Home Artikel Geliat Petani Mete Flores Timur

Geliat Petani Mete Flores Timur

517
0
Pohon mete yang tumbuh subur di wilayah Kabupaten Flores-Timur kini menjadi andalan petani wilayah ini. (Foto: FBC/ Melky Koli Baran)

LARANTUKA, FBC- Jambu mete, salah satu komoditi eksport. Sejumlah tempat negeri ini jadi sumber produksinya. Flores, salah satu daerah asal mete dan ?Flores Timur mendapat tempat yang turut diperhitungkan.

Bukan soal produksi saja tetapi desa Balukhering di kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur telah terbukti sebagai daerah asal bibit jambu mete bersertifikasi.

Kurang lebih duapuluh-an tahun sejak ??Orde Baru? Kabupaten Flores Timur telah berjaya dengan komoditi ini. Bahkan di berbagai kesempatan, komoditi ini selalu dijuluki primadona kabupaten Flores Timur.

Ini bukan sekedar julukan. Sejarah produksi mete di kabupaten ini memberi catatan bahwa komoditi ini telah turut menyelamatkan ekonomi para petani Flores Timur pada krisis ekonomi tahun 1998 dan 1999 silam.

Saat itu, para petani jambu mete di Flores Timur panen uang. Kenaikan nilai tukar dolar beberapa kali lipat dari Rp 2.500 saat itu, turut mendongkrak kenaikan harga jual biji mete gelondongan mencapai Rp 15.000 sampai 20.000 per kg dari sebelumnya Rp 2.500 per kg.

Yakobus Seng Tukan, petani jambu mete dari Kecamatan Lewolema mengatakan, kejayaan petani jambu mete Flores Timur waktu itu, ?dimungkinkan dua hal. Pertama, pada masa itu produksi jambu mete berada di puncak kejayaan dan kedua ?harganyapun menggiurkan.

?Dengan begitu, petani jambu mete yang biasa menjual jambu mete dengan harga tertinggi Rp 2.500 per kg mengalami kenaikan hingga Rp 15.000 per kg,? ungkapnya.

Lima Tahun Terakhir

Kini, masa kejayaan itu menjadi noslatgia masa lalu. Kurang lebih lima tahun terakhir dan terlebih dua tahun paling akhir, penghasilan petani jambu mete terus melorot.

Secara keseluruhan, produksi ratusan hektare kebun mete petani Flotim terus menurun. Diduga hal ini disebabkan usia tanaman jambu mete sudah tua dan juga karena cuaca dan iklim memburuk akibat pemanasan global.

Penurunan drastis produksi jambu mete ini kemudian mendorong sejumlah kelompok tani jambu menempuh cara kreatif agar bertahan dalam situasi sulit ini. Caranya dengan memulai usaha pengolahan biji mete menjadi kacang mete dengan nilai jual yang tinggi dan stabil.

Yakobus Seng Tukan bersama kelompoknya di desa Bantala telah memulai upaya ini tahun 2002. Saat itu, kelompok tani Dei Pigere yang diorganisirnya bekerja sama dengan seorang pengusaha kacang mete di Larantuka, untuk melakukan latihan pengupasan biji mete menjadi kacang mete.?Latihan selama seminggu ini diikuti oleh belasan petani. Dari jumlah itu, tidak sampai lima orang yang mahir mengupas biji mete?, demikian kisah Yakobus sambil menambahkan, walau hanya lima orang namun telah menjadi pengalaman baru yang memberi nilai tambah.

Dikatakanya, saat itu pengupasan biji mete belum populer. Para petani biasa menjual biji mete gelondongan dengan harga yang tak menentu setiap tahun. ?Pengalaman menjual kacang memberi pelajaran bahwa harga kacang mete tetap stabil. Tahun 2002 harga biji mete bergerak antara Rp 2000 hingga Rp 12.000. Namun harga kacang mete stabil di angka Rp 60.000? demikian katanya.

Dengan nada guyon ia mengatakan, untuk mendapat uang Rp 600.000 petani harus mengumpulkan kurang lebih satu karung biji mente. Jika menjual kacang mete hanya butuh 10 kg.

?Sebelumnya saya ke pasar pikul karung berisi biji mete. Setelah belajar kupas mete, saya ke pasar tidak pikul karung lagi. Malah pernah saya bawa tas kulit yang di dalamnya saya isi 10 kg kacang mete?, kata Yakobus.

Hal yang sama diceriterakan Yohanes Lae Ruron dan istrinya Maria Arofa, keduanya anggota? kelompok tani Nubun Tawa kampung Welo desa Painapang kecamatan Lewolema.

Ditemui di Welo beberapa waktu lalu, Yohanes dan istrinya berceritera mereka harus berpikir serius menghadapi anjloknya produksi dan harga jambu mete. Menurutnya, dataran Welo merupakan salah satu daerah produksi Mete andalan masyarakat desa Painapang. Karena itu, dari segi penghasilan keluarga, para petani di wilayah ini mengandalkan mete sebagai salah satu sumber utama penghasilan tahunan.

