Home Artikel Dari Detukeli Ende Untuk Gurusina Ngada. ‘GURUSINA VS LEDALERO’

Dari Detukeli Ende Untuk Gurusina Ngada. ‘GURUSINA VS LEDALERO’

315
0

Oleh : P. Charles Beraf, SVD

Sedang terkuping kabar penyambutan luar biasa Pater Budi di Seminari Ledalero, Flores. Datang kabar terbakarnya kampung adat bersejarah Gurusina, Ngada.

Kabar pertama langsung tercium aromanya : daging bakar, bir bintang dan tos syukuran – suatu yang terlalu jauh dari semangat Budi yang sahaja dan rendah hati.

Kabar kedua, miris memang : air mata, kehilangan dan bantuan kemanusiaan. Dua hal yang terlalu jauh untuk ditolakbelakangkan.

Tapi bukankah terlalu sering mereka di balik tembok biara yang megah, ya sekitar Wairpelit misalnya, hidup mereka jauh lebih miris, tak sebanding dengan para pendoa kemanusiaan di bangku kapel yang mahal dan keramik kapel berkelas?

Saya hanya membayangkan : suatu tindakan gawat darurat (bukan pemadam kebakaran) bisa seperti ini : sebotol bir di meja ditangguhkan agar segepok bisa ke Gurusina.

Akh…Tapi banyak pendoa kemanusiaan selalu punya sekarung alasan. Ya, alasan yang bisa tetap jadi alasan untuk bisa terus berkotbah tentang tindakan kemanusiaan. Tapi saya ingat Walter Benyamin, Teolog kesayangan Budi pernah bilang : Pendekatan atas sejarah tak cukup dengan pengetahuan, tapi juga dengan memoria.

Memoria itu tindakan kemanusiaan, tapi tidak bisa a-teologis. Ia tetap membutuhkan Allah. Maka kalau doa itu disandingkan dengan sebotol bir, hmmm lebih bertolak belakang daripada dengan tindakan penangguhan sebotol bir – ini Budi akan bawa kenangan ini sampai mati!

Dari Detukeli, kami mengucapkan salam kedukaan ini ke Gurusina. Kolekte Detukeli Hari Minggu, 19/8/2018 untuk Gurusina tercinta, Ngada.