Home Renungan Harian Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

352
0

Jumat, 17 Agustus 2018
Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
Pekan Biasa XIX
¤ Sir 10:1-8
¤ Mzm 101:1a.2ac.3a.6-7
¤ 1Ptr 2:13-17
¤ Mat 22:15-21
“Fermentum”
– Kemerdekaan –
Inilah panggilan kita sebagai orang beriman dan tugas perutusan untuk mengabdi satu sama lain dengan semangat cinta kasih; maka mengabdilah dan janganlah menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa. Jadi kemerdekaan itu mengajak kita untuk memiliki semangat kemuliaan bersama Tuhan dalam kata dan tindakan nyata.
Hari ini, kita sebagai bangsa Indonesia dan sebagai warga Gereja merayakan hari ulang tahun yang ke 73 ‘Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia’. MERDEKA!!!
MER ayakan
DE ngan
KA sih
Inilah ‘orang merdeka’ yang sesungguhnya:
Orang merdeka adalah orang yang hati dan tindakannya tidak dikuasai oleh ‘kebencian’ dan ‘hawa nafsu’.
Orang merdeka adalah orang yang mau menghormati dan mampu mengasihi semua orang atas dasar ‘takut akan Allah’.
Orang merdeka adalah orang yang hidupnya seimbang dan mampu menghayati berbagai peran secara bijaksana, baik dalam hubungan dengan Tuhan, dengan masyarakat, dengan keluarga.
Jadilah ‘orang merdeka’ yang hidup tulus, kudus dan memancarkan kesucian.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita menjadi orang beriman yang arif dan bijak, yang tahu hak dan kewajibannya secara seimbang, dalam proporsi yang tepat dan benar dalam memberikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah dan kepada negara apa yang wajib diberikan kepada negara.
Adapun dua kewajiban dasar yang harus kita lakukan dengan satu hati secara tepat dan benar ini, antara lain:

1. Kepada Kaisar
Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar.” Kata ‘Kaisar’ dimaknai sebagai gambaran hidup duniawi yang bersifat ‘insani’.
Di sinilah kita diajak menyadari bahwa kita tinggal di dunia yang memiliki pemerintah dan sebagai rakyat kita perlu mentaati pemerintah atau pemimpin. Sebagai warga negara, kita adalah ‘orang merdeka’ yang memberikan kepada para pemimpin apa yang menjadi haknya, dengan sikap berani dan jujur menjalani peraturan demi kebaikan bersama.

2. Kepada Allah
Yesus berkata: “Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Kata ‘Allah’ dimaknai sebagai gambaran hidup surgawi yang bersifat ‘ilahi’.
Di sinilah kita diajak menyadari panggilan hidup kita sebagai ‘anak-anak Allah’ yang diciptakan ‘secitra dengan Allah’, yakni memancarkan kesucian hati dan mampu menghayati berbagai peran secara bijaksana dan rendah hati, serta melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita kepada Allah, sebagai ‘orang merdeka’. Inilah buah kesucian dan ketulusan hati yang berpijak pada Allah.
Saudaraku, merdeka itu berarti bergandengan tangan, bergandengan pikir, bergandengan hati, menyatukan visi misi dan mimpi demi satu negeri pertiwi. Mari kita hidup sebagai ‘orang merdeka’ dan berbangga memiliki satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia tercinta ini. Semoga kita semua tetap menjadi satu dalam semangat “Bhinneka Tunggal Ika” dan terus berjuang agar terus berkibarlah ‘Sang Saka Merah Putih’ –

“Merah darah-ku”
“Putih tulangku”
“Katolik imanku”
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.