Home Renungan Harian Ego sum panis vitae – Akulah roti hidup

Ego sum panis vitae – Akulah roti hidup

614
0

Minggu, 19 Agustus 2018
Pekan Biasa XX
¤ Am 9:1-6
¤ Mzm 34:2-3,10-11,12-13,14-15
¤ Ef 5:15-20
¤ Yoh 6:51-58
“Ego sum panis vitam”

– Akulah roti hidup –
Inilah pernyataan Yesus sendiri. Yesus Kristus adalah ‘Roti Hidup’, yang benar-benar makanan dan minuman, yang dipilih, diberkati, dipecah serta dibagi-bagi untuk kita. ‘Roti Hidup’ sendiri merupakan kiasan atas tubuh-Nya yang Ia korbankan untuk memberi kehidupan kekal. Itulah harga yang harus dibayar agar kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Begitu mahalnya sehingga Ia harus mengorbankan diri-Nya sendiri. Ini memperlihatkan kepada kita realitas terdalam kasih Allah, yang menjawab kenyataan gelap manusia dengan jalan pengorbanan hidup. Ia menjadi makanan, bukan sekedar makanan jasmani tapi makanan rohani yang mengenyangkan jiwa kita.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai ‘Roti Hidup’ yang turun dan surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Kita telah menerima Dia sebagai ‘Roti Hidup’ dalam iman dan dalam sakramen Ekaristi sebagai makanan surgawi dan jaminan hidup kekal. Dengan “mata iman’, kita melihat bahwa Tuhan benar-benar hadir dan menjadi makanan untuk kita. Dan kita diyakinkan bahwa Tuhan rela menjadi “hosti” (korban) untuk kita.
Adapun empat dimensi ‘Roti Hidup’ sebagai makanan surgawi dalam sakramen Ekaristi, antara lain:

1. Dipilih
Kita adalah umat pilihan Tuhan lewat satu pembaptisan dalam Gereja Katolik yang satu, kudus dan apostolik.
Di sinilah kesadaran awal yang mesti kita syukuri bahwa kita sudah dipilih dan dikuduskan di dalam Allah.

2. Diberkati
Dengan makan, kita menjadi “kenyang”. Itulah salah satu buah nyata dari makanan. Dengan menyantap ‘Tubuh Tuhan’ dalam Ekaristi, kita juga menjadi “kenyang”, menjadi umat yang selalu diberkati oleh tangan-tangan Tuhan setiap harinya.
Di sinilah kita diajak semakin siap untuk mewartakan iman dengan bersemangat sebagai buah dari penerimaan sakramen Ekaristi, dimana Tuhan sungguh-sungguh hadir untuk kita.

3. Dipecah
Yesus menemukan jalan untuk memperpanjang kasihNya sehingga selalu bersama kita, yaitu pengalaman “dipecah”. Ia rela menjadi seorang pribadi yang rela dipecah.
Di sinilah Yesus mengajak kita keluar dari karakter egosentris menjadi Kristus-sentris, dari parameter hati yang tertutup menjadi hati yang terbuka. Sadar akan berlimpahnya kasih Tuhan untuk kita, kitapun juga diajak untuk selalu memuliakan Tuhan dengan sikap hati dan hidup yang pantas, karena apa yang kita persembahkan di altar juga harus kita bawa dalam pergulatan pasar dalam kehidupan kita setiap harinya.

4. Dibagi-bagi
Dengan menerima Tubuh Kristus yang dibagi-bagi, kita juga ambil bagian dalam kehidupan Allah. Allah yang mau dibagi-bagi dan memberikan diriNya sebagai makanan agar manusia memperoleh tenaga baru dariNya.
Di sinilah kita dipanggil untuk mau berbagi dan membawa hidup serta kasih kepada semakin banyak orang. Penerimaan komuni dalam Ekaristi membawa kekuatan yang luar biasa karena itu memberi kita kemampuan untuk hidup di dalam Dia sebagaimana Dia hidup dalam kita.
Saudaraku, inilah yang selalu kita kenangkan dalam setiap perayaan Ekaristi bahwa kitapun juga dipanggil untuk menjadi “makanan” yang siap mengalami empat dimensi, “dipilih diberkati dipecah dan dibagi-bagi di tengah dunia yang penuh dengan aneka ria kelaparan.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Richard Pasang, SVD