Home Berita Dermaga Feri Waibalun Mulai Bergeliat

Dermaga Feri Waibalun Mulai Bergeliat

334
0

Foto dan Teks : Melky Koli Baran

LARANTUKA, FBC: Tingginya gelombang di perairan NTT yang mencapai 2-7 meter beberapa waktu lalu, telah membuat situasi pelayaran kapal motor penyebarangan antar pulau menjadi tidak normal. Kondisi ini sangat mempengaruhi situasi pelabuhan Feri di Waibalun, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Sejak dihentikan pelayaran itu, suasana di kawasan pelabuhan Feri di Waibalun, sangat lengang. Sejumlah kendaraan roda empat dan roda enam parkir bisu di pelabuhan itu menanti kapan dibukanya lintasan pelayaran. ?Warung-warung tenda jualan makanan ringan di pelataran pelabuhan pun dikosongkan bersamaan dengan datangnya ?angin kencang yang melanda Flores Timur pada hari-hari itu.Setelah kurang lebih dua minggu lintasan Kupang ke Flores Timur terhenti, ?sejak? 24 Januari jalur ini dibuka kembali. ?Jumat 25 Januari tepat? pukul 05.00 KMP Ile Mandiri akan sandar di pelabuhan Feri Waibalun. Pelayaran di lintasan ini sudah normal?, demikian kata Simon Kerans di ?pelabuhan Feri di Waibalun, Larantuka, 24/01/2013.

Simon Kerans yang juga Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) pelabuhan Feri Waibalun ini menambahkan, selama kurang lebih dua minggu pelabuhan ini sepi karena cuaca sangat buruk. Gelombang laut di perairan ini sangat tinggi. Keadaan ini berdampak pada menurunnya penghasilan para pekerja dan penyedia jasa di pelabuhan ini. Namun diakuinya bahwa kondisi ini bukan disengaja tetapi karena faktor alam.

Data yang bersumber dari BMG mengatakan sekitar 13 lintasan yang tutup saat itu karena tingginya gelombang.? Misalnya, selat Sape naik setinggi 2,5 meter, selat Flores 5 sampai 7 meter. Laut Sawu 5-7 meter, Laut Timor 4-6 meter dan selat Flores 5-7 meter.

Bahkan penyeberangan antar pulau Flores Timur dan Lembatapun sempat ditutup beberapa hari di minggu kedua bulan Februari lantaran gelombang di selat Lamakera-Boleng yang menghubungkan pulau Solor, Adonara dan Lembata kala itu setinggi antara 5 sampai 7 meter.

?Selama kurang lebih dua minggu pelabuhan ini sangat sepih. Praktis para penyedia jasa tak kelihatan di pelabuahan ini. Berarti penghasilan keluarga juga terpengaruh?, kata Simon Kerans.


Dengan mulai beroperasinya pelayaran pelabuhan Bolok Kupang ke Waibalun di Flores Timur, urat nadi perhubungan di lintasan ini mulai hidup lagi. Kata Simon Kerans, walau demikian, pada pelayaran Jumat 25 November ini pelabuhan masih sangat sepi.

Hari itu, KPM Ile Mandiri hanya mengangkut sejumlah kecil penumpang dan terbanyak mengangkut kendaraan roda empat dan roda enam yang selama kurang lebih dua minggu parkir di pelabuhan ini.

Simon Kerans menjelaskan,?Walau muatan utama hari ini adalah kendaraan, toh tidak semua kendaraan yang menunggu diseberangkan ke Kupang. Masih ada sekitar 7 kendaraan yang belum bisa diseberangkan. ?Kendaraan-kendaraan ini masih menunggu pelayaran selanjutnya?.

Absennya pelayaran Feri Kupang ke Waibalun selama kurang lebih dua minggu turut berpengaruh pada penghasilan para buruh dan penyedia jasa di pelabuhan ini. ?Buruh angkut dan para penjual makanan di pelabuhan ini tidak mendapat penghasilan harian selama ditutupnya pelayaran ini. Hari ini sudah bisa buka, tetapi karena penumpang sangat kurang maka banyak pekerja hari ini pulang dengan tangan kosong,? ujar Simon.Sejumlah buruh angkut dengan alat gerobak dorong yang nongkrong di pelabuhan ini mengakui hal ini. Demikian juga ibu-ibu warga kelurahan Waibalun yang membuka warung tenda di pelabuhan ini.

?Ya, ini hari pertama setelah sekian lama Feri tidak jalan jadi penumpang belum tahu. Banyak calon penumpang telah berlayar dengan KM Sirimau kemarin. Jadi hari ini di sini kurang?, kata mama Vero Kolin diamini kawan-kawannya yang lain. Walau demikian, ia dan kawan-kawannya optimis, hari Senin tanggal 28 Januari dan setersunya pasti sudah kembali ramai.Pantauan langsung FBC di pelabuhan Feri Waibalun Jumat pagi 25 Januari saat KMP Ile Mandiri sandar dan siang menjelang kembali ke Kupang, pelabuhan Fery yang biasanya disesaki pengunjung dan pekerja, hari itu sangat lengang.

Pintu masuk dan loket penjualan tiket yang sering membuat repot petugas pun kelihatan lengang. Para buruh angkut dan buruh panggul santai duduk-duduk di pelataran pelabuhan sambil menatap ke laut lepas.

Sumber: www.floresbangkit.com