Home Tulisan Lepas Jokowi Dari Barat Ke Timur Tanpa Kecuali

Jokowi Dari Barat Ke Timur Tanpa Kecuali

281
0
“Empat Tahun Pak Jokowi membangun Indonesia dengan sejumlah capaian yang layak kita apresiasi, adalah fakta. Itu bukan hoax. Dari Barat ke Timur, tanpa kecuali, ada pembangunan nyata; jalan/ jembatan, bendungan, termasuk UMR hingga ke daerah yang tergerek naik sejak Pak Jokowi bersama Ahok menetapkan UMR di DKI”.  (Muhammad Ali Musyafak)
Awalnya saya tidak berniat menulis komentar mengenai pencapaian 14 team silat di Asian Games, karena sudah biasa setiap petanding memang punya panggilan (jiwa) untuk meraih yang terbaik.

Tidak ada orang yang datang bertanding hanya untuk sekedar mengisi waktu atau jadi penggembira. Muhammad Zohri yang juara dunia tingkat junior itu pun berusaha untuk meraih keping emas di Asian Games.

Karena itu saya tergelitik membaca tulisan seseorang yang tersesat dan kemungkinan membuat banyak orang akan tersesat. Barangkali karena kecukupan nalar dan pengetahuannya, dia membuat kesimpulan bahwa Prabowo sangat kompeten memimpin Indonesia.

Dasarnya? 14 emas yang disumbang pencak silat memberikan kontribusi besar terhadap capaian Indonesia, 30 emas sampai tgl 29 Agustus 2019.

Kalau anak SD atau lulusan SD yang menulis itu, saya tidak akan tertawa dan tergelitik. Maklum, kecukupan nalar dan pengetahuan level SD jelas masih rendah. Tapi yang membuat simpulan di atas adalah seseorang yang pernah di level pemimpin di perusahaan. Dia mungkin sesat dan ingin menyesatkan yang lain.

Apakah kemampuan mengelola organisasi pencak silat bisa dianggap memenuhi syarat untuk memimpin negara? Organisasi silat itu kecil, dan anggotanya jelas homogen. Mereka juga terdiri dari orang-orang yang memiliki self motivation. Kalau organisasi negara Indonesia? Dari sabang sampai merauke. Bukan hanya terdiri dari banyak pulau, suku budaya, agama dan ras-nya pun berbeda. Kepentingan masing-masing pun berbeda.

Jangankan membandingkan organisasi silat dengan sebuah negara, dibandingkan dengan kelurahan pun belum layak. Di RT saya, ketua RT aja mumet ngurus warga, padahal hanya 60an kepala keluarga. Masing-masing memiliki kepentingan, waktu dan harapan yang berbeda.

Ibu-bapak, saudara dan semua sahabat, calon pemimpin yang kita dukung mungkin berbeda. Hal itu sah-sah saja di sebuah negara demokrasi. Walaupun demikian, tidak berarti kita bisa bebas sebebas-bebasnya mengemukakan pendapat atau pemikiran.

Acuan untuk berbicara bukan hanya undang-undang, tetapi juga etika dan moral yang justru posisinya di atas undang-undang. Karena itu, kalau kita belum memiliki cukup nalar dan pengetahuan, paling tidak pikirkan etika dan moral dari sesuatu yang disampaikan, apakah benar atau salah, asbun atau punya data pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan.

Empat Tahun Pak Jokowi membangun Indonesia dengan sejumlah capaian yang layak kita apresiasi, adalah fakta. Itu bukan hoax. Dari Barat ke Timur, tanpa kecuali, ada pembangunan nyata; jalan/ jembatan, bendungan, termasuk UMR hingga ke daerah yang tergerek naik sejak Pak Jokowi bersama Ahok menetapkan UMR di DKI.

Harga telur dan daging naik? Itu juga fakta. Tapi jangan lupa, itu hal yang biasa dalam ekonomi. Hal yang wajar bila pasar menemukan titik keseimbangan baru (ekuilibreum). Masak gaji pegawai/ karyawan naik tapi petani dan peternak serta pedagang diminta mempertahankan harga lama?

Sekali lagi, mari kita apresiasi pencapaian Pak Jokowi dan team-nya selama 4 tahun ini. Karena hasilnya tampak dan juga bisa diandalkan jadi leverage pembangunan masa depan.

Bagaimana dengan Pak Prabowo? Beliau sebagai rising star orde baru, juga merupakan fakta. Karirnya memang moncer. Beliau merupakan bintang 2 pertama yang memimpin Kopassus setelah direstrukturisasi. Dan Kopassus sebelumnya hanya bintang 1.

Sebagai menantu Soeharto, sang diktator Orde Baru, memang Prabowo bisa meraih apa saja. Dia bisa membangun mall di Cijantung dengan alasan untuk menopang kesejahteraan prajurit. Dia tidak mungkin dihukum, walaupun prajurit tidak boleh berbisnis.

Siapa yang berani menghukum Prabowo, walaupun dia berani menuding-nuding Kolonel atasannya? Tidak ada, bisa-bisa atasannya disingkirkan. Siapa jenderal yang berani memecat Prabowo yang menuding Jend. Moerdani akan kudeta? Hahaa, gak ada. Semua takut kepada Soeharto.

Jangkauan tangan besi Soeharto bukan hanya pada militer. Bukan hanya Jend. A.H. Nasution, Jend. Ali Sadikin dan Jend. M. Jasin yang dia singkirkan, mahasiswa di ruangan kelas juga dia sapu kalau ada yang coba membicarakan dia dan pemerintahannya.

Saya ingat bertemu dengan Ucok Purba, setelah dia keluar dari penjara, di Jakarta. Kepada saya dan teman lain, Ucok cerita bagaimana dia diinterogasi oleh aparat setelah ditangkap karena demo mahasiswa ITB menolak Rudini. Dia kaget karena ketika ke kamar mandi kos tengah malam pun ternyata ada intel yang mengamati dan mencatat jam berapa. Catatan-catatan itu disampaikan dengan detail oleh aparat yang menginterogasi. Uedan!!!

Saya tidak nyangka sejauh itu, walaupun dulu di kelas kuliah, ada teman yang selalu mengingatkan, “awas intel…,” ketika ada mahasiswa bertanya atau mengonfirmasi ke dosen yang agak nyerempet Soeharto. Serammmm…

Saya yakin tidak banyak orang tahu hal itu. Tapi itu fakta. Bukan hoax seperti yang banyak dibagikan kumpulan “orang sakit” yang membuat gerakan ganti presiden, akhir-akhir ini.

Terakhir, kalau ada yang belum tahu, saya ingin sampaikan fakta yang lain mengenai Prabowo. Dia akhirnya dipecat dari TNI (dulu ABRI) beberapa bulan setelah orde baru dan Soeharto tumbang. Penyebabnya, Prabowo dianggap terlibat dalam kasus penculikan mahasiswa dan aktivis yang menolak kekuasaan otoriter Soeharto. Hingga saat ini, masih ada beberapa korban penculikan yang tidak kembali ke keluarganya, termasuk Wiji Tukul.

Itu fakta, tetapi terserah Anda.
Kalau Anda tidak memiliki nalar atau pengetahuan yang cukup, paling tidak buatlah keputusan yang membuat Anda tampak sebagai orang yang memiliki moral dan etika yang cukup!

Siapa kita? INDONESIA!!!
Muhammad Ali Musyafak-Padepokan Lereng Gunung Merapi-Merbabu.

(Tulisan ini dimuat dalam kolom Tulisan Lepas pembaca. “Isi diluar tanggungjawab Redaksi”).