?Jika komoditi ini bermasalah baik produksi maupun pemasaran, maka sangat mengganggu pendapatan keluarga-keluarga di wilayah ini?, kata Yohanes yang ditemani istrinya sedang ?mengupas biji-biji mete.

Melalui Koperasi Nubun Tawa

Karena anjloknya produksi mete beberapa tahun terakhir, Yohanes dan warga kampung Welo yang bergabung dalam Koperasi Nubun Tawa memutuskan untuk mendalami usaha pemecahan biji mete, walau dengan peralatan manual. ?Melalui usaha ini, kami tidak lagi jual biji mete tetapi jual kacang mete?.

Dijelaskan Yohanes, Koperasi Nubun Tawa resmi berdiri tahun 2011 dan kini beranggotakan 36 petani jambu mete dari 36 kepala keluarga petani. Koperasi ini menjalani usaha simpan pinjam, produksi dan pemasaran jambu mete.

?Melalui koperasi ini, kami melakukan usaha produksi dan pemasaran bersama. Hasil panen jambu mete semua anggota wajib dijual ke koperasi. Selanjutnya koperasi yang melakukan penawaran kepada para pengumpul antar pulau?, kata Yohanes.

Dari pengalaman dua tahun musim panen, koperasi ini berhasil memasarkan ke Surabaya 30 ton biji mete tahun 2011. Selanjutnya tahun 2012 menjual 28 ton di pasar lokal Flores Timur.

Walau melakukan pemasaran bersama, permainan harga dari para pembeli sebagai pengalaman buruk sebelumnya masih terulang. ?Karena itu, masih sering mengalami kerugian?, kata Yohanes.

Untuk itulah, koperasi Nubun Tawa harus mencari cara lain yang tidak berisiko. ?Pilihannya jatuh pada produksi kacang mete?, tambahnya.

Dia menjelaskan, setiap anggota dilatih memecahkan biji mete untuk mendapatkan kacangnya. Kacang mete yang diproduksi tiap anggota dikumpulkan di koperasi. Tugas koperasi adalah mencari pasar yang bisa memberi keuntungan.

?Atas kerja keras para pengurus mencari peluang pasar maka dalam musim panen 2012 koperasi ini telah mendapatkan? peluang pasar di Denpasar dan Batam?, demikian cerita Yohanes Lae Ruron.

Dia menambahkan, setiap minggu sejak musim panen bulan Agustus 2012, koperasi Nubun Tawa memasarkan 15 sampai 40 kg kacang mete dengan harga Rp 90.000 per kg. ?Kami pasarkan tiap minggu antara 15 sampai 40 kg tergantung permintaan yang kadang bervariasi?, jelasnya.

Menjual Kacang Lebih Menguntungkan

Dibandingkan dengan penjualan biji mete gelondongan, Yohanes mengatakan, menjual kacang lebih menguntungkan.

Untuk menghasilkan 1 kg kacang mete, demikian tutur Yohanes dan istrinya, dibutuhkan 4 kg biji mete. 4 kg biji mete jika dijual dengan harga Rp 10.000 maka petani hanya mendapat Rp 40.000.

Jika harganya di bawah Rp 10.000 maka penghasilan petani di bawah Rp 40.000. Kerugian kedua adalah petani terpaksa menjual habis hasil panennya? pada musim produksi. ?Jika menjual kacang selain harga lebih tinggi, juga berkelanjutan sepanjang tahun. Sebab biji mete tetap disimpan dan akan diolah jadi kacang sesuai kebutuhan pasar?.

Walau demikian, bukan berarti tidak ada tantangan. Sekurangnya dua tantangan yang telah direfleksikan setelah menekuni bisnis paska panen ini. Pertama, penghasilan bulanan petani tergantung pemesanan. Jika pemesanan meningkat maka penghasilan juga meningkat dan sebaliknya.

Tantangan kedua adalah persaingan harga. ?Kami belum bisa memasarkan ke Jawa. Di Jawa harga kacang mete jauh lebih rendah, bahkan jatuh sampai Rp 40.000 per kg?, kata Yohanes.

Walau demikian, petani jambu mete di Flores Timur masih punya harapan dan kemampuan di tengah permaian pasar dan iklim yang berpengaruh pada produksi dan harga.?Pengalaman jatuh dan terus jatuhnya harga biji mete gelondongan telah memotivasi petani untuk beralih ke usaha-usaha paska produksi sesuai peluang pasar.

Ke depan tantangan akan semakin berfariasi. Tantangan pemasaran bisa diatasi dengan pengolahan kacang mete. Lantas bagaimana jika tantangannya terletak pada iklim yang membuat tamana jambu mete gagal total berbuah?

Apapun yang akan terjadi, petani harus terus belajar dan menang. (Melky Koli Baran)

Sumber: www.floresbangkit.com