Bandara Ende. Mobil yang saya bawa adalah milik Pa Faisal Manan. Ceritera sampai saya kenalan dengan Ibu dan Pa Wilson, saya dapat nomor dari Kakak Luky dari Labuan Bajo dan minta saya harus jemput tamu atas nama Pa Wilson yang akan turun dengan pesawat penerbangan via Bandara Kota Ende tanggal 24 Agustus 2018. Saya pun menjemput Pa Wilson di Bandara Aeroboesman Kota Ende sekitar jam 1.30 wita. Pa Wilson datang dengan penerbangan pesawat Garuda dari Labuan Bajo. Saya jemput di Bandara lalu Pa Wilson langsung ajak saya mencari tempat makan dan kami makan di Nikisae. Setelahitu Pa Wilson mengajak saya untuk menunggu Ibunya yang akan segera turun juga di Bandara Ende dengan pesawat Garuda dari line penerangan Kupang ke Ende. Sore harinya sekitar jam empat lewat kami menjemput Ibu Susiani Mailoa di Bandara yang sama (Ende). Setelah kedatangan Ibu Susiani Mailoa kami melanjutkan perjalanan ke Moni (Ende). Kami nginap semalam di Moni lalu tiba pagi harinya saya menemani Pa Wilson dan Ibunya Susiani Mailoa ke Danau Kelimutu (Ende). Setelah itu kami balik ke Kota Ende dan makan siang di Kota Ende tanggal 25 Agustus 2018. Setelah makan perjalanan pun dilanjutkan ke Batu Hijau di Penga Jawa daerah sekitar Nangapanda Ende. Setelah foto-foto disitu kami menuju Bajawa. Tiba di Bajawa sudah malam dan kami nginap di Hotel Edelweis kamar 202, kalau tidak keliru. Setelahitu pagi harinya Minggu tanggal 26 Agustus 2018 (hari kejadian ini) sekitar jam 8.00 wita dari Hotel Edelweis menuju Bukit Watu Nariwowo, Desa Beja-Langa Kecamatan Bajawa. Tiba di parkiran mobil di kampung yanmg terakhir untuk menempuh dengan berjalan kaki menuju bebukitan, saya turun dan saya panggil minta tolong warga disitu untuk bisa pandu kami ke lokasi wisata. Setelah berusaha memanggil warga yang tau tentang titik puncak bukit, datanglah satu Bapak tua dan kami pun meminta bantuan. Karena Bapak tua itu tidak kuat untuk mendaki bebukitan, dia memanggil anaknya Ibu Emerensiana Ngora untuk membantu menunjuk jalan. Lalu anaknya Ibu Emerensiana Ngora,sempat menolak tetapi karena Ibu (korban) meminta jadi dia mengiayakan dan menemani kami menuju lokasi tujuan. Setibanya di lokasi tujuan, Pa Wilson dan Ibunya Susiani Mailoa melakukan foto-foto seperti biasa para wisatawan kalau berkunjung ke lokasi wisata. Kami beranjak dari bukit pertama menuju bukit kedua. Kondisi masih aman terkendali. Saya berjalan di depan, Ibu Susiani Mailoa menyusul di belakang lalu Wilson dan berikutnya Ibu Emerensiana Ngora. Sepanjang perjalanan, Ibu Emerensiana Ngora yang mengatar kami, dia juga selalu memperingatkan agar hati-hati dan berjalan yang pelan-pelan saja, jangan keburu, jangan pakai sandal atau sepatu yang licin awas tergelincir. Itulah yang saya dengar. Saya berjalan di depan karena saya juga ditugaskan membawa camera drone milik Pa Wilson untuk kebutuhan mereka sebagai wisatawan. Nah, saat dari bukit kedua menuju bukit ketiga, saya yang berada di depan tiba-tiba mendengar teriakan dari Pa Wilson. Saya berbalik dan sangat terkejut, saya juga shok karena saya tidak melihat Ibu Susiani Mailoa yang tadinya bersama dengan kami. Saya langsung melihat ke arah jurang tetapi sudah tidak kelihatan. Kami memeluk Pa Wilson yang sudah langsung drop saat itu diatas puncak bukit dengan ketinggian sangat tinggi”, tutur sopir Leonardus Langga.

