Home Berita Perlu Pendataan Daerah Rawan Bencana

Perlu Pendataan Daerah Rawan Bencana

265
0

LARANTUKA, FBC- Kota Larantuka khususnya, dan Kabupaten Flores Timur umumnya, dikenal sebagai wilayah rawan bencana. Kendati masyarakat sudah terbiasa hidup dalam kondisi lingkungan semacam ini, namun perlu terus diwaspadai agar kondisi alam tidak membawa dampak yang merugikan masyarakat.

Bertempat di Restoran Senaren, kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, ?24/11/12, berlangsung ?diskusi kota? menghimpun gagasan pengurangan risiko bencana (PRB) kabupaten Flores Timur.

Diskusi yang diselenggarakan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial? (YPPS) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah kabupaten Flores Timur ini sekaligus meluncurkan Program Building Depening Resilience/BDR (Membangun dan Memperdalam Kedayatahanan) menghadapi bencana di kabupaten Flores Timur yang didukung Oxfam.

Hadir dalam kesempatan ini unsur pemerintah kabupaten (SKPD terkait), unsur pemerintah kelurahan? di kota Larantuka, LSM, utusan DPRD kabupaten Flores Timur dan tokoh-tokoh masyarakat laki-laki dan perempuan yang berjumlah 40 orang.

Diskusi yang berlangsung santai sambil menikmati kopi/tek dan jagung titi ini dipandu Bernard Tukan, dan berlangsung dari jam 17.00 hingga 21.00. Diskusi mengangkat sejumlah tema berkaitan dengan berbagai ancaman di Flores Timur dan upaya-upaya pengurangan risiko. Walau terkesan santai, diskusi ini secara resmi dibuka Sekretaris BPBD Flores Timur, Mikael Wungubelen.

“Diskusi Kota” menghimpun gagasan pengurangan risiko bencana (PRB) Kabupaten Flores Timur, Larantuka 24/11/12. (Foto : FBC/Melky Koli Baran

Penataan Kota Larantuka

Tema pertama yang mencuat dan mendapat perhatian dalam peserta diskusi adalah letak dan posisi kota Larantuka. Larantuka sebagai kota kabupaten terletak di lereng gunung Ilemandiri yang telah beberapa kali diterjang banjir bandang.

Berangkat dari pengalaman bencana banjir bandang tahun 1979 dan terakhir tahun 2003, diskusikemudian memberi perhatian posisi dan kondisi kota Larantuka yang rentan terhadap ancaman longsor dan banjir dari lereng gunung Ilemandiri.? ?

Bapak Ali, peserta diskusi dari unsur Palang Merah Indonesia Flores Timur berpendapat, Larantuka merupakan kota kecil dan terhimpit lereng gunung Ilemandiri yang curam serta selat Gonsalu di depannya. Rumah-rumah penduduk di kota ini banyak yang dibangun di lereng terjal dan di sejumlah titik teridentifikasi rawan banjir dan longsor ternyata padat perumahan dan penduduk.

?Larantuka adalah kota yang dibayang-bayangi ancaman. Maka harus dilakukan sesuatu,? tegasnya. Sementara Camat Larantuka menanggapi bahwa penataan kota Larantuka dilakukan dengan penanaman bambu di lereng gunung Ilemandiri.

Peseta lainnya, Abdul Wahid dari BPBD Kabupaten Flores Timur berpendapat, kondisi seperti ini berkaitan dengan tata kota. Dikatakanya, tata kota Larantuka harus dipikirkan lebih riil, tidak hanya sekedar membangun berdasarkan juklak dan juknis.

Menurutnya, beda tempat mestinya beda juga perencanaan pembangunannya. Di Larantuka yang sering banjir, survey perencanaan pembangunan kota sebaiknya dilakukan di musim hujan agar mendapatkan gambaran yang lebih riil.

?Saat hujan bisa dilihat di mana banjir cenderung lewat. Apakah parit kota yang ada bisa menampung dan menyalurkan banjir? Ataukah justru sebaliknya kapasitas parit-parit yang dibangun di kota ini tidak mampu menampung dan menyalurkan banjir dan material lainnya dari gunung jika terjadi longsor,? ungkapnya.

Tokoh masyarakat yang juga mantan birokrat, Markus Tokan, ?mengatakan setelah banjir bandang tahun 1979, sejumlah tempat di kota Larantuka telah ditetapkan sebagai jalur bahaya. Karena itu pemerintah telah menyiapkan pemukiman pengganti di Weri bagi warga yang berada di jalur bahaya tersebut.

?Ternyata, saat ini yang kita saksikan adalah orang kembali ke tempat semula dengan alasan tanah itu milik leluhurnya. Pembangunan pemukiman alternatif itu tentu ada regulasinya. Pemerintah harus tegas dengan aturan,?ujarnya.

?Masyarakat juga aneh. Sudah tahu ada aturan, sudah tahu di situ tempat bahaya tetapi mau lawan. Perilaku seperti inilah yang mengundang bencana,?tambahnya.

Sebaran Bencana di Desa-desa

Selain kota Larantuka sebagai salah satu kawasan terpapar ancaman, diskusi ini juga memberi perhatian pada kawasan pedesaan di kabupaten Flores Timur. Sebab, selain banjir bandang Ilemandiri, sejumlah tempat di Flores Timur rawan bencana. Disebutkan, kebakaran padang dan lahan di musim kemarau yang kemudian memicu erosi dan banjir di musim hujan.

Dalam peta ancaman, kabupaten Flores Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di jalur cincin api. Di kabupaten ini ada gunung api kembar Lewotobi laki-laki dan perempuan, gunung api Lera Boleng dan gunung api Ile Boleng. Di daerah pesisir, pantai terus tergerus abrasi. Ini? ancaman laten yang sering kurang disadari dan karena itu kurang mendapat perhatian.

Mendaftar berbagai ancaman ini, Markus Tokan mengatakan, seperti perang di pulau Adonara itu juga termasuk bencana sosial. Menurutnya, orang-orang yang berperang itu bukan orang-orang tidak berpendidikan. Tetapi mengapa ada perang seperti itu di tengah masyarakat yang semakin terdidik?

Ali dari PMI Flores Timur berpendapat, perlu dilakukan pendataan menyeluruh daerah-daerah yang rawan bencana. Di pulau Solor dan Adonara terdapat daerah-daerah tertentu yang rawan bencana. Dengan pendataan dan pemetaan yang lengkap, maka dengan mudah dirancang langkah-langkah strategis pencegahan. ?Jadi tidak harus tunggu ada bencana baru semua pihak sibuk dan repot?, demikian katanya mengingatkan.

Apa yang disebutkan ini jika ditempatkan dalam kerangka perencanaan pembangunan dengan perspektif pengurangan risiko, maka pemetaan-pemetaan daerah bahaya akan membantu dalam perencanaan dan penganggaran sehingga pembangunan fisik dan non fisik di salah satu desa atau kecamatan berkontribusi langsung pada pengurangan risiko atau peredaman bahaya.

Frans Platin, Lurah Sarotari Timur mengatakan, bencana di Flores Timur ini sering terjadi dan bermacam-macam.Adagempa bumi, gunung meletus, tsunami, kebakaran, dan kejadian luar biasa. Perhatian pemerintah saat bencana tetap ada. Yang perlu adalah, ketersediaan dana emergency untuk hadapi bencana, termasuk membentuk tim respon darurat. (Melky Koli Baran)

Sumber : www.floresbangkit.com