Home Artikel Yang Terisolir di Ujung Timur Nusa Bunga

Yang Terisolir di Ujung Timur Nusa Bunga

284
0
Wakil Ketua DPRD Anton Gege Hadjon (tengah) bersama anggota DPRD asal Tanjung Bunga Hendrik B. Koten( Kiri) dan kepala Desa Lamatutu Stefanus B. Wulagening saat meninjau jalan hasil kerja TMMD di Dusun Tanah Belen.

Pagi itu rabu, 10 Oktober 2012. Suasana desa Lamatutu tampak tak seperti biasanya. Beberapa kendaraan tengah parkir di sekitar lapangan sepak bola desa Lamatutu. Berberapa personil TNI terlihat sibuk mengatur barisan. Sesekali terdengar instruksi dari pengeras suara memberikan aba-aba kepada segenap pasukan. Tak jauh dari lapangan sepak bola desa Lamatutu dibangun sebuah camp tentara? kurang lebih 8 m x 10 m. Tak lama kemudian terlihat? iringan-iringan mobil dikawal ketat dua speda motor dikendarai tentara berhelm putih. Paling depan mobil dinas Bupati Flores timur, ?di belakangnya mobil dinas Dandim 1624 Flores Timur dan mobil lainnya. Saat mobil berhenti, tampak Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos didampingi KomandanPangkalan Laut Maumere Letkol Laut Andy Willy dan Dandim 1624 Flotim Letkol R. Beny Arifin disambut Camat Tanjung Bunga Sipri Ritan dan kepala Desa Lamatutu Stefanus Buga Wulanggeni.

Kehadiran ketiga pejabat ini untuk membuka kegiatan Tentara Manunggal Masuk Desa ?(TMMD ke-89). Pada hari itu (10/12/2012) pembukaan kegitan TMMD tidak hanya dilakukan di Flores Timur tetapi serentak dilakukan di seluruh Indonesia. Tingkat nasional dipusatkan di Kabupaten Belu dan dibuka langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jendral? TNI Pranono Edhi Wibowo. Pada apel pembukaan TMMD Dantamal Maumere Letkol laut Andy Willy yang bertindak selaku inspektur upacara, dalam amanatnya Dantamal Maumere mengaskan pelaksanaan kegiatan ini diarahkan pada pembangunan infrastruktur, sarana dan prasaranan (pembangunan fisik) yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat. Sedangkan sasaran non fisik diarahkan pada kegiatan yang dapat menggugah kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, seperti penyuluhan berbangsa dan bernegara, bela negara dan cinta tanah air, kamtibmas, kesehatan dsb.

Lebih lanjut kepada para prajurit, Jendral yang juga merupakan Penggungung jawab TMMD ke- 89 mengingatkan agar para prajurit melaksanakan tugas mulia ini dengan penuh keiklasan dan penuh tanggung jawab, bekerja secara profesional dengan tetap memperhatikan kewaspadaan terutama yang berada di daearah rawan. Dengan ?kegiatan TMMD ini, ?menjadi kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat guna memantapkan kemanunggalan TNI rakyat.

?Sebelumnya telah dilakukan pra-kegiatan TMMD yaitu pembuatan jalan sepanjang 1 km dan 1 buah deker menuju lokasi TMMD (desa Lamatutu). Sementara kegiatan utama yakni pembukaan jalan baru dari desa Lamatutu ke dusun Tanah Belen sepanjang 2,3 km dan pembuatan satu buah deker sepanjang 2 m dan lebar 6 m ?serta pembuatan parit sepanjang 800 m. Disamping itu dilakukan kegiatan tambahan yakni? pembukaan jalan baru dari dusun IV Tanah Belen menujuh dusun Lewokoli sepanjang 1 km dan pembangunan balai pertemuan desa Lamatutu? jelas Dandim 1624 Flotim. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 10/10/2012 dan akan berakhir pada tanggal pada ?30 Oktober 2012. Kegiatan ini melibatkan personil TNI sebanyak 150 orang dan masyarakat sebanyak 100 orang.

Sebelumnya Desa Lamatutu termasuk wilayah yang terisolasi. Salah satu dusun di sana yakni dusun Tanahbele selama 67 tahun Indonesia merdeka baru mendapat akses jalan pra-kerja TMMD? dan pertama kali kendaraan exavator masuk pada 8 Agustus 2012 jam 8 malam atau pukul 20.00 Wita. Jelas kepala Desa Lamatutu Stefanus Buga Wulanggeni.

Saat kru humas mengunjungi dusun Lewobele, bersama kepala desa Lamatutu, wakil ketua DPRD Anton Gege Hadjon,ST dan anggota DPRD asal Desa Lamatutu, Hendrik Belang Koten, kehadiran kami mengundang sekelompok anak kecil berlarian mengikuti laju kendaraan kami dari belakang. Teriakan-teriakan mereka mengingatkan kami pada saat-saat dimana mobil merupakan sesutu yang langka di negeri ini. Sebagian besar rumah penduduk berdinding pelupu (bambu cincang) dan beratap alang-alang dan kalau pun seng itu pun cuma seadanya saja. Kami berhenti tepat di sudut dusun. Di depan kami berdiri sebuah bangunan mirip sebuah kandang ayam yang nyaris roboh. Spontan kepala desa Lamatutu ?mengatakan bahwa ini adalah bangunan sekolah dasar (SD) Inpres Bohu. Dua ruang kelas itu sudah bocor, tampak? alang-alang dan bambu yang rapuh termakan rayap, begitu juga dindingnya terbuat dari pelupu (bambu cincang) sudah? lapuk. Di atas meja guru tersusun rapih buku-buku pelajaran SD meski kelihatan kumal dan berdebu. Lantai kelas masih tanah itu pun tidak rata berbaur dengan bongkahan batu kapur dimana-mana. Di sebelah timur terdapat 4 ruang kelas lainya berdidnding papan dan beratap seng.

Saat kami tiba di sana pada pukul 14.00 wita (siang), kegiatan belajar mengajar telah usai namun beberapa murid SD masih mengenakan pakaian seragam. Menurut kepala dusun Petrus Pehang Manuk Sekolah itu berdiri sejak tahun 1970-an dan saat ini menampung 50-an murid. Lebih lanjut Petrus Pehang menjelaskan bahwa dusun ini dihuni oleh 46 kepala keluarga dengan jumlah rumah sekitar 30-an. Meski sudah berpindah lokasi sebanyak 9 kali Pehang tetap menguturakan keingan masyarakat Dusun untuk pindah lebih dekat dengan pusat desa.

?Sejak kami pindah di tempat ini pada tahun 1994 dusun ini masih kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk penerangan di malam hari kami cuma mengandalkan lampu pelita. Sementara minyak tanah sangat sulit kami dapatkan. Jangankan di Tanjung Bunga ke Larantuka pun kadang kami pulang hanya meneteng jerigen kosong. Dengan adanya pembukaaan jalan baru ini cukup membantu kami.? Ke Aarantuka cukup dengan menumpang angkutan hanya 2 jam. Dulu 4 jam menggunakan perahu motor. Ujar anis Koten salah seorang warga dusun Tanabele. (Agustunus dading Assan staf humas protokol setda flotim)