Wawancara redaksi media ini berikutnya berdasarkan keterangan saksi mata lain, Emerensiana Ngora warga RT 12 Lenazia, Desa Beja-Langa, Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada. Berikut petikan materi wawancaranya’

Saksi, Emerensiana Ngora
Saksi, Emerensiana Ngora

“Saya bantu setelah diminta beberapa kali. Kalau mengantar orang ke lokasi bukit sudah banyak kali. Saya bukan pemandu. Saya sudah menolak tetapi Ibu Susiani Mailoa minta ‘tolong dulu dong bantu kami’. Saya lihat Ibu itu ramah sekali, jadi saya memutuskan untuk membantu mengantar. Sepanjang jalan saya menceriterakan agar jalan perlahan jangan buru-buru. Kalau cape harus istirahat dulu baru lanjutkan lagi. Saya juga selalu bilang harus hati-hati karena tempatnya jurang sangat dalam dan tebing-tebing. Jangan pakai sandal sepatu yang licin. Harus buka sandal dan sepatu agar tidak tergelincir. Ibu Susiani Mailoa menjawab saya bahwa kalau tanpa sandal dia tidak bisa dan tidak kuat berjalan dengan kaki kosong. Ibu Susiani Mailoa tetap memakai sepatu yang ada talinya warna hitam, dan bilang kepada saya bahwa tidak apa-apa. Pada bukit pertama semuanya aman dan tidak ada apapun. Mereka foto-foto, saya selalu memberi peringatan agar harus hati-hati. Peringatan dari saya juga dijawab dengan ramah “iya kami tau, kita hati-hati. Lalu kami menuju bukit kedua, juga aman-aman. Berikutnya dari bukit kedua menuju bukit ketiga. Ibu Susiani Mailoa dan Pa Wilson berjalan dengan merangkak, mereka minta harus menuju bukit ketiga karena view bagus. Saya kembali bilang bahwa jalan berdiri saja, berat badan diatur tetap seimbang. Pa sopir jalan lebih dulu, menyusul Ibu Susiani Mailoa, menyusul Pa Wilson anaknya lalu saya dari belakang dengan sesekali memberi aba-aba sesuai yang saya tau karena saya warga disitu yang tau lokasi. Dari bukit kedua menuju bukit ketiga kami jalan dengan sama-sama menjaga keselamatan dan memperhatikan jalanan yang sempit penuh jurang. Saya juga kaget, saat mau angkat muka lihat kedepan mereka, Pa Wilson sudah teriak“. Saya lihat Ibu Susiani Mailoa tapi sudah terjatuh dari lintasan jalan dengan tangannya terangkat. Jatuhnya kepala melihat ke kami atau seperti terlentang saat terjatuh. Jatuhnya bukan muka yang duluan. Tidak ada yang bisa menolong termasuk puteranya Pa Wilson. Berjalan jaraknya tidak rapat dan ada jarak sedikit antara satu dengan yang lain karena sama-sama konsentrasi dengan tebing di sebelah. Tiba-tiba terdengar teriakan dari Pa Wilson, saat angkat muka Ibu Susiani Mailoa sudah terjatuh” ungkap saksi mata lain, Emerensiana Ngora warga RT 12 Lenazia, Desa Beja-Langa, Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada.

Menurut dua saksi mata ini, mereka tidak melihat apakah Ibu Susiani Mailoa (korban) tengah foto selfie pada beberapa detik sebelum terjatuh ke jurang. Tentang dugaan ini kedua saksi mata mengatakan tidak melihat korban sedang melakukan foto selfie, kata mereka. Tetapi juga kedua saksi mata kejadian tidak bisa memastikan apakah korban tidak sedang berupaya melakukan foto sebelum terjatuh, sebab semua mereka, kata Emerensiana Ngora, sedang mengatur langkah dan mengatur posisi agar berjalan dengan seimbang diatas puncak ketinggian bukit. Kedua saksi mata menerangkan mereka kaget dan spontan dengan suara Pa Wilson berteriak. (red/)