Home Berita Kerajianan Periuk Tanah di Lewolere yang Tersisa

Kerajianan Periuk Tanah di Lewolere yang Tersisa

878
0

Kerajinan priuk tanah di kelurahan Lewolere Kecamatan Larantuka kian punah. Kerajinan yang merupakan warisan turun temurun tersebut kini terancam punah. Hal ini terjadi karena? persaingan teknologi alat rumah tangga semakin ketat, akibatnya minat konsumen semakin menurun.

Di Flores Timur, satu-satunya yang tersisa hanya di Lewolere. Ny. Maria Nebo Assan yang didatangi Warta Flotim di kediamannya, mengakui bahwa permintaan konsumen akan kebutuhan rumah tangga dengan berbahan dasar tanah tersebut sudah sangat kurang. Konsumen yang datang ?beberapa orang biasanya ?membeli untuk keperluan memasak ramuan obat-obatan tradisional dan penyulingan arak.

Menurut Mama yang akrab disapa Mama Maria ini, menjelaskan menekuni pekerjaan membuat priuk tanah? tersebut? sejak tahun 1970-an sampai saat ini. Mama Maria, belajar membuat priuk tanah dan sejumlah perabotan rumah tangga lainnya? dari almarhum ibunya. Sekarang yang tersisa hanya ?4 orang pengerajin. Mereka adalah ibu rumah tangga yang mengerjakan kerajinan periuk tanah sebagai pekerjaan sampingan selain berkebun.

?Saya menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Saya belajar mebuat kerajinan ini dari almahrum ibu saya. Dahulu hampir semua ibu rumah tangga di kelurahan Lewolere mengerjakan kerajinan ini sebagai mata pencaharian. Namun beberapa tahun belakangan ini kerajianan ini hampir tidak terlihat lagi. Hanya beberapa ibu yang mengerjakanya.? Jelas Maria Nebo Assan seorang pengerajin periuk tanah.

Proses pembuatan periuk tanah harus melalui beberapa tahap mulai dari menggali tanah, menjemur tanah, menumbuk dan mengayak, setelah itu tanah yang sudah dihaluskan dicampur dengan air dan dibentuk di atas mal yang terbuat dari anyaman bambu untuk ?menjadi periuk, kuawali, tembikar dsb. Semuanya dikerjakan secara manual dengan mempergunakan alat tradisional dari batu dan kayu. Setelah itu periok yang masih basah dijemur selama 1-2 hari hingga matang dan siap untuk dibakar. proses ini memakan waktu 5-7 hari dan pengerjaannya dilakukan pada musim kemarau dari bulan mei s/d oktober.

Menurut Maria Kualitas periuk yang baik harus menampakan warna merah bata dan bentuknya yang proposional.? Saat ini sebuah priuk dihargai dengan Rp.50 ribu, sedangkan tembikar dan kuali dijual dengan harga Rp.10 ribu. Kadangkala periuk pun bisa dibarter dengan padi atau jagung. Biasanya 2 priuk dibarter dengan 25 kg padi/jagung. Meski penghasilanya tidak menentu namun sangat membantu perekonomian keluarga.

Di bulan mei sampai dengan bulan oktober banyak permintaan akan periuk tanah. Karena pada saat itu periuk tanah sangat dibutukan untuk proses penyulingan arak. Para pembeli datang ke rumah kami untuk membelinya, beda dengan dahulu kami harus menjualnya di pasar Oka. Para pembeli tidak hanya dari Flores Timur daratan tapi dari pulau Adonara, Solor dan Lembata. Meski demikian Maria kuatir akan proses pelestarian kerajianan ini, sebab kaum perempuan sekarang tidak begitu respon dan memandang?sebelah mata akan usaha produktif ini. Disisi lain lahan yang selama ini menjadi tempat untuk menggali tanah liat direncanakan dibangun pemukiman baru.

Sementara itu Lurah Lewolere Emanuel Nanggo Odjan membenarkan hal itu. Eman menjelaskan lahan itu rencananya dibangun pemukiman sesuai kesepakatan pemilik tanah ulayat. Kami sebagai pemerintah Kelurahan sangat menyayangkan hal itu. Karena di lahan tersebut ada sejumlah warga kelurahan ini yang menggantungkan hidupnya. (Agustinus Dading Assan/ humas setda)