Home Sejarah Flores : Eden yang Hilang Telah Ditemukan (Bagian 2-Habis)

Flores : Eden yang Hilang Telah Ditemukan (Bagian 2-Habis)

549
0

Oleh : Nando Watu

FLORES memang paradoks. Bila mengarah pada kemanusiaan. Bila mengarah pada kenyataan sekarang, kemiskinan masih mengitari manusia Flores, tangan-tangan jahil untuk menghilangkan keindahan Flores tengah dilakukan dan dalam dari pada itu konspirasi untuk menghilangkan eden/peradaban tertua di dunia tengah dalam proses penjajakan, wajah malaikat yang berpribadi setan tengah menjelma di bumi Flores melalui pertambangan.

Orang Flores sendiri yang membuka kesempatan untuk menciderai taman eden-Flores ini. Dengan mencidrai wajah bumi melalui pertembangan berati tidak hanya menghianati dirinya yang lahir dari budaya yang menghargai tanah sebagai kehidupan, namun bersiaplah menanti pula kutukan alam ke dalam diri anda. Nenek moyang dan segala isinya tengah memburu mereka yang berusaha untuk merusak alam itu.

Kelima, Flores, titik temu antara peradaban dan kepercayaan kuno,? Falsafah jawa hindu tentang konsep Pulau yang berasal dari ular buana ananta, ular laut tempat pembaringan dewa wisnu dalam perlambang keadilan dan sebagai anantaboga, ular Bathara guru yang bertapa di bawah Buana, atau kepercayaan tentang ular Naga oleh penganut agama dengan mengarah pada Pulau yang kita duduki seakan menjadi jawabannhnya, Nusa Nipa.

Sama halnya? juga mitos asal usul padi atau dewi Sry, sejumlah suku Flores mangakui mitos ini , misalnya di Sikka mengenal pemujaan kepada Tuga Dua Nallu? Pare, atau Lio Ine Pare. Tidak sebatas cerita namun ritual menghargai padi sebagai manusia yang hidup juga masih cukup kental dalam lingkup manusia Flores.

Beberapa kenyataan di atas, bagi penulis seakan memberikan landasan untuk tidak sependapat dengan catatan dalam buku-buku sejarah bahwa manusia yang menghuni Flores berasal dari keturunann india, atau Persia atau Pakistan atau semacamnya.

Flores adalah Flores, kaya akan budaya, bahasa serta alamnya. Logikanya tidak masuk akal, pulau yang sebesar jagung ini dalam tataran peta dunia justru hidup aneka manusia dengan berbagai karakter, bahasa, dan budaya.

Jika? benar keturun dari ?barat? pasti pulau sekecil Flores ini ada aneka kesamaan baik budaya atau karakternya, namun yang ditemukan di Flores justru perbedaanya, keanekaannya. Dan dalam dari pada itu justru perbedaan menjadi kekayaan, Manusia-manusia Flores justru dapat mengolah perbedaan, kekurangan yanga dan yang ada menjadi berkat untuk hidup dalam kedamaian, sehingga jarang ada konflik atau pertikaian.

Inilah sebenarnya suara dari taman eden-Flores untuk nusantara dan dunia. Suatu pelajaran bagi dunia. Kita berbeda-beda tetapi satu. Berbeda-beda namun manusia-manusianya hidup rukun dan damai.

Kenyataan di atas seakan mencapai pemenuhannya manakala kita mencoba meletakan ratio dalam arena kekinian.? Mata nusantara saat ini tengah mengarah ke dunia timur, Flores dengan upaya menegaskan kembali butir-butir mutiara Soekarno di Ende dalam melahirkan dasar Negara Pancasila. Seakan telah menemukan Indonesia kecil di Flores sebelum membentuk NKRI ini. Indoneisa mini telah ada lebih dahulu di Flores sebelum Proklamasi 1945.

Lebih lanjut, Kehahadiran orang Flores yang dikenal dengan ?kejujuran? oleh kalangan luar Flores, budaya cetak? perdana di nusantara yang lahir melalui penerbit Nusa Indah, juga restu leluhur nusantara tengah menjamah dalam diri manusia-manusia Flores dengan lahirnya pemikir-pemikir Flores yang besar pengaruhnya dalam tatanan NKRI.

Kesemuanya itu seakan menegaskan bahwa yang terjadi bukan serba kebetulan. Tidak hanya itu, dunia internasional juga tengah mengarah ke Flores dengan Pariwisatanya. Flores, The last Paradise, Surga yang ada di dunia.

Matahari terbit dari timur, Flores ada dalam koridor kepulauan Sunda kecil dalam tatanan adminstrasi pemerintahan Sebelum Merdeka, secara Geografis Flores ada di negeri timur. Dengan berpijak pada beberapa landasan pemikiran ini, pintu yang dibuka oleh?? Arysio Santos dengan atlantis : the lost continent? atau? Oppenheimer dengan Eden in the Eastnya seakan sudah menemukan jawababnya, pintunya telah ditutup oleh Flores.

Akhirnya sebelum menutup tulisan ini saya mengutip kata-kata yang pernah diungkapkan oleh Rektor Universitas Flores, Prof. Stef Djawanai yang dimuat Floresbangkit/FBC 21/09, ?Pariwisata itu adalah institusi yang membuat orang hidup lebih panjang, sebab dalam dan melalui Pariwisata orang justru berziarah menuju diri, atau dengan istilah a Journey to your own heart, Ia merupakan sebuah proses perjalanan untuk menemukan kembali jati diri seseorang, dan seringkali kita menemukan hal itu pada hal-hal yang kita sebut primitive.

Primitive berarti prima, primus yang utama, hal-hal yang utama dan mendasar tentang kehidupan manusia. Jadi perjalan itu adalah suatu perjalanan batin yang berakhir orang hidup bahagia dan tentu akan memperpanjang hidupnya.?

Datanglah ke Flores karena di sinilah Eden yang hilang, Peradaban yang pertama, tertua, awal mula peradaban manusia. ?(Habis)

Penulis?: Kontributor Floresbangkit.com, Peminat Masalah Sosial Budaya?

Sumber: www.floresbangkit.com