Home Renungan Harian Debitte nobis

Debitte nobis

264
0

Kamis, 16 Agustus 2018
Pekan Biasa XIX
Yeh 12:1-12
Mzm 78:56-57,58-59,61-62
Mat 18:21 – 19:1
“Debitte nobis”

– Ampunilah kami –
Inilah manifestasi dari merendahkan diri di hadapan Allah. Kita sadar akan kelemahan dan kegagalan kita namun kita pun bersukacita karena Allah tetap mengasihi kita. Kasih Allah yang mengampuni akan mendorong kita untuk berbelas kasihan pula kepada orang lain yang bersalah kepada kita.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita meneruskan misi pengampunanNya dengan ‘mengampuni sesama’. Kita akan terdorong dan terpanggil untuk meneruskan misiNya ini kalau kita sungguh-sungguh mengalami, menyadari dan menghayati betapa mahalnya pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan. Karena dosa kita terlampau banyak hingga nyawa Yesus harus dikorbankan untuk menyelamatkan kita.
Adapun tiga semangat dasar yang mendorong kita meneruskan misi pengampunanNya pada sesama, antara lain:

1. Mengampuni
Karena Tuhan telah banyak mengampuni kita, maka selayaknya kita mengampuni sesama. “Aku berkata kepadamu, ‘Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.”
Di sinilah Yesus mengajak kita untuk tidak hanya sibuk “minta ampun” tapi juga berani untuk “memberi ampun”. “Tujuh” adalah lambang kepenuhan, maka “tujuh puluh kali tujuh kali” adalah lambang dari kesempurnaan yang benar-benar mutlak.

2. Mengasihi
Dengan kasihNya, kita mempunyai hidup baru, maka sudah selayaknya kita membalas kasihNya dengan mengasihi sesama.
Di sinilah kita diajak untuk membalas kasihNya dengan memberikan hati kita untuk mengasihi sesama dan tangan kita untuk melayani sesama.

3. Mengimani
Ketika kita mengimani bahwa semangat hidup kita untuk ‘mau’ dan ‘mampu’ mengampuni dan mengasihi sesama, semua tindakan kita ini semata-mata hanya karena rahmat Tuhan, maka kesadaran ini membuat relasi kita secara personal dengan Allah akan semakin dalam dan bertumbuh.
Di sinilah kita diajak untuk semakin mengutamakan iman dan itu sebabnya kita tidak bisa menjadi orang Kristiani paruh waktu. Kita harus menghidupi iman kita setiap saat dalam hidup keseharian.
Saudaraku, kesadaran dan rasa syukur banyak diampuni olehNya membuat kita lebih mudah memaafkan dan mengampuni sesama. Inilah tanda orang beriman. St Thomas Aquinas mengatakan bahwa kerap doa dengan tekun dan setia adalah obat yang mujarab. Apapun situasinya, baik dalam suka atau duka, pahit atau manis, kita diajak untuk terus tekun berdoa, membawa semuanya bersama dengan yang ilahi karena kenyataannya kita perlu “waktu dan kesabaran” karena hidup itu kerap 30% percaya dan kasih, 70% nya memaafkan dan mengampuni sesama.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

Richardus Pasang, SVD