Home Berita Guru harus mengerti sastra

Guru harus mengerti sastra

253
0

Seorang guru Bahasa indonesia harus bisa memahami sastra agar ia bisa menterjemahkan dan menularkan makna sebuah karya sastra kepada para muridnya secara baik dan benar. Hal itu ditegaskan Bupati Flotim Yosep Lagadoni Herin, S.Sos dalam acara Bedah Buku Samudera Cinta Ikan Paus Karangan Penyair Muda berbakat Flores Timur Bara Patyradja di aula SMA Surya Mandala Waiwerang Kec Adonara Timur (sabtu,27/04/2013)
Buku Samudra cinta ikan paus merupakan buku ketiga yang ditulis penyair Flores Timur kelahiran Lamahala 12 April 1983, Bara Patyradja. Dua buku sebelumnya yang merupakan kumpulan pusi berjudul Bermula Rahim (2003) dan Protes Cinta Repoblik (2007).

Menurut Bupati Yosni, untuk memberikan apresiasi terhadap sebuah karya sastra seorang pembaca atau penikmat sastra harus mengetahui konteks kedirian penyair di saat karya sastra tersebut dibuat. Hal ini menjadi penting agar bisa memahami dan mentejemahkan makna dan realitas dari pesan yang hendak disampaikan penyair yang terwakili oleh kata-kata yang dipadatkan. Tetapi ketika sebuah karya sastra tersebut dipublikasikan, karya tersebut bukan lagi milik penyair. Karena di sana setiap orang bebas mengapresikannya sesuai dengan pengalaman emperik dan pengetahuan tentang sastra yang dialaminya.

“Syarat sebagai seorang penyair, ia harus membawa setiap pembaca larut dan tenggelam dalam imajinasi penyair itu sendiri. Pada buku ketiga Bara Patyradja saya bisa menyimpulkan bahwa kreatifitas pengarang sudah menuju pada penyempurnaan diri sebagai seorang penyair,” tambah Bupati Yosni.?Hal senanda ditegaskan Dr. Sonny Keraf yang tampil sebagai pembedah kedua pada kesempatan tersebut. Menurut mantan menteri lingkungan hidup itu, karya sastra termasuk puisi bersifat multiinterpretatif. Sebuah karya sastra mengungkapkan banyak makna tapi dalam kalimat yang sedikit dan dikompres dalam kata-kata yang padat dan berisi. Hal ini memberikan ruang yang luas kepada pembaca untuk menginterpretasikan sebuah karya sastra sesuai dengan presepsi dan pengetahuananya.

Lebih lanjut Sonny Menjelaskan Kumpulan puisi yang termuat dalam buku Samudra Cinta Ikan Paus syarat dengan nuansa kontradiksi ?antara cinta dan totalitas penyerahan diri yang disimbolkan dengan kepasrahan ikan paus pada tempuling para nelayan ataukah melalui sebuah proses perjuangan dan pemberontakan harus dilaluiterlebih dahulu, sebelum berujung pada penyerahan diri atas dasar cinta. Sementara disisi lain cinta dipahami sebagai sebuah kebebasan untuk memilih. Di sinilah muncul dialektika dalam memahami sebuah puisi sebagai sebuah karya sastra.?Menurut Sonny sastra memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menafsirkan sebuah karya sastra sesuai dengan akal budi dan perasaannya. Sehingga lebih didominasi oleh penafsiran yang bersifat objektif. Sementara proses penulisan buku ini diakui Sonny sebagai bagian dari pengekspresian penyair dari realitas empirik dan batiniah yang universal menujuh realitas lokal.

Sebagai polikus perempuan Maria Gorety Tokan, S.Sos sebagai pembedah ketiga mengupas eksistensi perempuan Lamaholot yang dilukiskan dengan keaslian naluri purba. Menurut Gorety yang juga anggota DPRD Flotim bahwa perempuan Lamaholot mempunyai peran yang begitu penting meski sering kali berada di belakang layar.??Penyair mengangkat Realitas perempuan meninggalkan keaslian naluri purba (eksistensinya sebagai Ibu rumah tangga) untuk tergoda dengan dasi dan jas politik (simbol perempuan modern). Perempuan bukanlah obyek yang diekploitasi tetapi mempunyai otonomi akan dirinya. Sesungguhnya ada pembagian peran dan fungsi antara perempuann dan laki-laki dalam realitas hidup. Dan perempuan Lamaholot mempunyai martabat yang sama tinggi dengan pria.? Tegas Ety.

Sementara Bara Patyradja memberikan apresiasi yang tinggi atas kritik dan analisa dari ketiga pembedah. Bara kemudian menjelaskan bahwa untuk merampungkan karya sastra ini dibutuhkan waktu 7 tahun. Semua yang tertuang dalam kumpulan puisi ini merupakan refleksi atas pengalaman emperik yang sengaja dibenturkan dengan budaya modernitas dan tradisonal dalam khasana etnografi Lamaholot.?Selain para pembedah hadir pada kesempatan itu ketua Yayasan Surya Agung, pengelola SMA/SMK Suya mandala, Bety Korebima, para siswa/i SMK/SMA Surya Mandala dan segenap masyarakat pecinta sastra di Waiwerang dan sekitarnya.

Acara bedah buku ini merupakan salah satu rangkaian acara gebyar surya manadala Expo 2013 untuk memperingati 50 tahun berdirinya SMA Suryamandala Waiwerang. Acara ini diisi dengan sejumlah kegiatan seperti lomba pop singer, baca puisi, menggambar dan mewarnai, pameran foto dan basar serta diklat jurnalistik. Acara ini berlangsung selama 5 hari dari tanggal 25 sampai dengan 30 April 2012. (Din Assan)