Home Kesehatan Seteguk Arak, Nenek Bui Semakin Bugar Di Usia Renta

Seteguk Arak, Nenek Bui Semakin Bugar Di Usia Renta

468
0
Nenek Bui dengan aktivitasnya sehari-hari mengupas kulit buah asam

Nenek Bui demikian wanita tua itu biasa disapa. Terlahir dengan nama Agata Bui Nedabang terlihat masih trampil mengupas kulit buah asam di pekarangan rumahnya Desa Blepanawa Kecamatan Demon Pagong. Pengeliatannya masih tajam gerakannya masih linca meskipun terkadang lamban karena faktor usia. Saat ditanya berapa usianya, nene bui hanya mengatakan kurang lebih sembilan puluh atau seratus Tahun. “ema goe tutu goe hala”  ibunya mendiang Bota Lein tidak perna mengatakannya secara jelas di masa hidupnya.

Untuk wanita seusianya, wajar jika ia sudah memiliki banyak generasi keturunan. Nenek Bui  bahkan sudah memiliki 4 generasi keturunan. Anak pertama Nenek Bui, Yuliana Romat Tobin saat ini berusia 71 Tahun.  Di Blepnawa Ia Tinggal bersama cucunya Marselinus Lawe Open. Meski sudah berusia sangat renta, nenek Bui ternyata masih sanggup melakukan pekerjaan rumah sehari-harinya. Bahkan Tanpa bantuan tongkat, ia masih bisa berjalan-jalan sendiri dan melakukan aktivitas hariannya seperti mandi dan berdoa. Tidak hanya itu, nenek ini juga masih sanggup melakukan pekerjaan rumah lainnya seperti membantu memasak untuk keluarganya. Ia bahkan bisa beta duduk berjam-jam menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Tiap Hari ada saja yang nenek lakukan dalam membantu pekerjaan rumah, seperti membersikan dan mencuci sayuran, mengupas dan melorit jagung” Kata Marsel Open. Nenek hanya makan dua kali sehari yakni di pagi hari dan malam. Ia tak terbiasa makan siang karena aktivitasnya lebih banyak duduk, ia kuatir rasa sesak di lambungnya kumat. Sehabis makan malam biasanya nenek meminta arak  sebagai minuman penutup sekaligus penghantar tidur.  Tanpa seteguk arak sepertinya belum lengkap;  makannya kami selalu menyiapkan arak untuk nenek.

wahak kae.. pee me maka nae soro lodo hala mo wi” apakah arak sudah habis makanya sampai saat ini belum disajikan, demikian bahasa yang selalu diungkapkan sehabis makan malam manakala kami lupa atau telat menyuguhkan arak untuknya.

Nenek Bui  tak hanya bisa berbahasa daerah namun juga bisa berbahasa Indonesia. Ia mengatakan bahwa kalau dirinya mempunyai banyak Cece dan dahulu  ia perna menempu pendidikan Sekolah Rakyat di Jaman Belanda sekarang setingkat Sekola Dasar (SD). Dalam doa keseharian ia juga melafalkan doa tersebut dalam bahasa Latin yang dahulu diajarkan.  Dalam setiap doannya semua nama anak dan cucu serta cecenya disebutkan satu persatu. (Din)